Buya Syafii dalam Catatan Perempuan Agen Perdamaian
Jumat, 27 Mei 2022 menjadi hari berduka bagi warga Muhammadiyah dan juga bangsa Indonesia. Buya Ahmad Syafii Maarif telah wafat menjelang 87 tahun usianya. Siapa yang menduga bahwa buku “Ibu Kemanusiaan : Catatan-Catatan Perempuan untuk 86 Tahun Buya Syafii Maarif” adalah kado terakhir yang bisa para perempuan berikan langsung kepada Buya.
Rahmawati Husein, Diyah Puspitarini, dan Ninin Karlina adalah tiga dari sekian perempuan yang ikut berkontribusi dalam penyusunan buku tersebut. Rahmawati Husein dikenal dengan kiprahnya dalam urusan kemanusiaan; Diyah Puspitarini adalah kader muda Muhammadiyah yang aktif dalam isu pendidikan toleransi; dan Ninin Karlina yang aktif berdakwah menebarkan nilai-nilai perdamaian. Melalui tulisan ini, penulis akan rangkumkan bagaimana ketiga perempuan agen perdamaian ini bercerita tentang Buya Syafii dari pengalaman pribadi dan beberapa sudut pandang.
Rahmawati Husein
Semenjak berdiri, laki-laki selalu memimpin Muhammadiyah. Meskipun dalam sejarah pernah ada perempuan yang menjadi anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yaitu Prof. Baroroh Baried dan Aisyiyah Hilal. Namun semenjak itu perempuan yang duduk di PP Muhammadiyah adalah ex-officio (tidak terpilih dalam tanwir maupun muktamar.
Dalam tulisannya Rahmawati mengungkapkan bahwa upaya melibatkan perempuan sebagai pimpinan Muhammadiyah secara organisatoris muncul kembali pada saat Buya Syafii menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah tahun 2000-2005. Pada tanwir-tanwir Muhammadiyah di periode Ahmad Syafii Maarif tersebut; peluang perempuan untuk duduk menjadi salah satu pimpinan Muhammadiyah sangat terbuka. Dalam Sidang Tanwir Muhammadiyah di Bali tahun 2003 membahas masalah kesetaraan gender terutama mengupayakan para tokoh wanita menjabat dalam kepengurusan PP Muhammadiyah. Namun sayangnya tidak berlangsung dengan baik saat Muktamar Muhammadiyah 2005 di Malang.
Perjumpaan Rahmawati dengan Buya menjadi lebih banyak saat menjabat sebagai sekretaris umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah. Menurut Rahmawati, Syafii Maarif cukup egaliter dalam mendorong perempuan untuk menjadi pemimpin. Hal itu lakukan Buya saat dalam sidang tanwir Muhammadiyah di Jakarta, Buya menunjuk Rahmawati sebagai ketua komisi rekomendasi kebijakan. Walaupun perempuan dan masih muda, Buya memintanya memimpin sidang yang pesertanya bapak-bapak dari berbagai propinsi.
Rekayasa seperti yang Buya Syafii lakukan ini sangat penting untuk mmberikan ruang kepada perempuan di Muhammadiyah. Sebab jika tidak ada upaya afirmasi terhadap keterlibatan peremuan, Muhammadiyah akan mundur karena tidak merespon problem perempuan secara luas.
Diyah Puspitarini
Di bawah kepemimpinan Diyah Puspitarini, upaya penciptaan perdamaian dunia tertuang dalam bentuk Diplomatic Course, serta branding program Nasyiatul Aisyiyah yaitu Keluarga Muda Tangguh Nasyiatul Aisyiyah (KMTNA) yang memiliki 10 pilar. Di mana salah satu pilarnya adalah anti kekerasan dan perdamaian, salah satu nilai esensi dari toleransi yang harus ada dalam keluarga muda saat ini.
Menurutnya Syafii Maarif perempuan cocok menjadi agen perdamaian dan agen toleransi, sebab perempuan muda memiliki potensi dan kemampuan secara psikologis lebih mudah untuk menjadi penengah dan pemersatu; serta dengan sifat keibuan maka perempuan mampu untuk mencegah terjadinya perbuatan intoleran ataupun konflik. Syafii Maarif yakin kader-kader Nasyiah mampu melakukannya.
United Nation of Development Program (UNDP) menyatakan bahwa perempuan dapat membawa pemahaman baru tentang konflik. Dengan hal tersebut, muncullah wawasan tentang penyebab dan solusi yang mungkin dilakukan. Perempuan sebagai penyintas konflik, sebagai saksi kekerasan, sebagai mediator untuk mengakhiri perselisihan yang berkepanjangan, sebagai penjaga adat istiadat sosial kemasyarakatan dan pemberi nafkah bagi keluarganya ketika konflik sedang berkecamuk, semuanya memiliki kontribusi yang sangat besar untuk memutus lingkaran setan konflik.
Oleh karena itu, peran perempuan sebagai agen toleransi sekaligus sebagai agen perdamaian akan lebih efektif dan melakukan pencegahan secara preventif dengan lebih baik. Harapan yang besar dari Syafii Maarif, agar perempuan tidak hanya puas sebagai pelengkap. Namun sudah waktunya perempuan berada dalam posisi strategis yang akan membantu persoalan sesama perempuan itu sendiri dan juga berkontribusi yang lebih besar untuk bangsa.
Diyah menyimpulkan bahwa jalan toleransi yang Buya pilih adalah untuk menyelamatkan bangsa ini di masa yang akan datang. Banyak hujatan dan makian, namun beliau tetap teguh dengan keyakinan, sikap dan pilihannya.
Ninin Karlina
Ninin Karlina muda mendengar nama Buya Syafii itu identik dengan orang yang liberal, sekuler, juga pengusung paham pluralisme. Bagi Ninin pemikiran itu merusak citra Islam dan menyesatkan. Maka ia pun membenci Buya padahal belum pernah bertemu dan belum paham apa itu liberal, sekuler, dan pluralis. Ninin terjebak dalam pola keberagaman yang statistik, jumud, kaku, keras dan cenderung memandang sesuatu secara kuantitatif atau kurang peduli kualitas.
Pandangannya mulai berubah sejak ia aktif sebagai relawan Muhammadiyah dan mengikuti pelatihan-pelatihan Peace Generation. Ia mulai mengurangi prasangka-prasangka buruk yang selama ini tumbuh subur dalam dirinya. Kemudian ketika bergabung di Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial (PSBPS) UMS, segala hal yang berhubungan dengan Syafii Maarif menjadi dominan dalam kesehariannya. Sehingga Ninin memutuskan untuk hijrah dari pandangan yang esklusif menjadi inklusif.
Menurut Ninin, Syafii Maarif konsisten menebar kebaikan, menyuarakan keadilan, kesetaraan dan kebhinekaan. Syafii Maarif adalah sholihun linafsi wa sholihun lighoirihi (baik untuk diri sendiri dan baik untuk orang lain). Beragama yang Buya contohkan adalah tidak dipenuhi prasangka buruk, bukan kekerasan, bukan saling menyalahkan dan mengkafirkan.
Referensi
Sulistya, Prima (eds). 2021. Ibu Kemanusiaan : Catatan-Catatan Perempuan untuk 86 Tahun Buya Syafii Maarif . Yogyakarta : Buku Langgar.

Ibu rumah tangga, pegiat literasi digital untuk kaum muda, Pemimpin Redaksi RahmaID
@monaatalina
