Belajar dari Mak Na Willa: Perempuan Berpendidikan yang Melawan Arus
“Mak, kenapa Mba Tin tadi menangis, bukankah menikah itu bahagia sekalii?”
Itu adalah salah satu kutipan pertanyaan Na Willa pada Mak. Na Willa adalah tokoh utama dalam film “Na Willa” yang disutradarai oleh Ryan Adriandhy. Film tersebut menceritakan tentang kehidupan Na Willa, seorang gadis cilik berusia 6 tahun yang tinggal di Gang Krembangan Surabaya pada tahun 60-an. Na Willa memiliki karakter yang lugu dan penuh rasa ingin tahu. Namun di balik kepintaran Na Willa, terdapat sosok Mak, perempuan yang (mungkin) lahir pada tahun 40-an, tetapi mengenyam pendidikan tinggi. Mak adalah sosok yang hebat, menjalani pilihan-pilihan hidup terdengar tidak biasa dan terkesan melawan arus
Mak Berpendidikan Tinggi
Bu Reda bercerita melalui akun instagramnya @reda.gaudiamo bahwa Mak menolak ketika diminta oleh Ibunya untuk berhenti sekolah dan mengurus adik-adiknya. Mak tidak ingin hanya berpendidikan sampai SD. Akhirnya Ibunya memperbolehkan Mak lanjut bersekolah setelah adik laki-lakinya lulus. Mak yang berasal dari NTT merantau ke Jawa untuk melanjutkan SMP, SMA, dan kemudian berkuliah di Salatiga.
Mak Kuliah Tetapi Tetap Jadi Ibu Rumah Tangga
Saya banyak mendengar cerita tentang perempuan pada masa ibu saya (kelahiran tahun 70-an) dan nenek saya (kelahiran tahun 40-an) yang tidak kuliah atau berhenti kuliah karena orang tuanya berpikir “nggo ngopo sekolah duwur-duwur, ujung-ujung e mung neng ndapur” (buat apa sekolah tinggi-tinggi, akhirnya cuman di dapur).
Tapi Mak Na Willa melawan stereotip itu. Mak Na Willa bersekolah tinggi, bahkan sampai merantau lintas pulau untuk bersekolah, dan kemudian hanya tinggal di rumah menjadi ibu rumah tangga. Dengan latar cerita di tahun 60-an, saya yakin bersekolah tinggi lalu hanya menjadi ibu rumah tangga adalah narasi yang tidak biasa. Tapi sejatinya, Mak Na Willa bukan ibu rumah tangga biasa. Mak Na Willa Ibu rumah tangga yang cerdas.
Mak Tidak Pandai Memasak, Tetapi Bisa Memperbaiki Atap Bocor
Stereotipe yang melekat pada perempuan adalah laki-laki harus pandai bekerja dan perempuan harus pandai memasak. Tetapi Bu Reda bercerita bahwa pada awal Mak dan Pak menikah, Mak hanya bisa memasak nasi. Pak yang selalu memasak dan masakan Pak selalu enak.
Tapi Mak bisa memperbaiki atap bocor. Saat Na Willa tumbuh sedikit lebih besar, Mak dan Pak harus menjalani LDM (long-distance marriage) karena Pak kerja jauh dari rumah. Bu Reda bercerita bahwa Mak sangat gesit dan cekatan, contohnya saat rumah bocor, Mak dengan mudah naik ke atap rumah.
Mak Mengajari Na Willa Baca Tulis di Rumah
Dalam film diceritakan bahwa Dul tertabrak kereta karena tidak bisa membaca tanda. Tidak lama setelah itu, Bud dan Farida dimasukkan ke TK (taman kanak-kanak) oleh orang tuanya. Farida bercerita “Kata Ibuku Dul tertabrak kereta tidak bisa membaca, makanya aku dimasukkan sekolah biar bisa membaca”.
Lain dengan Mak, saat Pak berkata “mengapa tidak kita masukkan saja Willa ke TK?”. Mak menjawab, “ah kalau di TK hanya berangkat pagi lalu nyanyi-nyanyi, di rumah juga bisa”. Mak mengajari Willa baca dan tulis di rumah. Suatu hari ketika sedang bermain, Dul bilang “Willa, kamarmu kayak ruang kelas di sekolahku”.
Mak tidak asal memasukkan Na Willa ke sekolah. Mak ingin memastikan sebelum masuk sekolah, Na Willa sudah punya rasa tanggung jawab, kesiapan untuk mendengarkan guru, dan kemauan berinteraksi dengan teman-teman yang beragam. Jadi, Mak sangat Bijak.
Mak Tidak Membiarkan Na Willa Bermain Tanpa Batasan
Kalau kita lihat teman sepermainan Na Willa, sepertinya hanya Na Willa yang punya aturan dalam bermain. Farida bisa bermain sampai jam berapa saja dan jarang di cari orang tuanya. Dul bermain mengejar kereta tanpa sepengetahuan orang tuanya.
Mak memberi batasan yang sangat bijak dalam mengatur Na Willa bermain. Mak tegas tidak memperbolehkan ketika Na Willa diajak Dul melihat kereta. Tetapi Mak mengompromikan keputusan dan memperbolehkan ketika Na Willa izin ikut Farida mengaji, padahal Na Willa beragama nasrani.
Dari Mak kita bisa belajar bahwa pendidikan bagi perempuan sangat berpengaruh terhadap pola pengasuhan pada anak. Na Willa seperti tanaman yang dirawat dengan penuh pengetahuan, ia tumbuh dan berbuah dengan baik. Mak mengiringi pertumbuhan Na Willa dengan jawaban-jawaban yang sederhana tapi logis, kecintaan pada buku bacaan, dan kebijaksanaan mengerti kapan pintu dan jendelanya di buka lebar untuk Na Willa.
Berkat Mak Na Willa menolak untuk tidak berhenti sekolah, hari ini kita bisa melihat sosok Na Willa tumbuh menjadi Reda Gaudiamo, seorang yang menuliskan kisah masa kecilnya melalui judul “Na Willa” sampai diadaptasi ke layar lebar dan menginspirasi banyak orang. Kalau hari itu Mak berhenti sekolah, saya yakin tidak ada Reda Gaudiamo serta tidak ada yang terhibur dan belajar dari cerita Na Willa.
