Mengatasi Depresi Orang Tua di Masa Pandemi
Akhir-akhir ini banyak bermunculan berita di media online yang tidak pernah saya perkirakan sebelumnya, khususnya berkaitan dengan pandemi. Dilansir dari Kompas.com 15 September 2020, diberitakan tentang seorang anak usia 8 tahun yang dibunuh orang tuanya. Menurut berita yang beredar, kejadian tersebut dikarenakan sang anak sulit ketika diajarkan pembelajaran daring oleh orang tuanya.
Sebagai seorang ibu sekaligus seorang pendidik, saya merasa tersentak mendengar berita tersebut. Ternyata pembelajaran daring menimbulkan dampak yang begitu besar. Dan sudah lebih dari setengah tahun sampai saat ini pembelajaran daring masih berlangsung. Dikarenakan kondisi negara kita yang belum stabil akibat pandemi. Entah sampai kapan pembelajaran daring akan berakhir. Tidak ada yang tahu tentang kepastiannya, semuanya penuh tanda tanya.
Memang tidaklah mudah jika dihadapkan dengan sebuah dilema, dengan kondisi Indonesia yang dilanda pandemi. Kian hari tidak surut, tapi semakin bertambah. Satu sisi apabila anak usia 7- 9 tahun Sekolah Dasar (SD) masuk sekolah, dikawatirkan akan menimbulkan klaster baru penyebaran covid-19. Sisi yang lain tentu saja mereka rindu ingin segera masuk sekolah bercengkrama dengan teman baru dan saling bercerita tentang hal-hal baru. Bahkan hanya ingin sekedar memamerkan seragam atau tas baru kepada temannya. Dan itu merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi mereka.
Dampak Pembelajaran Daring
Mungkin saja selama ini tidak terpikirkan sama sekali oleh kita. Yakni tentang alasan sepasang suami istri yang menganiaya anaknya sampai meninggal dunia hanya karena sulit untuk mengikuti pembelajaran daring. Atau mungkin ada faktor pengiring yang menyebabkan peristiwa itu sampai terjadi? Sehingga begitu tega mereka menganiaya anaknya yang masih perlu bimbingan dan sangat belia. Entahlah, semuanya masih dalam proses penyelidikan.
Yang bisa digaris bawahi adalah ternyata dampak pembelajaran daring tidak hanya menimbulkan beban psikologis anak tapi juga orang tua, bahkan sampai membawa pada titik depresi. Dapat dikatakan bahwa dengan pembelajaran daring orang tua harus mempunyai cadangan kesabaran ekstra. Sehingga orang tua terus dan terus mendampingi serta membimbing anak dalam pengerjaan tugas yang diterima.
Kondisi saat inilah mau tidak mau yang harus dihadapi pada masa pandemi. Di mana orang tua harus berpikir ekstra lagi. Baik dalam hal kondisi ekonomi dan kondisi anak yang harus lebih mendapatkan perhatian karena tugas sekolah yang harus dikerjakan. Belum lagi jika anak-anak yang harus diperhatikan lebih dari satu atau dua. Bisa dibayangkan betapa repotnya menjadi orang tua. Tetapi hal itu akan menjadi sangat mudah ketika kita sudah mengetahui ilmunya. Sehingga dianggap sangat penting dalam belajar dan menggali ilmu tentang bagimana menjadi orang tua yang ideal.
Serba-serbi Pembelajaran kala Pandemi
Aktivitas pembelajaran anak sekolah dasar kala pandemi ini sangat beragam. Bahkan hampir setiap hari beberapa orang tua membuat status dalam WhatsApp-nya. Kegiatannya mulai dari mewarnai, menggambar, melipat kertas, melipat serbet, membantu orang tua dari menyiram tanaman bunga, memberi makan ikan, membaca hafalan surah-surah dalam Al-Qur’an, menyayi, hingga mengaji iqro’. Sampai-sampai para orang tua melakukan dokumentasi secara mendetail melalui video kepada anak-anaknya. Mulai dari awal mengerjakan tugas hingga selesai pengerjaan, dan pada akhirnya akan dikirimkan kepada gurunya. Video tersebut sebagai bukti bahwa sang anak telah mengerjakan tugas dari gurunya di sekolah.
Pembelajaran daring juga akan memberikan pengaruh kepada perubahan kebiasaan pembelajaran antara orang tua dan anaknya. Misalnya ketika sang anak diberikan tugas, sudah menjadi hal yang wajar ketika tugas tersebut nantinya akan dikerjakan oleh orang tuanya. Tetapi tidak dipukul rata bahwa semua orang tua akan seperti itu. Ada juga tipe dari orang tua yang lebih percaya kepada anaknya bahwa anaknya bisa dengan kemampuannya sendiri. Peran orang tua pada kesempatan ini hanyalah memberikan arahan dan pendampingan.
Bagi orang tua dengan tipe mau mengerjakan tugas sang anak pasti karena didasari dengan alasan tertentu. Misalnya sanga anak mengeluhkan kelelahan, kebosanan dan monoton tugas yang selalu berdatangan. Apalagi jika tugas tersebut ada pada ambang batas deadline pengumpulan. Orang tua yang harus bergerak untuk menyelesaikannya tanpa memikirkan hal lainnya, yang terpenting adalah tugas sang anak selesai.
Pada kondsi ini, orang tua bisa saja mempunyai rasa iba dan tanggung jawab moral akan anaknya. Dan orang tuapun menginginkan hal yang terbaik untuk anaknya. Kondisi semacam inilah secara otomatis mau tidak mau orang tua yang ikut andil dalam pengerjaan tugas tersebut. Tetapi harus selalu diingat, bahwa batasan orang tua hanya mengarahkan dan membimbing, selebihnya diserahkan kepada sang anak.
Ketahanan menjadi Orang Tua
Dengan celotehan anak yang menggerutu dan ngomel meminta agar tugas sekolahnya dikerjakan, sebagai orang tua terkadang merasa jengkel. Bagaimana tidak, pada satu sisi orang tua kurang paham tentang materi atau tugas yang diberikan guru. Sedangkan sisi lainnya sang anak justru sulit untuk diajak bekerjasama. Dan yang aka terjadi adalah meningkatnya sisi emosional orang tua. Apalagi jika orang tua kurang paham tentang pembelajaran parenting kepada anak. Sehingga ini merupakan tanggungjawab yang sangat berat bagi orang tua yang mempunyai tugas ganda. Yakni harus menjadi pendidik di sekolah dan mendidik anak di rumah dalam jangka waktu yang tidak sebentar.
Kejadian di atas merupakan beberapa potret kondisi pendidikan daring yang sudah berjalan lebih dari 6 bulan di Indonesia. Ternyata lambat laun akan berdampak pada gangguan psikologis juga kepada orang tua. Apalagi dengan orang tua yang mungkin tidak memiliki latar belakang sekolah sebagai pendidik. Hal ini merupakan suatu PR bagi kita bersama, untuk mencari suatu solusi dari permasalahan kehidupan yang terjadi.
Parenting bagi Orang Tua
Salah satu solusi yang dianggap sangat penting adalah dengan melakukan sosialisasi tentang pembelajaran parenting bagi orang tua, baik yang diselenggarakan pihak sekolah atau lembaga lain. Pembelajaran parenting bagi orang tua ini diharapkan mampu menghadapi masa-masa sulit seperti pandemi sekarang ini. Misalnya mengetahui karakter si anak yang sedang marah, ngambek, bandel dan mungkin menjumpai kenakalan pada anak. Dengan mendapatkan pembelajaran parenting, orang tua lebih mampu untuk mengatasi tingkah laku anak tanpa kekerasan fisik maupun lisan. Baik itu secara ucapan kasar yang semestinya tidak didengar oleh anak sebagai bentuk kejengkelan orang tua. Pembelajaran parenting bagi orang tua akan lebih bisa mengontrol diri ketika emosi menghadapi anak-anak ketika marah. Karena orang tua sudah mempunyai pengetahuan teori pembelajaran parenting kepada anak.
Pada akhirnya orang tua bisa menjadi guru dirumah yang menyenangkan bagi anak. Dan juga menjadi teman, baik teman belajar, teman berdiskusi ataupun teman bermain. Bahkan sekaligus bisa menjadi sahabat, sehingga bisa saling curhat satu sama lain. Tentu saja hal itu tidaklah mudah, karena orang tua dituntut untuk kembali mengikuti dunia sang anak, yang pada dasarnya sudah lama orang tua tinggalkan. Tetapi hal tersebut harus selalu diupayakan dengan cara terus menambah wawasan, karena menjadi orang tua juga butuh belajar. (Laeli)
Guru mata pelejaran Sejarah di SMKN 1 Kota Madiun
