f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
asuh

Melibatkan Suami dalam Pengasuhan

Yang Kupelajari Setelah Menjadi Ibu

Setelah menjadi ibu, aku menyadari bahwa pekerjaan domestik seperti memasak, mencuci baju dan piring, membersihkan rumah, mengasuh anak itu tak ada habisnya dan sangat melelahkan. Terutama jika semua pekerjaan rumah hanya menjadi tanggung jawab ibu. Satu hal penting yang kupelajari setelah menjadi ibu yaitu tahu cara meminta tolong saat aku benar-benar membutuhkan. Karena aku sadar bahwa aku tidak sanggup berjuang sendirian dalam mengasuh anakku.

It takes a village to raise a child. Jadi, daripada aku bersusah payah sendirian, aku berusaha semaksimal mungkin melibatkan suamiku dalam pengasuhan anak, termasuk dalam urusan ganti popok dan memandikan bayi. Karena aku dan suami hanya tinggal sendiri di rantau tanpa bantuan Asisten Rumah Tangga.

Jika mengingat proses taaruf sebelum menikah dengan suami dulu, aku memantapkan diri untuk menikah dengannya karena dari sorot matanya yang terlihat sendu, ada sorot kelembutan yang membuatku yakin bahwa dia akan menjadi sosok suami dan ayah yang baik untuk anak-anakku. Waktu pun membuktikan itu. Suamiku bahkan berani mendampingiku selama berjuang melahirkan. Padahal aku mengalami ketuban pecah dini, dan selama persalinan terus menerus mengeluarkan darah. Butuh mental baja untuk berani mendampingi proses persalinan yang tak terlupakan itu.

Seiring berjalannya waktu, aku makin memercayakan urusan pengasuhan kepadanya. Jika seorang ibu tidak melibatkan suaminya dalam pengasuhan anak sejak dini, maka seorang ayah akan semakin sulit melakukan bonding (ikatan) dengan anaknya karena tidak pernah diberi kesempatan.

Curhatan Para Ibu

Pagi ini seorang teman dari group chat supermom 2018, WhatsApp Group komunitas Ibu Hamil, mengirimkan chat berupa curhatan tentang suaminya yang tidak mau tau tentang urusan pengasuhan anak sama sekali.

Baca Juga  Kemuliaan Pernikahan dan Konsepsi Membangun Keluarga Islami

“Mak, aku pengen suamiku juga ikut bantu urus bayi dikit-dikit. Tapi tiap kusuruh bikinin sufor (susu formula) selalu menolak. Ada aja alasannya. Aku di titik ogah minta tolong ke suamiku lagi.”

I feel you, Mak. Aku sepertinya pernah di posisi ini. Tapi aku berhasil mengajak suamiku untuk lebih peduli.

“Aku juga sebentar lagi berangkat kerja, Mak. Sedangkan ART belum dapat juga sampai detik ini. Ada saran kah, harus cari ART khusus mengasuh bayi dimana? Kebetulan ibuku masih bekerja, jadi tidak bisa dimintai tolong mengasuh cucunya.”

Melihat keadaan ibu satu ini, jujur, di hati yang paling dalam, aku bersyukur karena mempunyai suami yang sangat suportif. Dia selalu mendukungku dalam banyak hal, termasuk dalam urusan pengembangan diri. Seperti tetap mengizinkanku untuk tetap aktif berorganisasi walaupun sudah mempunyai anak. Aku yakin jika berada di posisi ibu itu pasti sudah uring-uringan tak karuan. Sudah harus kerja, eh, suami nggak mau tahu urusan anaknya sama sekali. Lalu apa gunanya menikah dan punya suami?

Tugas Kodrati Perempuan

“Perempuan hanya punya 3 tugas kodrati, yaitu hamil, melahirkan, dan menyusui. Selebihnya adalah tugas-tugas kehidupan yang sama seperti laki-laki.

Artinya, masak dan mengurus rumah, mendidik anak, itu bukan tugas kodrati perempuan. Tidak ada kodrat yang melekat di situ. Itu adalah tugas bersama, laki-laki dan perempuan.”

(Dari postingan facebook Dr. Hasanudin Abdurrahman, 8 Maret 2018)

Aku sangat setuju dengan status facebook ini. Betapa berat tugas pengasuhan anak jika hanya menjadi beban perempuan. Padahal menurut kitab suci Al-Qur’an, sosok pendidik terbaik justru hadir dari kaum laki-laki, yaitu Nabi Ibrahim dan Imran, ayahanda Maryam, ibunda Nabi Isa. Jadi tugas tambahan untuk seorang ibu adalah melibatkan ayah atau suaminya dalam pengasuhan anak.

Baca Juga  Pentingnya Penyediaan Fasilitas Menyusui di Ruang Publik

Hari ini grup whatsapp supermom ramai karena curhatan ibu satu ini. Ada yang menyemangati, memberi solusi, bahkan ada yang ikut curcol, curhat colongan.

“Suamiku juga begitu, Mak. Sebel banget deh liat dia main game mulu. Padahal aku kerepotan urus anak,” balas seseorang di grup.

“Suamiku cukup membantu, Mak. Kecuali ganti popok. Masih ogah sampe sekarang,”

“Ayo Mak, ajak suami terus sampe mau terlibat dalam pengasuhan anak,” seseorang menyemangati teman yang suaminya belum mau terlibat, agar berusaha lebih keras untuk mengajak suaminya.

Kunci Kebahagiaan Pernikahan

Sungguh, aku saksi hidup pernikahan orang tuaku, betapa kelanggengan dan kebahagiaan pernikahan mereka setelah punya anak ditentukan oleh ketersalingan dan pengertian yang mendalam tentang berbagi peran, tidak membebankan tugas pengasuhan hanya kepada salah satu pihak saja.

Sering kali karena salah satu pihak memilih untuk memendam perasaan saat kerepotan mengurus anak sendirian, biasanya pihak istri, akan menjadi bom waktu yang akan meledak suatu saat nanti. Bisa 3-5 tahun kemudian, bahkan saat anak-anaknya sudah dewasa kelak. Saat anak telah beranjak dewasa dan tiba-tiba memiliki masalah serius, lalu suami hanya menyalahkan istrinya. Tentu jika tidak diperbaiki, masalah ini dapat menyebabkan konflik rumah tangga yang lebih besar.

Pola komunikasi yang baik selama menjadi suami istri berpengaruh pada keharmonisan rumah tangga setelah punya anak, agar tidak terucap kata-kata dari istri seperti ini, “Kamu sih, enak. Selama ini nggak mau tahu urusan anak. Saat anak bermasalah, justru menyalahkanku. Lalu kemana saja kamu selama ini, sebagai seorang bapak?”

Ayo, Mak, ajak para suami untuk lebih terlibat dalam pengasuhan anak. Demi kewarasan emak-emak dan generasi yang lebih baik.

Bagikan
Post a Comment