f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
menyampaikan

Manusia Menyampaikan, Selebihnya Allah yang Mengatur

“Bu, njenengan guru ya?“ Seorang pramuniaga toko sepatu menyampaikan pertanyaannya ketika melihat pembelinya memakai seragam keki ASN.

“Bukan mbak, di kecamatan,” Jawab saya asal. Sebenernya saya seorang Penyuluh KB tapi karena malas menjelaskan saat mencoba sepatu saya jawab asal seperti itu.

“Kenapa mbak? ” Tanya saya balik.

“Itu lho bu, sekolah itu kapan ya masuknya,” Kayaknya ini emak emak darah tinggi yang capek ngajari anaknya sekolah daring.

“Ya ga tau juga mbak, lha sampeyan juga ndak pakai masker, kapan corona akan selesai kalau seperti itu. Iya sampeyan masih sehat, lha orang tua sampeyan di rumah, apa ndak kasihan sama mereka?”

“Orang tua sudah meninggal bu”

“Mertua?” lanjut saya.

“Sudah ndak ada semua bu,” saya pandangi dia yang yang sedang melihat saya mencoba sepatu.

“Lha anake sampeyan?” oceh saya sambil mencoba jenis sepatu yang berbeda.

“Anak saya ikut ayahnya bu,” kenapa jadi semacam sesi konseling psikologi begini.

“Itu yang beli di sini ya banyak yang ndak pakai masker bu, terus kalau saya ngomong sama customer itu mereka sering ndak dengar bu, karena saya pakai masker.”

“Lha sudah ndak usah menghiraukan orang lain mbak, yang penting diri kita, biarkan orang lain ndak pakai masker,” Terdengar nada saya mulai meninggi karena keasyikan saya mencoba sepatu jadi terganggu oleh pertanyaannya.

Sesaat kemudian dia berlari menghampiri customer yang baru datang, saya teruskan mencoba sepatu dan akhirnya menemukan sepatu yang cocok. Setelah itu si mbak mencarikan nomer sepatu yang sesuai dengan kaki saya.

“Ya wes mbak yang ini saja,” Kata saya sambil menyerahkan sepatu supaya dimasukkan ke kotaknya.

Baca Juga  Sebuah “Kemewahan” di Masa Pandemi Covid-19

“Iya bu ini XX ribu rupiah, saya tak pakai masker bu sekarang,” Dia langsung memakai maskernya setelah memasukkan sepatu yang saya beli ke dalam kotak.

Alhamdulillah, kata saya dalam hati. Omelan saya sambil mencoba sepatu tadi ternyata sudah masuk ke otaknya dan sudah mengubah hatinya.

…

Sebagai seorang penyuluh KB tugas saya ya memotivasi, mengajak orang untuk melakukan perubahan pola pikir dan perilaku, khususnya tentang pemakaian alat kontrasepsi. Di masa pandemi ini ditambah juga penyuluhan tentang pencegahan penyebaran covid 19.

Namun target jumlah capaian akseptor KB atau melihat orang orang yang abai pada protokol kesehatan di jalan, kadang membuat saya frustasi. Rasanya sudah melakukan banyak penyuluhan, sudah menggunakan metode yang paling menarik dan mutakhir tapi hasil kadang menghianati usaha. Walaupun ada yang tertarik tapi tidak sesuai ekspektasi. Walaupun sudah tahu sesuatu itu tidak baik, tapi belum bisa menggerakkan hati mereka untuk menghindari.

Namun siang itu, di sebuah toko sepatu, hasil nampaknya jalan sendirian tanpa usaha. Kegiatan ngomel tidak jelas tanpa persiapan, tanpa power point, tanpa video yang ciamik, malah membuat mbak pramuniaga itu berubah pola pikir dan perilakunya. Apa yang sebenarnya terjadi?

Tentang Hidayah

Tiba tiba raut wajah Syekh Ali Jaber yang sejuk melintas di ingatan. Nampak beliau sedang duduk di ruang podcast Dedy Corbuzier. Dengan tenang dan halusnya beliau berkata bahwa tugas beliau sebagai ulama hanya menyampaikan, apakah orang lain mendengarkan lalu mengikuti, itu semua semata mata hidayah dari Allah SWT, sudah bukan dalam wilayah kita untuk meributkan hasilnya.

Ya itu dia, hidayah. Ternyata selama ini saya lupa ada sebuah sebab terjadinya sesuatu yang disebut dengan hidayah. Sebuah kuasa Tuhan yang mampu mengubah pola pikir atau perilaku seseorang, yang walaupun seandainya semua manusia di dunia sudah mencoba mengingatkan, tapi bila belum ada hidayah maka sebuah perubahan pola pikir atau perilaku tidak akan terjadi.

Baca Juga  Menjaga Kesehatan Mental Saat Pandemi

Sebenarnya apalah kita bila dibandingkan dengan seorang Syekh Ali Jaber. Walaupun sepertinya ada persamaan pada apa yang selama ini kita lakukan, yaitu mengubah pola pikir dan perilaku orang lain, namun yang sangat berbeda adalah bagaimana kita bersikap setelah menyampaikan sesuatu. Beliau woles, sabar dan ikhlas menerima apapun yang terjadi, dan kita, frustasi, insomnia, nangis di pojokan manakala target-target tidak tercapai.

Yah jelas maqom kita belum ada apa apanya bila dibanding beliau. Jangankan apple to duku, lebih mirip apple to quark, bagian yang lebih kecil dari atom, proton, neutron dan elektron. Tapi setidaknya kita bisa belajar dari beliau bagaimana bersikap sesudah menyampaikan sesuatu, yaitu harus ikhlas dan meyakini bahwa semua perubahan pola pikir dan perilaku hanya terjadi atas kuasa Allah SWT lewat perantara sebuah hidayah.

Ikhlas Menyampaikan

Sebagai pendakwah, motivator, mungkin juga penulis dan juga tentunya seorang penyuluh, harus benar benar ikhlas ketika sudah selesai melaksanakan tugas menyampaikan sesuatu. Setelah itu biarkan gusti Allah yang menentukan, cahaya hidayah, ke mana dia akan dijatuhkan.

Kita ini cuma perantara saja, tugasnya hanya menyampaikan. Tidak tahu pesan kita yang mana yang akan jadi jalan turunnya hidayah. Tidak tahu model pesan seperti apa yang akan menyebakan terjadinya hidayah. Tugas yang ada hanyalah memperbesar peluang terjadinya hidayah dengan semakin sering menyampaikan pesan. Sebisa mungkin menyampaikan dengan cara yang lembut dan tidak menyakiti, karena entah di mana momen AHA! itu akan terjadi.

Ikhlas ketika masih saja menemui hal hal yang tidak sesuai harapan. Hidup pun akan lebih tenang dan damai manakala kita tidak punya ekspektansi akan seperti apa hasilnya. Dada ndak akan terasa penuh manakala melihat orang – orang yang masih melanggar protokol kesehatan. Dagu ndak akan jatuh melongo kaget ketika orang yang bulan lalu kita beri penyuluhan tentang bahaya hamil dimasa pandemi, hari ini ternyata hamil. Ikhlaskan.

Baca Juga  Jadikan Allah sebagai Harapan Hidupmu

Jadi, satu pesan buat kamu, iya kamu, pesan yang sama yang akan selalu saya sampaikan, tetap di rumah saja ya, tetap pakai masker, jauhi kerumunan dan cuci tangan pakai sabun, lakukan di setiap tempat, setiap waktu, karena pandemi ini belum akan segera berlalu.

Tugas saya sudah selesai, yaitu menyampaikan pesan, Gusti Allah nanti yang akan mengatur selebihnya.

Bagikan
Comments
  • Alhamdulillah..,
    Wulan sdh hampir sampai di titik balik. Lanjutkan terus muhasabah
    dan berserah diri setelah melakukan tugas/ perbuatan2 baik.
    Kerjakan tugasmu , dan serahkan kpd Allah SWT untuk menyelesaikan nya.
    Makin kita asah , ketrampilan berserah diri makin terasa mudah.
    Kerjakan amal yg ilmiah dan praktekkan ilmu yg amaliyah.
    Agar tetap bisa menulis bagus , harus selalu sehat. Dan menjaga/ mengamalkan kesehatan itu ada ilmunya….
    Selamat menikmati hidup mu.
    Mamma juga masih akan selalu
    berdoa :
    -mhn kesehatan lahir&bathin
    – mhn kemudahan dan petunjuk melaksanakan ibadah di jalan nya
    – dan mhn ampun utk semua dosa dan khilaf yg kita perbuat
    Semoga doa ini di ijabah Allah SWT.
    Aamiin YRA.
    Bumi damai gkb , 7-10-’20

    Oktober 7, 2020
Post a Comment