f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
adil dalam pikiran

Belajar Menjadi Orang Awam

Bukankah setiap orang mempunyai kewajiban yang sama untuk saling menyampaikan kebenaran? Pernyataan ini kiranya tidak keliru. Akan tetapi, hendaklah setiap orang juga harus memahami terhadap kemampuan dan posisi dirinya. Apakah sebagai ulama, negarawan, ekonom, politisi, atau sebagai orang awam ? Sebab, masing-masing memiliki tugas, kewajiban dan kewenangan yang berbeda.

Istilah awam dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai umum, kebanyakan, biasa dan tidak istimewa. Sedangkan pengertian orang awam adalah orang yang bukan ahli dalam suatu bidang ilmu, orang kebanyakan, orang biasa (baca: bukan ahli).

Kiranya banyak sekali orang berbicara mengenai hukum, ekonomi, politik hingga soal tafsir al-Quran, seolah-olah ahli dalam bidang tersebut. Sehingga orang awam harus tahu filosofi Jawa yang terkenal : “ngono ya ngono ning aja ngono”. Begitu ya begitu, tetapi mbok ya tahu batas. Filosofi ini sangat penting diingat oleh kaum awam, apalagi di zaman ketika kecenderungan takfir berkecambah saat ini. Atau meminjam istilah al-Ghazali Jahilun la yadri, wa la yadri annahu la yadri yang artinya orang awam yang tidak sadar bahwa dirinya awam.

Lima Langkah Menjadi Orang Awam yang Baik

Sehingga pelajaran pertama untuk menjadi orang awam adalah sadar bahwa dirinya awam; baru masuk ke pelajaran kedua yaitu belajar menjadi orang awam yang baik. Al-Ghazali menjelaskan ada lima langkah untuk menjadi awam yang baik, di antaranya: Taqdis (menyucikan diri), seorang Muslim dalam agama pasrahkan segala sesuatu pada Allah saja. Al-’iman wa tasdiq (beriman dan percaya), seorang Muslim percaya dan membenarkan, sebagaimana ketika kita sakit dan pergi ke dokter maka kita harus manut dengan anjuran dan resep dokter tanpa perlu berdebat dan mencari dalil jika ingin sembuh dari penyakitnya.

Baca Juga  Pendidikan dalam Sudut Pandang Ibnu Khaldun

Al-i’tiraf bi al-Ajri (mengakui kelemahan), seorang Muslim sadari kelemahan diri bahwa ternyata saya tidak ahli dalam masalah ini, jujurlah terhadap diri bahwa bukan ahlinya dalam bidang tersebut. Al-sukut ‘an su’al (tidak mempertanyakan), seorang Muslim jangan cerewet terhadap sesuatu yang tidak di ketahui, bertanya boleh namun secukupnya. Al-imsak ‘an tsarruf fi al-alfad (menahan diri untuk ‘menggarap’ nash yang tidak dipahami).

Dalam “Iljamul awam al-ilmi al-kalam” Imam Ghazali mengajak kita untuk membiasakan bercermin diri, introspeksi diri sampai kita sadar betapa awamnya kita. Bisa jadi seseorang ahli di teknik dan awam di bidang kesehatan, ahli pertanian namun awam di bidang pendidikan. Sehingga kategori orang awam dan ahli bukan sesuatu yang kaku dan beku, melainkan cair dan dinamis.

Jika Tidak Paham, Jangan Berlagak Paham

Jika terjadi suatu perdebatan dalam isu tertentu yang membutuhkan keahlian yang spesifik; etika yang sebaiknya diikuti oleh orang awam adalah jangan ikut campur terlalu jauh, apalagi melakukan pemihakan pada salah satu pihak. Biarkan orang yang ahli berdebat mengenai isu itu hingga tuntas. Ibarat orang yang tidak paham cara kerja mesin mobil ketika mobilnya rusak mereka langsung datang ke bengkel dan berkonsultasi dengan montir yang berpengalaman. Kalau semua orang berusaha memperbaiki mobilnya sendiri, rasanya dalam waktu singkat jalanan akan sepi, lantaran banyak mobil yang tak bisa melaju lagi.

Demikian juga ketika orang-orang awam sudah coba-coba melangkahi para ulama atau para ahli, maka pada saat itu esensi peradaban telah lenyap, sebab yang tersisa hanyalah orang-orang tak beradab. Maka, sebagai orang awam, jadilah orang awam yang beradab dan tahu diri akan keawamannya. Jangan memihak terlalu jauh, emosional, hingga hilang kontrol diri dan menuduh pihak lain sesat, kafir, murtad, dan lain sebaginya. Sehingga yang dimaksud bukan fenomena minimnya pemahaman, melainkan minimnya pemahaman soal agama dan kelancangan orang awam untuk berfatwa. Sudah tidak paham, tapi berlagak paham, dan akhirnya mempengaruhi orang-orang yang sama tidak pahamnya semata-mata dengan sikapnya yang seolah-olah paham.

Baca Juga  Dispensasi Nikah, Solusi Anak Hamil Duluan?

Memang tidak realistis untuk mengharapkan lenyapnya orang awam, sebab keawaman itu sendiri tidak terhindarkan. Pertama, karena tak mungkin manusia ahli dalam segala hal, maka ada saja bidang ilmu yang tidak kita kuasai, sepintar apa pun kita. Kedua, karena segala ilmu dipelajari secara bertahap, maka setiap orang pasti mengalami fase awamnya masing-masing ketika belajar.

Dengan demikian, adab adalah kata kunci untuk menyelesaikan persoalan umat yang satu ini. Dalam segala hal ada ahlinya, dan yang awam harus merujuk kepada yang ahli. Artinya juga, kita akan ‘selamat’ sepanjang memahami posisi kita secara intelektual dalam suatu bidang ilmu.

Ada orang yang tahu bahwa ia tahu, ada yang tak tahu bahwa ia tahu, ada yang tahu bahwa ia tak tahu, dan sedihnya, ada juga yang tak tahu bahwa ia tak tahu. Sehingga belajar menjadi orang awam adalah belajar sadar kalau dirinya awam dan belajar menjadi awam yang baik.  Sederhananya adalah menjadi orang awam saja kita perlu belajar apalagi menjadi pakar atau ahli.

Bagikan
Post a Comment