f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perlindungan

Alam dan Cinta Sang Ibu sebagai Sumber Kreativitas

Oleh : Muhammad Fijri Nurfadillah

Alam (dalam artian luas memiliki makna yang setara dengan dunia alam, dunia fisik, atau dunia materi) mengacu kepada fenomena dunia fisik dan juga kehidupan secara umum. Skala alam terbentang dari sub-atomik sampai kosmik. Studi tentang alam adalah bagian besar dari ilmu pengetahuan. Meskipun manusia adalah bagian dari alam, kegiatan manusia sering dipahami sebagai kategori terpisah dari fenomena alam lainnya.

Dan isi dari alam tersebut mengajarkan bahwa alam adalah sumber kreativitas, baik itu kreatifitas sosial budaya , ataupun kreativitas yang dilibatkan dengan intelektual . Sangatlah banyak kreatifitas di dunia ini , kita ambil satu contoh bahwa alam sebagai sumber kreativitas, yaitu tari jaipong.

Tari Jaipong

Tari Jaipong lahir dari kreatifitas seorang seniman Bandung bernama Gugum Gumbira yang menaruh perhatian besar pada kesenian rakyat seperti tari pergaulan Ketuk Tilu. Gugum Gumbira memang sangat mengenal pola-pola gerak tari tradisional Ketuk Tilu, seperti gerak bukaan, pencugan, nibakeun, dan gerakan-gerakan lainnya.

Pada awal kemunculannya, Tari Jaipong disebut dengan Ketuk Tilu Perkembangan karena tarian ini memang dikembangkan dari tari Ketuk Tilu.

Karya Gugum Gumbira yang pertama kali dikenal masyarakat adalah Tari Jaipong “Daun Pulus Keser Bojong” dan “Rendeng Bojong”. Dari kedua jenis tarian itu, muncullah sejumlah nama penari Jaipong yang terkenal seperti Tati Saleh, Eli Somali, Yeti Mamat, dan Pepen Dedi Kurniadi. Kemudian pada tahun 1980-1990-an, Gugum Gumbira kembali menciptakan tari lainnya seperti Toka-toka, Setra Sari, Sonteng, Pencug, dan lain-lain. Kembali lagi muncul penari-penari Jaipong yang handal seperti Ine Dinar, Aa Suryabrata, Yumiati Mandiri, Asep Safaat, Iceu Effendi, dan beberapa penari lainnya.

Bisa dikatakan, Tari Jaipong sudah menjadi salah satu ikon keseniaan Jawa Barat, dan sering dipertontonkan pada acara-acara penting untuk menghibur tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat. Juga, saat melakukan misi kesenian ke mancanegara. Padahal di awal kemunculannya, tarian ini sempat menjadi perbincangan hangat, terlebih karena gerakan-gerakannya yang dianggap erotis dan vulgar. Tapi hal itu justru membuat Tari Jaipong mendapatkan perhatian dari media. Semenjak itu, Tari Jaipong semakin populer dan frekuensi pementasannya pun semakin bertambah.

Baca Juga  Kebun di Kota Lamaku

Kelahiran Tari Jaipong pun menginspirasi para penggerak seni tari tradisional untuk lebih aktif lagi menggali jenis tarian rakyat yang sebelumnya kurang mendapat perhatian. Kemunculan jenis tarian ini juga membuka lahan usaha bagi para penggiat seni yang membuka kursus untuk belajar Tari Jaipong. Sementara pengusaha hiburan malam memanfaatkan Tari Jaipong untuk memikat pengunjung tempat usahanya.

Pada suatu saat saya menyaksikan pertunjukan tari jaipong, saya merasa terharu menangis melihat  tari jaipong.

Kenapa saya menangis?

Saya menemukan salah seorang penari yang kehilangan tariannya, lagu yang dilupakan nadanya. Tari tak sekedar gerakan lenggak- lenggok, ada pesan di dalamnya. Salah satu pesan yang sering saya tangkap adalah harmoni antara manusia dan alam. Tapi harmoni itu sudah tidak ada, jadilah tari yang kehilangan tariannya.

Sebenarnya orang Sunda, kalau bisa mengurus alamnya, ia tidak akan mengalami kesengsaraan seperti sekarang ini. Alam Padjadjaran ini dapat diibaratkan seperti bidadari cantik uang turun dari kahyangan . Gadis yang cantik seharusnya dengan senyumannya saja bisa menghasilkan uang, dengan berjalan saja bisa jadi model, dengan aktingnya bisa menjadi artis, pintar berdiplomasi saja bisa menjadi politisi handal. Cantik itu sumber kebahagiaan, terutama bila dilengkapi dengan integritas, intelektual, moral dan spiritual.

Sayangnya, bidadari cantik itu di perkosa, diambil batunya sedemikian rupa, dikeruk potensinya tanpa di pelihara. Alam ini seperti sudah di hancurkan. Saat wanita cantik itu meluncurkan diri, mahalnya itu cuman hanya mahal sesaat. Mulanya bisa jadi menghasilkan uang puluhan juta, lama kelamaan , apalagi kalau sudah penyakitan tidak berharga apa-apa, menjadi sampai, menjadi tak berdaya lagi.

Sebelum seluruh alam menjadi sampah yang menimbulkan penyakit bagi kehidupan manusia, ada baiknya kita kembali mencintai alam. Sebab , tanpa alam kegiatan dapur kreativitas tidak akan berlangsung. Semuanya berujung pada satu kesimpulan: menurunnya kualitas kehidupan.

Baca Juga  Apakah Bayi di Kandungan Ikut Merasakan Kesedihan Ibu?

Belajar dari cinta sang ibu

Ibu mengajarkan cinta kasih sayang kepada anaknya, cinta akan mengasihinya dan kasih sayang seorang ibu tidak bisa dibalas dengan uang dan tidak bisa dibalas dengan barang yang mewah sekalipun, perjuangan sang ibu sangatlah luar biasa , ibu bertumpah darah melahirkan anaknya dengan kekuatan penuh, ibu juga merawat dan menyusui kita dan menyapih kita , begitu besar perjuangan sang ibu.

Saya sangat mencintai ibu saya karena telah mengajarkan cinta pada saya. Demi cinta itulah saya melakukan banyak hal, terus menerus membuat prestasi. Bagi saya, prestasi adalah monumen cinta saya pada ibu. Saya mencintai ibu, tetapi tidak seperti cinta Sangkuriang yang merusak dan penuh kemarahan. Saya mencintai ibu seperti gurumibda , hang bersiap menjadi monyet sekalipun asalkan menuruti perintah ibu untuk membantu yang tertindas ( purbasari)..

Kita mungkin lupa pada cinta ibu sehingga ingatan akan dapur dan kegiatan membuat sambal terlupakan. Ketika dapur di upakan, saat itu kita akan terlempar pada ketidak kraetifan yang parah seperti yang terjadi saat ini. Saya khawatir, kita benar-benar dibuat lupa pada cinta suci kita kepada ibu kandung dan ibu Pertiwi. Maka perbaharuilah cinta pada ibu agar kreativitas kita semakin melambung tinggi..

Kasih cinta sang ibu tidak terlepas dengan kreatifitas isi alam. Alam mengajarkan bahwa ia harus dimanfaatkan dan dilestarikan dengan kreatifitas-kreativitas kita. Dan sebagai anak muda kita harus mampu menciptakan keatifitas dan menjemputnya.Rasa cinta ibu akan selalu melekat di diri kita sendiri, dan tanamkan pada diri kita kasih sayang ibu itu sebagai kobaran api semaangat untuk berkreativitas.

Tradisi Sunda juga  adalah tradisi yang mengajarkan cinta pada ibu sebagai prasyarat cinta lainnya. Tradisi Sunda seperti hendak menyatakan cintailah ibumu, barulah dari sana muncul cinta cinta baru pada makhluk dari kehidupan ini.

Baca Juga  Menjadi Ibu dalam Sebuah Rumah bagi Sesama

Saya pikir semua orang besar terinpirasi oleh ibunya. Sayangnya kita telah dibuat lupa oleh percepatan kemajuan sampai ibu dibiarkan terlantar. Maka kembalilah pada cinta ibu, seperti Rasulullah telah berseru, ” ibumu…. Ibumu……  Ibumu…..!”

Bagikan
Post tags:
Post a Comment