f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
saat itu tiba

Bila Saat itu Tiba

Aku baru saja berjalan menuju lobi saat mataku menangkap sebuah pemandangan yang sempat mencuri hati. Seolah ada sesuatu yang bersemayam di kerongkonganku sehingga membuatku tak mampu berkata-kata. Ini terjadi ketika secara tidak sengaja mendapati seorang ibu yang baru saja meninggal dan belum sempat masuk ke ruang IGD di sebuah RS terdekat.

Tak perlu waktu lama, aku dapat info dari petugas kesehatan tentang kejadian yang barusan kulihat. Cerita tentang seorang ibu yang tengah menghadapi sakratulmaut tapi sayang anak-anaknya tak satu pun mengetahui. Dibawanya sang ibu dengan terburu-buru menuju RS dan beberapa detik menjelang masuk pintu, sang ibu pun menghembuskan napas terakhirnya.

Sungguh menyedihkan. Ketidaktahuan anak-anaknya menyebabkan jalan cerita menjadi lebih mengharu biru hingga berujung duka mendalam. Jika mereka tahu dengan tanda-tanda khas bahwa ibu akan meninggalkan mereka, tentu tak perlu membawanya ke RS mengingat sudah cukup lama sang ibu sakit. Bisa jadi karena panik lalu berusaha dengan cara yang mereka bisa. Atau kemungkinan mereka kurang tahu dan benar-benar tidak pernah tahu tentang tanda-tanda khas tersebut.

Sebelum ini pernah ada pula kejadian yang hampir sama. Seorang ibu usia sepuh yang sakit cukup lama di rumah dan saat menghadapi maut hanya ditemani putri tunggalnya. Di detik-detik genting, sang anak tidak mau mengundang tetangga ataupun kerabat untuk menemani. Padahal para tetangga selalu membuka hati siap membantu. Dia hadapi sendiri hingga hembusan nafas terakhir ibunya. Ini juga karena ketidaktahuan sang putri yang maaf, tampaknya kurang tanggap dalam hal ini. Cerita polos saat-saat menjelang tiada yang mengiris hati itu pun meluncur dari bibirnya tanpa beban.

Satu lagi cerita dari teman. Dia seorang ibu yang di lingkungannya sering dimintai tolong untuk menuntun seseorang yang tengah menghadapi maut terutama yang sudah sakit menahun. Dia bercerita bahwa setiap hamba Allah yang mengalami detik-detik tersebut selalu punya kisah tersendiri dan sudah pasti kisahnya tak selalu sama. Namun yang patut menjadi catatan bagi keluarga adalah di saat seperti itu sangat dibutuhkan pendampingan, khususnya keluarga atau kerabat.

Baca Juga  Tembok yang Tak Perlu Ditembus

Cerita di atas hanyalah sedikit dari sekian cerita yang sering kita jumpai  sehari-hari. Tak ada yang bisa disalahkan, jalan cerita kadang harus seperti itu atau sebaliknya. Seakan sudah ada dalam catatan buku takdir kita masing-masing apa yang akan terjadi dan apa yang akan kita alami. Bila kita sudah menyadari dan menginginkan berakhir dalam kebaikan, dari sekaranglah kita harus mulai mempersiapkan semuanya.

Tak seorang pun tahu kapan maut menjemput. Bagi yang masih hidup juga tidak tahu kapan orang-orang yang kita sayangi akan pergi. Namun akan merasa lebih ikhlas jika kita mampu melepas kepergian orang-orang tercinta dengan mendampingi di detik-detik terakhirnya. Memang berharap yang baik-baik itu sebuah keharusan, tapi tak semua dari kita punya kesempatan untuk itu dikarenakan banyak hal yang melatarbelakangi.

Mungkin akan jauh lebih baik bila orang-orang terdekat tahu tanda-tandanya sehingga ada persiapan secara mental. Ini tentu saja hanya berlaku bagi orang-orang yang sudah cukup lama sakit dan harapan tipis untuk sembuh. Agar tak terjadi seperti cerita di atas yang membuat hati ini ikut merintih sedih lantaran ketidaktahuan anak-anaknya.

Tidak semua yang meninggal selalu diawali dengan menderita sakit. Meninggalkan dunia fana ini juga tidak harus yang berusia lanjut. Bila sudah kehendak-Nya, badan sehat pun bisa dipanggil untuk selamanya berapapun usianya. Bagaimana kita bisa tahu dan siap bila ini adalah mutlak rahasia Sang Pemberi Kehidupan? Memang tidak ada yang tahu. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita mengambil pelajaran dari segala peristiwa yang pernah terjadi.

Paling tidak sudah ada kesiapan diri jika sewaktu-waktu hal itu terjadi pada kita. Mulai dari meminimalisir hal-hal yang membuat usia kita merambat sia-sia hingga sebisa mungkin mengisi sisa usia yang ada dengan sesuatu yang lebih bermakna. Misalnya, makin mendekat kepada Sang Pencipta disertai penghambaan diri sepenuh hati dan menjalankan segala perintah serta menjauhi segala larangan-Nya. Tak lupa selalu mensyukuri apa pun yang kita peroleh baik suka maupun duka dan menjalani hidup ini dengan hal-hal positif lainnya.

Baca Juga  Urusan Rampas-Merampas Hak Orang Lain, Kitalah Juaranya

Apakah kita sudah siap jika dipanggil oleh-Nya sewaktu-waktu? Apakah kita sudah punya bekal dalam perjalanan menuju kepada-Nya? Sudahkah anak cucu kita bekali ilmu dalam menghadapi situasi yang sangat menggetarkan jiwa ini? Saya yakin semua akan terjawab jika kita mau belajar banyak dari para ulama, guru dan para cerdik pandai. Juga rajin membaca berbagai cabang ilmu yang mampu menambah khazanah pengetahuan kita dan mampu mempertebal iman yang sudah ada.

Di zaman serba canggih ini segala kemudahan ada di depan mata. Mengapa tidak kita manfaatkan? Mau memperdalam ilmu agama, kita tinggal memilih mana yang harus kita pelajari. Baik dengan cara digital maupun langsung di lapangan, kita tahu kesempatan itu terbuka lebar dan sangat luas. Berbagai teknologi kekinian juga terbukti mampu mengantarkan kita dari yang sama sekali tak tahu apa-apa menjadi tahu.

Jika kita mau, tak terhitung yang mampu kita serap dari keluasan ilmu yang nyaris tak terbatas di zaman sekarang ini. Ilmu tentang apa saja khususnya tentang tuntunan hidup di dunia hingga tuntunan hidup di alam sana kelak. Meskipun terbentang luas tak terbatas bukan berarti kita belajar asal belajar ilmu dengan sembarangan dan serampangan. Kita tetap butuh orang-orang yang mampu mengantarkan, mendampingi dan mengarahkan kita agar tak salah jalan.

Ketika kita berkesempatan membersamai orang-orang tercinta saat mereka menuju senja hingga renta, kita harus punya ilmu di situasi ini. Walaupun terlihat sepele, tapi ketika kita sudah memegang ilmunya, akan lahir rasa ikhlas saat melepas orang yang kita cintai menuju ke haribaan-Nya. Rasa ikhlas yang ada, mengantarkan kita pada totalitas kepasrahan sehingga hanya doa-doa kebaikan yang kita langitkan. Berharap pengampunan dari segala dosa dan mendapat tempat yang mulia serta memperoleh cahaya di alam kuburnya.

Baca Juga  Warung Kopi, Gadis Penyendiri, dan Luka Bully

Semua yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Bagi insan manusia kematian itu sendiri sudah pasti. Masalah kapan, di mana dengan cara apa, hanya Dia yang tahu. Kita wajib mengimani dan selalu berharap kelak bila sampai di titik ini dalam keadaan husnul khatimah. Bagi kaum muslim, kala manusia mati putuslah semua amalnya kecuali tiga perkara. Nah, agar pahala terus mengalir meski kita telah tiada, kita dianjurkan memperbanyak amal jariyah dan membagikan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Satu lagi yang tak kalah penting dan harus kita persiapkan sejak awal yaitu anak saleh dan salehah. Merekalah yang diharapkan senantiasa mendoakan kita bila saat itu tiba. Saat kita telah tiada.

Bagikan
Post a Comment