f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
organ tubuh

3M Pandemi Jadi Tiket Masuk Surga

Saat ini slogan patuhi 3M (Mencuci tangan, Memakai masker, Menjaga jarak) semakin digaungkan. Ada adegan menggosok-gosok tangan di bawah kran  air mengalir menghiasi lensa mata kita; gaya tuxedo bermasker semarak gebyar di aneka surat kabar terpampang jelas; dan tidak ketinggalan juga penawaran kiat-kiat penghalau kegalauan di tengah pandemi.

Tapi terkadang, kolase-kolase ini sering kali dianggap angin lalu saja, didengar namun tak dilakukan. Diperagakan namun tidak dilakukan, disarankan kadang tak digubris.

Padahal jika kita ikhlas melakukan ini dengan dasar keimanan; maka pundi-pundi amaliyah akan terkumpul sebagai bekal menuju alam dan kehidupan yang kekal nan abadi.

Memakai Masker untuk Melindungi

Nafas terasa sesak, dagu lembab dan berkeringat, sehingga menimbulkan jerawat. Itu sebagian alasan orang enggan memakai masker.

Meskipun pemerintah telah menggembor-gemborkan pemakaian masker sebagai salah satu protokol kesehatan saat ini baik saat ke luar rumah, maupun sedang berinteraksi. Tapi kenyataannya, masih banyak yang mengeluhkan ketidaknyamanan memakai sehelai kain penutup mulut dan hidung itu sebagai proteksi diri dari masuknya droplet/percikan bersin/batuk seseorang yang terkena virus.

Mengingat cara memakai masker yang benar adalah menutup 3 bagian organ; yaitu hidung, mulut dan dagu. Tapi juga kita masih sering melihat sebagian orang berjalan-jalan dengan bebasnya di tempat umum yang sesekali bercengkrama kurang dari satu meter sambil menikmati kopi seraya tertawa lebar tanpa masker,.

Masih tampak juga orang yang awalnya rapi memakai masker, setelah beberapa menit tak kuat menahan sesak; masker dibiarkan menurun, sehingga hanya mulut dan dagunya saja yang tertutup, sedangkan hidungya menghirup udara bebas.

Para creator dari tingkat grosiran sampai eceran mulai membuat kain berbentuk dengan berbagai model dan corak yang semenarik mungkin saat digunakan di  wajah. Sah-sah saja memakai masker motif polkadot atau warna-warni, dengan catatan  tidak mengubah fungsi sebagai alat  pelindung diri, bukan untuk assesoris leher.

Baca Juga  Yang Terdampak Pandemi Covid-19 Bisa menjadi Donatur, Why Not? (1)
Mencuci Tangan itu Bukti Keimanan

Mencuci tangan adalah hal yang sangat mudah untuk dilakukan. Tetapi jika melakukannya dengan syarat dan aturan yang berlaku rasanya memang membutuhkan kerja keras dari kita. Kran air, dispencer-dispencer mini sudah banyak berdiri di berbagai pintu masuk perkantoran maupun supermarket layaknya seorang satpam penjaga; namun terkadang hanya dipandang sebagai hiasan aquarium tak ber ikan belaka karena rasa malas yang mendominasi.

Islam sedari dulu sudah mengajarkan untuk menjaga kebersihan tangan, minimal 5 kali dalam sehari. Muslim melakukan wudhu (thaharah) sebagai langkah awal sebelum kita mendirikan shalat.

Apa ruginya kita sering mencuci tangan? Sama sekali kita tidak akan buntung. Malahan ketiban untung dengan kita sering mencuci, karena “Bersuci (thaharah) itu setengah daripada iman.” (HR. Ahmad, Muslim, dan Tirmidzi).

Tidak diragukan lagi, bersuci itu sama dengan beriman. “Sesungguhnya Allah Swt itu suci yang menyukai hal-hal yang suci, Dia Maha Bersih yang menyukai kebersihan, Dia Maha Mulia yang menyukai kemuliaan, Dia Maha Indah yang menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu.” (HR. Tirmizi).

Yakin masih ragu mencuci tangan? Allah kasih promo pahala buat para pencinta kebersihan.

Menjaga Jarak dan Mengurangi Kerumunan Bukti KecemburuanNya

Zaman milenial seperti sekarang ini, banyak oase-oase buatan  semakin menjamur. Setiap pinggir kota banyak para pemburu “otw” dengan dalih  menghilangkan kejenuhan. Tak jarang yang mengunjunginya sampai satu RT.

Apalagi akhir tahun, pasti banyak undangan-undangan pertemuan dari teman sekolah yang bertemakan melepas kerinduan perak. Semuanya untuk alasan bersilaturahmi. 

Dengan penuh kesadaran dan kesabaran, saat ini, rasa kerinduan untuk  makan bersama beralaskan daun pisang, saling melempar cerita disambut gelak tawa, mengacungkan dua jari sambil kepala dimiringkan ke kanan, kaki kiri ke depan sampai counter flash kamera menyala dalam detik ke lima; semuanya harus ditunda sejenak, kenapa?

Baca Juga  Tentang Harapan dan Hal-Hal lain yang Ingin Kita Ketahui

Mungkin saat ini Allah sedang cemburu, melihat hambanya asyik terlena dengan pernak-pernik yang ciptaanNya. Sementara yang berkunjung ke rumahNya sudat jarang; yang menyebut asmaNya sudah semakin berkurang. Sehingga Dia marah, marah karena cinta. Karena sejatinya, Dia merindukan hambaNya bermunajat dan bertafakur di mihrab rumahnya.

Perlahan Dia tarik kuota kesenangan kita di dunia. Jangan sampai kita sendiri lupa tempat kita sebenarnya, yaitu surga. Dunia hanya sebagai ladang akhirat.

Ali Radhiyallahuanhu berkata: “Kehidupan dunia bergegas menjauh, sedang akhirat kian mendekat, dan masing-masing memiliki pengikut, maka jadilah pengikut akhirat, serta janganlah engkau menjadi pengikut dunia. Karena sejatinya sekarang ini adalah waktu untuk beramal tanpa ada hisab, sedangkan esok (di akhirat) adalah waktu hisab dan bukan beramal. (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 8/155). 

***

Puzzle 3M pandemi telah tersusun. Banyak pelajaran berharga yang bisa kita ambil. Sepelik apapun masalahnya tetaplah menjadi pribadi yang bisa mengambil hikmah dari setiap keadaan.

Allah Swt berfirman, “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi, dan apa yang ada di antara keduanya tanpa hikmah” (Q.S Sad : 27).  Tidak usah kita sibuk dengan informasi-informasi yang membuat bimbang; eksekusi saja jika hal tersebut baik dan benar menurut syariat. Kembalikan setiap permasalahan pada Al-Qur’an dan sunat sebagai petunjuk kebenaran.

3M pada masa pandemi saat ini bukan hanya sebagai slogan semata, sesungguhnya Allah mengisyaratkan 3M pandemi ini sebagai jalan Menuju Maghfiroh (ampunan). Jika ampunan sudah kita dapatkan, apapun yang kita pinta akan dikabulkannya. Semoga pandemi ini segera Allah lenyapkan dari muka bumi ini. Aamiin.

Bagikan
Post a Comment