Hari Ini; Mencari Replika Jendral Hoegeng
Selama sepekan terkhir, Indonesia ramai dengan kisah pilu dari berbagai daerah. Hal yang cukup memilukan untuk akhir tahun menjelang tutup buku. Kasus-kasus biadab yang kian membusuk dan merebak di masyarakat. Satu kasus baru, yang busuknya mulai terkubur perlahan. Novia Widyasari, korban kebejatan seksual Randy Bagus. Namanya harum sebagai perempuan yang hebat bertahan.
Selain itu, kasus pilu lain yang di alami oleh Ibu korban pemerkosaan 4 pelaku bejat pula yang terjadi di Riau. Laporan tersebut di sampaikan ketika korban tengah melaporkan kejatahan seksual yang di terimanya, polisi yang menerima aduan tersebut justru memaki korban dengan sebutan Lonte, selain di perkosa, korban juga kehilangan putranya karena pelaku. Its mean, polisi sok tahu itu menganggap aduan korban sebagai bahan candaan dan penghinaan harga diri perempuan. Bagaimana konsepnya, polisi yang katanya mengayomi dan melindungi, justru melontarkan kata-kata tidak terpuji kepada pelapor.
Betul apa kata dosen penulis, “orang pintar yang baik di Indonesia itu banyak, tapi orang pintar yang benar di Indonesia itu sedikit”. Eh eh tapi kalau kaya gitu, besar kemungkinan mereka tidak pintar, pun tidak baik.
Polisi Tuh Kenapa
Penulis mencoba melihat dari sudut apa saja untuk membaca kasus-kasus bejat dari polisi. Terkadang ada fikiran terlintas, sepertinya yang waras itu cuman penulis. Meski memang betul, beberapa polisi Indonesia bisa di acungi jempol atas baik dan hebatnya . Tapi, ada tapinya lho yaaa. Tidak semua tindak kejahatan polisi juga di acuhkan begitu saja hanya karena polisi.
Barangkali sebenarnya banyak pelaku tindak kejahatan dari polisi, tapi belum cukup terekspos dalam berita atau media lain. Pilu sekali rasanya, miris, kalau sudah seperti itu, masyarakat bisa percaya kepada siapa? Mencari ruang aman di mana?. Kalau kata teman aktivis penulis, “Polisi bukan lagi pelindung masyarakat, tapi polisi adalah pelaku besar kerusakan moral masyarakat”. Tidak perlu menjadi argumen besar, cuman pendapat. Hati-hati buzzer
Perkara baik buruknya polisi pun, sudah lama Gus Dur gaungkan. Menurut beliau, betul kalau polisi Indonesia itu baik, tapi tidak semua jujur. Menurut Gus Dur, hanya ada 3 polisi jujur di Indonesia, yaitu “Pak Hoegeng almarhum mantan Kapolri, patung polisi, dan polisi tidur”. Sudah, tidak apa-apa cuman pendapat Gus Dur. Sendiko dawuh Gus.
Berkenalan dengan Jendral Hoegeng
Hoegeng Iman Santoso lebih senang memakai nama Hoegeng saja. Dari sekian banyaknya kasus yang menyeret polisi, Jendral Hoegeng menjadi satu nama yang tidak terlupakan dari jalan sejarah. Beliau merupakan mantan pemimpin tertinggi kepolisian Indonesia pada periode 9 Mei 1968 hingga 2 Oktober 1971. Posisi tersebut menjadi sepak terjang kejujuran Jendral Hoegeng terkenang harum. Beliau tidak pandang bulu dalam mengusut tuntas kejahatan, baik itu kecurangan, penipuan, pemalsuan, dan semua bentuk perbuatan yang merugikan negara. Jendral Hoegeng tidak gentar juga untuk menghadapi mafia kelas kakap seperti Roby Tjahjadi yang berusaha menyelundupkan mobil mewah pada decade awal rezim Orba Soeharto.
Jendral Hoegeng terkenal sebagai Kapolri yang jujur karena tidak termakan dengan bujuk rayu sogokan dari semua kalangan. Akan tetapi, perjuangannya tidak lantas baik-baik saja, dari karakter baiknya beliau, Jendral Hoegeng kerap mendapat terror serta perlakuan tidak terhormat. Dari sini, kita bisa melihat bahwa menjadi orang-orang yang benar di Indonesia, beresiko tinggi untuk lenyap langkah perjuangannya, bungkam teriakan jujurnya, hingga mati nafas panjang keadilannya. Padahal, kalo setiap polisi, jangan polisi saja deh, seluruh masyarakat Indonesia. Mempelajari dan menerapkan karakter terpuji dari Jendral Hoegeng, maka sudah bisa betul jikalau Indonesia berganti sebagai negara yang maju, bukan negara berkembang, yang kata Ustadz pondok penulis dulu, “Dari Ustadz kecil, sampai tua seperti ini masih saja jadi negara berkembang, jadi majunya kapan, masa iya pas akhir zaman”. Cuman pendapat lho ya.
Mencari Jendral Hoegeng
Ibaratnya seperti sedang mencari jarum di setumpukan jerami, serumit itu mencari replika Jendral Hoegeng saat ini. Karena saking banyaknya manusia yang tidak bisa dipercaya. Padahal dari Jendral Hoegeng kita bisa belajar, bahwa kita tidak selamanya hidup di dunia ini, nilai seseorang itu mahal harganya, dan kita tidak bisa mencederai hidup serta nilai tersebut dengan segala bentuk praktik keji di dunia. Ingat, semua yang hidup pasti mati, dan setiap yang mati akan dimintai pertanggung jawaban.
Bilamana mencari Jendral Hoegeng susahnya minta ampun, sekarang, berdiri didepan cermin, dan sampaikan bahwa kamu layak menjadi replika Jendral Hoegeng. Indonesia yang benar-benar sedang dilanda krisis moral dan kepercayaan. Selalu membutuhkan orang-orang yang benar, jujur, dan adil dalam bertindak. Tidak bisa dipungkiri, bagaimana Indonesia nanti jika harus dipimpin oleh mereka yang tidak memiliki landasan kuat untuk mengarahkan gerakan pada hal yang lebih baik. Apalagi dengan semakin tingginya kasus pilu hasil kebiadaban polisi di Indonesia, rasa-rasanya seperti ingin pindah planet saja. Sekalipun suara kita tidak cukup besar, langkah kita masih tertatih-tatih, atau bahkan kepala kita sedang terinjak ketidakadilan, tidak mengapa, kita selalu memiliki jalan lain untuk menang dan merebut kembali kesejahteraan hidup atas nama keadilan dan kejujuran.
Barangkali tulisan ini tidak cukup nyentrik bagi sebuah bacaan berideologi, tapi setidaknya tulisan ini menjadi satu wujud menghidupkan pola pikir waras dan sehat di tengah-tengah dunia yang sedang edan.
Hormat setinggi-tingginya kepada mereka yang melawan, nyalakan perlawanan pada mereka yang menindas.
Pendidik, Mahasiswa UAD

Irvan
Namanya juga dunia selalu ada hitam dan putih. Walaupun orang telah melakukkan banyak kebaikan tetap saja hal buruk tidak lah boleh dimaklumi. Semangatt menjalani hari dengan selalu menabur kebaikan dan istiqomah