Tembok yang Tak Perlu Ditembus
Biao Xiang lulus S2 dari Universitas Beijing China. Ketika ada kesempatan untuk beasiswa S3 di luar negeri, ia kemudian ikut mendaftarkan diri beasiswa di kampus Oxford, jurusan Antropologi. Alih-alih kemudian diterima, ia justru gagal mendapatkan beasiswa tersebut. Alasannya tentu saja sama dengan mahasiswa-mahasiswi negara-negara yang tidak berbahasa Inggris, IELTS-nya tidak memenuhi syarat untuk masuk kampus dunia tersebut.
Namun kegagalan itu ternyata hanya sementara. Ada seorang profesor antropologi yang tahu kiprah intelektualnya di China. Ia juga sudah menulis beberapa karya dalam bahasa China. Aplikasi dokumennya kemudian dipegang oleh Profesor yang ahli china tersebut. Melalui skema proyek riset lain, akhirnya ia diterima di kampus Oxford. Di sini, Ia merasa beruntung karena ada seorang profesor yang telah mengenalnya melalui karya yang ditulis.
Sayangnya, Inggris bukanlah China, di mana ia bisa menggunakan bahasa ibunya dalam bicara dan menulis. Tahun pertama perkuliahan, Biao benar-benar mengalami kesulitan menangkap obrolan dan perkuliahan dosen. Bahkan, saat ingin memasuki fase kandidat PhD untuk turun lapangan, salah seorang tim seleksi bilang bahwasanya tulisan bahasa inggrisnya sangat buruk dan memalukan untuk level PhD. Ironisnya, ketika ada profesor yang mengkritik tulisan Biao tersebut, Ia justru tidak tahu kata-kata yang dikritik tersebut. Karena Ia memang tidak mengerti. Ia bahkan perlu bertanya kepada teman kelasnya apa maksud dari kata dosen tersebut.
Berhari-hari Ia merenung dan kemudian merasa tidak enak dengan Profesor yang merekomendasikan dirinya untuk diterima di S3 Oxford tersebut. Bahkan, ia berencana untuk pulang kampung saja ke China. Namun, hasil evaluasi tim PhD menyatakan Ia tetap bisa melaju untuk turun lapangan berikutnya. Di sini titik baliknya. Ia belajar menulis bahasa Inggris dengan sungguh-sungguh. Dalam memilih lapangan riset S3, Ia justru bukan memilih China, melainkan Sidney, Australia. Lagi-lagi, informan yang dipilih bukan orang China Diaspora, melainkan India. Pilihan fieldwork yang berbeda tidak hanya menantang dirinya, melainkan memperluas horison pengetahuannya.
Hasil riset S3-nya tidak hanya memberikan kontribusi signifikan di bidang Antropologi dan Diaspora, melainkan juga studi migrasi dan buruh. Risetnya dianggap sebagai terobosan interdisipliner. Setelah lulus, Ia tidak hanya diminta mengajar di Oxford, melainkan juga memimpin proyek riset mengenai migrasi di jurusan kampusnya tersebut. Interaksinya dengan beberapa sarjana saat Ia jadi research fellowship di ARI NUS memperkuat pengetahuannya mengenai migrasi lebih jauh.
Perjalanan kariernya cukup cemerlang. Sejumlah riset dan publikasinya mendapatkan penghargaan. Saat ini ia menjadi direktur Max Planck Institute, semacam BRIN-nya Jerman. Saat china menjadi kekuatan dunia, Ia menjadi semacam suara intelektual China yang didengarkan oleh publik internasional sekaligus juga publik China sendiri. Ya, keberhasilan Biao Xiang adalah tentang ketekunan sekaligus keberanian untuk keluar dari studi masyarakatnya sendiri. Tidak hanya itu, keberhasilan beliau juga adalah berkat bantuan profesornya yang percaya bahwasanya kemampuan bahasa Inggris di atas kertas bukanlah satu-satunya kemampuan yang membuatnya tidak mendapatkan tempat di kampus prestisius Eropa tersebut.
Mengamati Biao Xiang adalah merefleksikan tentang intelektual Indonesia. Tidak sedikit, banyak dari intelektual Indonesia memiliki karya-karya yang bagus dan sangat tekun menulis, meriset, dan mempublikasikan karya. Namun, standar kemampuan bahasa Inggris yang ditetapkan dan tidak ada kompensasi yang diberikan oleh profesor luar negeri membuatnya hanya berkembang di Indonesia dan tidak bisa melampaui sekat bahasa Indonesia. Sementara itu, mereka yang mendapatkan beasiswa di kampus terbaik dan didanai oleh negara melalui skema riset dan pendanaan karena kemampuan bahasa inggrisnya mencukupi, hasil risetnya hanya menjadi prasyarat untuk mendapatkan PhD. Setelah itu? Kebanyakan mereka harus takluk terhadap nasib, mencari pekerjaan yang seringkali tidak mengandalkan hasil riset dan menulisnya.
Dalam konteks Indonesia, sebanyak apapun karya dan potensial sebagai akademisi, standar bahasa Inggris adalah tembok tinggi yang harus dilewati. Tidak ada yang lain. Saya sendiri membutuhkan waktu 6 tahun latihan IELTS agar bisa dianggap layak mendaftarkan diri di kampus-kampus luar negeri. Dalam kurun waktu tersebut, saya sudah 8 kali tes IELTS. Hal tersebut benar-benar menguras energi dan uang.
Karena itu, jika Rahmania yang telah memiliki kemampuan bahasa Inggris di atas rata-rata dan mendapatkan kesempatan belajar di luar negeri dengan skema LPDP, maksimalkanlah dengan berkarya. Itu bagian dari privilege. Sebab, ada banyak intelektual/akademisi Indonesia yang memiliki karya yang lebih bagus dan banyak berkarya tapi mentok karena persoalan standar kemampuan IELTS semacam ini. Perihal ini yang menjadi bahan refleksi untuk saya pribadi, saat sampai menjadi bagian dari kelas privilege tersebut.

Peneliti PMB-BRIN dan Mahasiswa S3 Kajian Melayu, National University of Singapore
IG w. akmaliah
