f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
dan anak

Ayah dan Anak Perempuannya

“Yah, seperti apa ya laki-laki yang akan membersamaiku nanti?”celetuk seorang anak remaja perempuan yang sedang beranjak dewasa pada seorang laki-laki paruh baya.

Laki-laki paruh baya yang dimaksud sedang mencangkul, beliau tiba-tiba berhenti mengayunkan cangkulnya. Menatap dengan lekat putri kesayangannya, putri kecilnya yang kini sudah beranjak dewasa, ia sedang duduk di pematang sawah, membelakangi cahaya matahari pagi yang jatuh di sela-sela pohon yang rimbun. Laki-laki paruh baya itu kemudian berjalan mendekat, duduk persis di sebelah anak perempuannya.

“Apakah dia bisa menyayangi aku seperti ayah menyayangiku? Apa dia bisa memahami aku sebaik ayah, atau apakah dia bisa membuat lelucon selucu ayah untuk menghiburku? Atau justru sebaliknya ya, Yah? “

Gadis itu terus memberondong bertanya tanpa memperhatikan perubahan ekspresi lawan bicaranya. 

Yang diberi pertanyaan diam seribu bahasa, menghembuskan nafas panjang, tidak mengeluarkan sepatah kata pun, laki-laki paruh baya itu  justru memilih memandangi langit. Pikirannya buyar, jauh mengembara ke masa mudanya.

Ia justru teringat pada masa lalunya, tentang bagaimana kisah hidupnya berjalan, dulu, saat umurnya masih belia, sebelum anak perempuan satu-satunya itu lahir, ia yang dulu hanya anak desa yang tengil bisa mendapatkan anugerah memiliki jabatan cukup tinggi di sebuah perusahaan ternama, setiap hari ia bekerja keras tanpa henti, baginya dunia adalah segalanya. Obsesi dan ambisinya sungguh membara, sifat sombong menjadi ciri khasnya, ia sangat gila kerja.

“Aku bisa sukses pasti karena usahaku sendiri.” begitu kiranya prinsip hidup yang dipegang teguh.

***

Tak berapa lama, kedengkian teman-temannya pun muncul, berbagai cara dilakukan teman-temannya demi menjatuhkan dirinya, dan dari begitu banyak cara akhirnya ada yang berhasil. Mau tak mau ia lalu dipecat secara tidak terhormat karena difitnah korupsi rekan kerjanya. Padahal baginya pekerjaan itu tidak lain dan tidak bukan adalah impian terbesarnya. 

Akibat kejadian itu, dia sulit sekali mendapatkan pekerjaan, menganggur, kerjaannya hanya luntang-luntung kesana sini, bahkan hampir gila, tak pernah terbesit dalam pikirannya untuk mempunyai pendamping atau bahkan keluarga kecil bahagianya saat ini. Yang ada dipikirannya hanya bagaimana ia bisa kembali pada posisi nya dulu, masa kejayaannya.

Namun, takdir berkata lain, hampir dua tahun ia tak kunjung mendapat pekerjaan. Ia akhirnya memilih pulang ke kampung halaman, memutuskan bekerja menjadi petani dari tanah warisan orangtuanya, sempit namun masih bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Sambil sesekali mengajari mengaji anak-anak di langgar. Rutinitas yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Beberapa tahun kemudian ia lalu menemukan seorang perempuan yang luar biasa. Anak pak ustadz yang merupakan imam tetap di masjid langgar desa. Seorang perempuan yang, ya parasnya memang tidak secantik Luna Maya namun hebatnya perempuan itu tidak pernah terobsesi sedikitpun pada dunia. Senyumnya menenangkan hati, sabarnya seluas samudra yang tak bertepi. 

Darinya ia belajar banyak hal, tentang bagaimana sabar, rendah hati, memahami orang lain, dan menjadi bersahabat. Tak melewatkan kesempatan, ia memberanikan diri melamar perempuan itu untuk menjadi pasangan hidupnya. 

“Apa yang bisa membuat saya yakin kalau kau adalah laki-laki yang tepat untuk putri saya? ” tanya pak ustadz saat itu. 

Dengan mantap ia menjawab, “Saya tidak bisa menjanjikan harta atau apa pun untuk putri, Bapak. Tapi saya akan berusaha sekuat tenaga untuk bersama-sama meraih ridho Allah SWT. “

Mereka lalu menikah dan akhirnya hidup dengan sederhana namun penuh kebahagiaan. 

Fase ini lah yang bisa menyadarkan dirinya dan membawanya menjadi seseorang yang lebih baik. 

***

Dan akhirnya menjalani hidup dengan lebih lapang, serta mengerti bahwa ambisi yang berlebihan hanya menyengsarakan. 

Mengingat kenangan hidup yang berputar di kepalanya, tak terasa beberapa tetes air jatuh dari pelupuk mata laki-laki paruh baya itu. Masa lalu yang kelam namun penuh pelajaran.

Betapa hidup tidak pernah bisa diduga, bahwa setiap kejadian di dalam hidup, selalu membawa hikmah, sekecil apapun.

Ia lalu tersenyum, “Nak, siapapun orangnya nanti, semoga orang itu adalah seseorang yang meletakkan dunia di genggaman tangannya dan akhirat di hatinya”. Kata laki-laki paruh baya itu sambil menyeka air mata yang kali ini tidak bisa lagi untuk ia bendung. 

Si anak perempuan hanya terdiam membisu, jujur saja, ia tidak memahami kata demi kata dari mulut laki-laki yang tidak lain adalah cinta pertamanya. Ia juga sungguh bingung mengapa ayahnya tiba-tiba menangis. 

“Maksudnya, Yah? “Si anak perempuan bertanya dengan hati-hati.

“Suatu hari kamu pasti akan mengerti, Nak. Untuk saat ini kamu hanya perlu banyak belajar supaya kelak kamu bisa memahami nasihat ayah hari ini”. Kata seseorang yang dipanggil Ayah itu, kali ini ia tersenyum sambil mengusap kepala anak perempuan di sebelahnya yang tertutupi kain, walau belum sempurna. Si anak perempuan hanya tersenyum. 

“Kelak ia akan membawamu menjadi seseorang yang lebih baik. Hm, walau tidak akan pernah bisa selucu ayahmu.” laki paruh baya itu melanjutkan pembicaraannya. Ayah dan anak perempuannya itu tertawa bersama.

“Ana janji, Yah. Akan rajin belajar, juga mengaji supaya Ayah bangga sama Ana,  supaya kelak bisa jadi dokter kebanggaan desa ini bisa membantu semua orang yang sedang sakit dan kesulitan. Dan supaya bisa memahami nasihat ayah hari ini.”

“Janji?” Kata laki-laki paruh baya itu sambil menyodorkan jari kelingking tangan kanannya. 

“Janji. ” Sang anak perempuan menyambut jari kelingking itu dengan jari kelingkingnya. Matahari kini telah meninggi, teriknya sudah terasa menyengat kulit. Mereka harus bergegas pulang.

Bagikan
Post a Comment