Lima Belas Pesan Ulama bagi Para Pencari Ilmu
Suatu ketika dalam sebuah dialog antara Mahasiswa dan Dosen seusai wisuda S3-nya, sang guru bertanya padanya,
“ Duhai muridku, belum satu tahun kamu menyelesaikan S-2, kamu sudah melanjutkan S-3, apa motivasimu ?”. Sang Murid yang sekarang sering diundang sebagai motivator itu menjawab, “ Untuk menaikkan tarif, Guru”. Sang gurupun tertawa terbahak-bahak. “ Saya suka jawabanmu, Nak. Jawaban yang lugas, jujur, apa adanya dan tanpa tedeng aling-aling”. Sang Gurupun melanjutkan ucapannya,” Jaman sekarang memang banyak orang kuliah hanya untuk mendapat gelar, sebarek ijazah dan sertifikat sementara ilmunya di nomor sekiankan”. Malamnya Si Mahasiswa tidak dapat tidur merenungkan kata-kata gurunya”.
Berilmu pengetahuan di era serba digital ibarat memegang sebilah pisau bermata dua. Di satu pihak dapat menggiring kita dalam hakikat dan menjauhkannya dari cahaya ilmu itu sendiri. Dalam sebuah maqalah Ulama disebutkan : “ Al Ilmu fi Ashuduur, La Fi Syuthuur”. Tempat ilmu itu ada dalam dada, bukan dalam lembaran-lembaran kertas”. Dari maqalah ( kata mutiara) ini dapat kita ambil pelajaran bahwa para ulama mengingatkan pada kita di manakah sesungguhnya letak ilmu.
***
Dalam sebuah kitab yang berjudul, Hilyah Thalibil Ilmi ( Perhiasan Para Penuntut Ilmu ), yang ditulis oleh Bakr Bin Abdullah Abuzaid, disebutkan 15 adab bagi seorang pencari ilmu, antara lain :
- Ilmu sebagai Ibadah. Hal ini merupakan mindset dasar yang hendaknya dimiliki oleh penuntut ilmu dengan menata kemurnian niat di awalnya yang akan terejawantahkan dalam perilakunya dalam berpengetahuan. Ulama dalam sebuah maqalah menyampaikan :” Ilmu adalah shalat rahasia dan ibadahnya hati”.
- Ikutilah Jalan Para Salafus Shalih. Tidakkah kita pernah merenungkan bagaimana buku-buku yang pernah ditulis ulama berabad-abad lampau masih kita baca hari ini, kita ambil saripati dan kita nikmati cahaya terangnya dari gelapnya pengetahuan kita? Hal itu karena mereka menempuh jalan sebagaimana apa yang berikan oleh guru-guru mereka sebelumnya. Yaitu orang-orang yang menempuh jalan Rasulullah saw dan para sahabat setelahnya.
- Senantiasa Takut Kepada Allah. Seorang penuntut ilmu hendaklah menghiasi diri dengan rasa takut pada Allah, dengan menjaga syiar-syiar islam, menampakkan dan menyebarluaskannya dengan mengamalkannya. Oleh karena itu Imam Ahmad meriwayatka sebuah hadits dari Rasulullah saw:” Pangkal Ilmu adalah rasa takut pada Allah”
- Selalu Menjaga Sikap Muraqabah. Berhias diri dengan selalu menjaga sifat Muraqabah, yaitu sikap dan kesadaran akan pengawasan Allah baik dalam keadaan sendiri maupun di hadapan orang banyak.
- Rendah hati dan tidak sombong. Berhiaslah dengan adab-adab pribadi yaitu sikap ‘Iffah ( menjaga kesucian diri ), santun, sabar, tawadhu’ kepada kebenaran, tenang, berwibawa, sopan, sabar menanggung kehinaan belajar demi memuliakan ilmu serta patuh kepada kebenaran.
- Qanaah dan Zuhud. Menghiasi diri dengan sikap qanaah dan zuhud. Hakikat zuhud adalah menjauhkan diri dari yang haram dan menghindari hal-hal yang mendekatkan kepadanya dengan cara menjauhi syubhat dan keinginan atas milik orang lain.
- Berhias dengan keindahan ilmu. Berhiaslah dengan keindahan ilmu yaitu sikap dan perilaku baik yang meliputi ketenangan, kewibawaan, kekhusyukan, ketawadhuan serta konsistensi pada jalan kebenaran dengan membangun keadaan lahir maupun batin serta meninggalkan hal-hal yang bertentangan dengannya. Dari Ibnu Sirin RA , ia berkata :” Para sahabat dahulu mempelajari adab perilaku sebagaimana mereka mempelajari ilmu”.
- Berhiaslah dengan Kesopanan. Berhias dengan kesopanan serta semua sifat, ucapan, dan tindakan yang bisa mengantarkan kepadanya, yaitu : akhlak mulia, wajah berseri, tindakan menyebarkan salam, sikap lapang dada terhadap oranglain, sikap menghargai diri sendiri tanpa kesombongan, keangkuhan, semangat tanpa fanatisme, keantusiasan membela kebenaran tanpa kesombongan jahiliyah.
- Berjiwa Ksatria. Milikilah sifat ksatria seperti berani, teguh dalam kebenaran, akhlak mulia dan sedia berkorban di jalan kebajikan sehingga semua orang tak berharap mengalahkan.
- Menjauhi Kemewahan. Jangan memanjakan diri dengan kesenangan dan kemewahan karena “ Kehidupan yang sederhana itu sebagian dari iman” . Kemewahan dan kesenangan menjadikan kita cengeng, melemahkan otot dan mengikat kita dengan benang-benang ilusi sehingga seseorang tidak bersungguh-sungguh dalam meraih cita-cita.
- Menghindari forum yang sia-sia. Janganlah sampai kita terlibat di sebuah majelis di mana tempat orang-orang melakukan kemunkaran dan melanggar batas kesopanan seraya bersikap masa bodoh mengenai hal seperti itu.
- Menghindari Kekacauan.Sedapat mungkin jauhilah diri dari keramaian dan kekacauan karena kesalahan banyak terjadi dalam kekacauan. Hal ini juga bertentangan dengan adab dalam menuntut ilmu.
- Berhiaslah dengan kelemahlembutan.Hendaklah selalu berlemah lembut dalam bertutur, menghindari kata-kata yang kasar. Karena tutur kata yang lembut dapat melunakkan jiwa yang liar.
- Perhatian. Berhiaslah dengan perhatian karena barang siapa memperhatikan niscaya dia mengetahui. Ada sebuah ungkapan :” Perhatikan, niscaya engkau tahu”.
- Tekun dan Teliti. Milikilah sifat tekun dan teliti terutama dalam menghadapi musibah dan tugas. Di antaranya adalah tekun dan sabar dalam belajar dan menjalani waktu demi waktu untuk belajar kepada guru. “ Man Jadda Wa Jada” siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.
***
Siapa saja bisa memiliki pengetahuan yang luas dan skill yang banyak. Namun hanya beberapa di antara mereka yang teguh dalam kebenaran dan meneladani para Salafus Salih sehingga dalam kehidupan nyata ini akan sangat tampak , orang-orang yang berilmu dan beriman ini laksana lentera yang memendarkan cahaya untuk menerangi kegelapan akal dan hati.***
Pengajar Pendidikan Agama Islam di Mojokerto
