f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ayah

Ayah, Boleh Minta Gendong?

Teringat kasus yang beberapa waktu viral di media sosial. Isabella Guzman, remaja putri yang baru berumur 18 tahun, tega membunuh ibu kandungnya dengan 151 kali tikaman. Netizen dibuat heboh lantaran ia masih sempat menebarkan senyum, walaupun sedang berada di pengadilan. Hal ini jelas kontradiktif. Mengingat mayoritas ekspresi orang, cenderung datar dan kaku ketika berada di persidangan dirinya. Mengapa demikian? Mungkin waktu kecil, ia jarang “digendong” oleh ayahnya.

Banyak ayah yang masih menyepelekan aktivitas menggendong. Sepulang dari bekerja, jarang dari mereka bersegera dan menantikan hal ini. “Ayah lagi capek, sudah sana sama ibumu saja”. Ada juga yang ekstrem, “kamu nda tau ayahmu ini capek banget apa?”. Jahat, mungkin kata tersebut cukup mewakili jeritan hati sang anak dari kalimat sebelumnya.

Tahukah engkau wahai ayah, anakmu hanya minta waktu ekslusifmu sejenak saja. Tegakah kau membiarkan buah hatimu kecewa? Yakinlah, bila kau turuti permintaanya, paling hanya butuh waktu sebentar. Setelah ia puas, seketika itu pula dia akan kembali ke dunianya.

Apa yang ada di benakmu para ayah? Ketika penolakan yang melukai jiwa yang masih suci itu, kau anggap biasa dan berlalu begitu saja. Sadarkah engkau telah menyia-nyiakan waktu yang takkan terulang. Masa yang mana permintaan itu, hanya akan terjadi pada saat masa tumbuh kembang terbaik mereka. Dan ingat, waktu itu akan berlalu sekelebatan saja bila tidak kau manfaatkan dengan paripurna.

Ayah, ia hanya mau merasakan “wangimu”. Tidak minta dibawakan oleh-oleh, bahkan mainan idamannya. Ia hanya ingin dipeluk dan digendong. Karena seharian, engkau tinggalkan dia untuk mencari nafkah. Lugunya mereka, hingga tak pernah memikirkan betapa kerasnya kau membanting tulang. Tapi itulah anak-anak. Bukankah engkau pernah melewati fase demikian?

Baca Juga  Menggali Makna dalam Takdir

Ayah, kami tahu engkau lelah. Namun, betapa bahagianya kami bila kau datang, lalu menghampiri dengan hangatnya pelukmu. Iya, cukup pelukmu saja, tak usah yang lain. Namun bila pelukmu ditambah buah tangan kesukaan, lengkap sudah “kebahagian” versi kami.

***

Di tengah kebutuhan hidup yang semakin tinggi, orang tua pasti akan berjuang sekuat tenaga memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun bukan alasan tepat mengesampingkan si buah hati. Entah karena pernah punya memori buruk tentang sosok ayah. Atau mungkin saja orang tua dari para ayah tersebut, tidak pernah memberikan gendongan yang diinginkan kala itu.

Sebagian ayah masih menganggap praktik mudah namun sarat makna “mendalam” ini bagai buang-buang waktu saja. Alasannya sederhana, ayah telah seharian bekerja, ingin membahagiakan keluarga dan kehidupan yang layak. Hingga ketika pulang, butuh langsung istirahat. Tetapi, untuk apa harta berlimpah, sementara tidak ada kebahagian dan kehangatan di rumah. Apa guna semua kau fasilitasi, sedangkan anggota keluarga sibuk dengan dunianya sendiri-sendiri.

Padahal, para ilmuwan telah banyak melakukan penelitian terkait kecerdasan emosional anak dan hubungannya dengan orang tua. Hingga umur dua tahun, inilah masa krusial membangun kecerdasan emosional anak. Hal yang berkaitan dengan ini di antaranya: hubungan sosial anak, nilai akademis, serta kesehatan fisik dan mental jangka panjangnya. Tentunya kita tidak ingin merusak hal tersebut hanya karena keegoisan orang tua.

***

Banyak dampak positif bila para ayah membiasakan hal tersebut. Pertama, keduanya (baca: ayah dan anak) akan merasakan kedekatan dan ikatan emosional yang kuat. Bahkan sebagian ayah yang mempraktikkan hal tersebut, merasa lebih baik dan hilang penatnya, selepas menggendong anak sepulang bekerja. Peliknya persoalan di kantor bisa hilang, setelah melihat raut lugu anak-anaknya.

Baca Juga  Buya dan Ruang Hampa Pancasila

Kedua, inilah sambutan dan penghargaan sederhana yang dapat diberikan si anak. Mereka belum mengerti cara berterima kasih yang ”pantas” atas jerih payahmu. Tatkala ibu tidak dapat menyambut kedatangan ayah, karena sibuk mengurus rumah tangga. Justru sang anaklah yang mengambil posisi tersebut. Betapa hebatnya mereka bukan?

Ketiga, aroma khas tubuh anakmu akan menjadi tameng dan pengingat. Kenapa? Di tengah rutinitas bekerja dan kehidupan, sosok ayah akan selalu bertemu dengan lawan jenis. Bahkan ada fenomena yang mana beberapa perempuan–tidak semuanya–, suka dengan figur pria yang telah berumah tangga dan memiliki anak. Mereka menganggap, tipe lelaki seperti ini lebih siap untuk menjadi “imam” mereka, ketimbang pria yang masih lajang.

Keempat, membangun karakter dan kepercayaan diri anak semenjak dini. Rangkaian kegiatan tersebut akan menanamkan sebuah role model yang baik dari orang tua. Gendongan dan dekapan hangat ayah mengajarkan bahwa: sudah sepantasnya seluruh anggota keluarga saling menjaga, ayah menjadi pendengar yang baik atas kegalauan hati anaknya, serta apabila si anak menjadi orang tua nanti, mereka akan lebih pandai menempatkan diri di depan anak-anaknya.

Kelima, kontemplasi dan kesempatan memperbaiki diri. Bagi ayah yang dahulu tidak memiliki hubungan baik saat kecil dengan orang tua, inilah saat yang tepat untuk memulainya. Hubungan baik orang tua dan anak tidak muncul begitu saja, namun diciptakan. Kesalahan mereka di masa lalu dalam mendidik, tidak serta merta menjadikan ayah berbuat hal yang sama layaknya perploncoan.

***

Teruntuk ayah atau calon ayah, bila sudah tercerahkan dengan hal di atas, segeralah praktikkan. Setiba di rumah, ketika si buah hati menghampiri, cobalah untuk merendahkan posisi badan, arahkan pandangan sejajar dengan matanya. Lalu dekap dan tanyakan apa kegiatannya. Sembari mendekap dan bertanya, angkat dan gendong dia. Dengarkan dan komentari seperlunya saja. Biarkan dia menceritakan kegiatannya selama engkau tinggal mencari rezeki.

Baca Juga  Memperjuangkan Keadilan Gender sebagai Korban Kekerasan Berbasis Gender

Mudah bukan? Tak sesulit bayangan kita. Dengan menyejajarkan pandangan, kita telah menempatkan diri tidak lebih superior dari si anak. Kita telah memosisikan diri sebagai sahabatnya kala itu. Saat engkau dekap anakmu, resapi dan maknai. Ingatkan dirimu, bahwa momen ini takkan kau dapati lagi, ketika ia beranjak dewasa dan punya sahabat karib di sekolah nanti.

Perkataan yang keluar dari lisan seorang anak kecil, adalah ungkapan paling jujur. Itu keluar dari hatinya. Tidak ada embel-embel, apalagi kepentingan tertentu. Anggukanmu saja sudah lebih dari cukup dan jawab atas celotehnya. Tak lupa, lakukan ini semua dengan tulus dan tanpa beban. Saat engkau telah terbiasa, ini akan menjadi candu yang akan kau rindui selamanya.

Pada akhirnya aktivitas dan rutinitas menggendong akan kembali kepada diri masing-masing. Nabi shallallahu a’laihi wasallam bersabda: “… dan anak adalah hasil jerih payah orang tua.” (hadis riwayat Abu Daud no. 3528). Nilai positif yang diajarkan dan dicontohkan sedini mungkin, akan dinikmati hasilnya kelak mereka dewasa. Karena pendidikan karakter itu sesungguhnya bermula dari rumah, bukan tanggungjawab guru semata di sekolah.

Kepada para ayah, bapak, papa, abi, sudahkah kau menggendong anakmu selepas bekerja hari ini?

Bagikan
Post tags:
Post a Comment