Menyatukan Dua Hati yang Berbeda
Ikatan yang suci secara norma agama dan merupakan ikatan yang sah secara hukum adalah perkawinan. Bahkan banyak orang juga berpendapat bahwa perkawinan bukan sekedar seremonialnya tetapi lebih jauh dari itu. Bahwa suatu perkawinan adalah menyatukan pasangan dengan dua hati yang berbeda.
Tetapi seiring dengan jalannya mahligai rumah tangga tersebut, perjalanan tak pernah ada yang mulus. Selalu saja ada batu-batu dan kerikil baik kecil maupun besar yang akan selalu mewarnai dalam setiap kehidupan berumah tangga seseorang. Bahkan jika perkawinan itu terjadi masih dalam usia dini. Banyak yang mengatakan janganlah menikah di usia dini karena pasti akan banyak masalah. Kemampuan pasangan pada usia dini masih belum cukup matang untuk mampu menyelesaikan permasalahan yang akan timbul dalam suatu perkawinan.
Hal ini karena pasangan usia dini masih mementingkan diri sendiri dan menuruti ego hati masing-masing. Pernikahan dini merupakan fenomena sosial yang banyak terjadi di berbagai wilayah. Fenomena pernikahan dini bagai fenomena gunung es yang hanya tampak sebagian kecil di permukaan, sangat sedikit terekspos di ranah publik, tetapi kenyataannya begitu banyak terjadi di kalangan masyarakat luas.
***
Dalam suatu rumah tangga, banyak yang berusaha demi keberlangsungan mahligai rumah tangga yang sudah terjalin. Bahkan masing-masing pihak akan berusaha untuk bisa beradaptasi dengan pasangannya. Hal ini tidak dapat kita pungkiri karena jika kita sudah berani membentuk rumah tangga melalui perkawinan yang sah, itu adalah menyatukan dua hati yang berbeda. Saling melengkapi, menutupi kekurangan satu sama lainnya.
Segala sesuatu yang paling sulit adalah saat kita mengawalinya untuk beradaptasi dengan pasangan. Karena pasti di antara masing-masing punya adat dan kebiasaan yang berbeda. Tapi bukan hal mustahil. Dengan berjalannya waktu perbedaan itu akan bisa terlihat indah tergantung bagaimana kita menyiasatinya dan menyikapinya.
Untuk menuju terciptanya itu semua, pastilah ada harga yang harus kita bayar. Hal ini bukan berkaitan dengan materi tetapi dengan keegoan diri kita masing-masing. Dan biasanya keegoan kita itulah yang sangat tinggi harganya dibandingkan dengan materi. Saat kita tidak suka oleh sesuatu tetapi pasangan kita menyukai hal tersebut, maka tidak ada salahnya kita juga berusaha untuk dapat menyukai hal yang sama sejauh itu tidak mematikan karakter kita sendiri.
Dengan kata lain, kita masih tetap bisa menjadi diri kita sendiri. Walaupun perlu kita akui bahwa hal tersebut tidaklah mudah. Tetapi jika kita memiliki kemauan dan terus berusaha, maka waktulah yang akan menentukan semua itu tanpa kita sadari. Tidak hanya dengan kebiasaan perilaku, tetapi juga dapat makanan kesukaan. Dalam hal ini kita belajar berkompromi terhadap lidah kita pada rasa akan suatu makanan.
***
Memang semua itu tidak semudah dengan teori yang ada. Tetapi setidaknya kita wajib mencobanya demi terciptanya hubungan yang harmonis. Kadangkala usaha itu juga tidak selalu menghasilkan hal yang menjadi keinginan. Dan itulah saat di mana kebesaran hati masing-masing pasangan untuk dapat menerima kekurangan maupun kelebihan dari pasangan kita.
Yang perlu digarisbawahi dalam hal ini adalah jangan sampai masing-masing pasangan tersebut melakukan hal ini dengan hati yang terpaksa tanpa dilandasi dengan keikhlasan. Karena hal ini akan sangat berpengaruh dan menentukan pada hubungan kita selanjutnya.
Usahakan jika kita melakukan sesuatu harus dilandasi dengan keikhlasan, kejujuran dan juga kasih sayang. Jangan pernah salah satu dari kita memaksakan kehendak atau kemauan kita pada pasangan kita. Ditakutkan hal ini nantinya yang akan menjadikan “bom waktu” yang sewaktu-waktu akan meledak.
Bagaimana suatu perkawinan dapat terselamatkan tanpa adanya “pengorbanan” dari masing-masing pasangan? Atau suatu hubungan bisa terjalin dengan baik tanpa adanya “pengorbanan”. Pengorbanan di sini adalah adanya suatu usaha di mana masing-masing pihak berusaha untuk dapat beradaptasi dengan baik terhadap pasangannya dengan dasar saling menyayangi, keterbukaan dan kejujuran. Mungkin hal inilah yang dapat melandasi suatu hubungan dapat terjalin dengan baik. Atau suatu perkawinan dapat menuju suatu perkawinan yang sakinah, mawaddah dan warrahmah.
***
Kenapa kita harus bersitegang untuk memenangkan ego masing-masing jika dengan saling mengerti dan beradaptasi dengan pasangan kita, kita akan dapat memetik hasil yang lebih besar dan membahagiakan? Ibarat kata, kita setidaknya berpegang pada suatu peribahasa “Bersusah-susah dahulu untuk bersenang-senang kemudian.”
Di awal menjalin suatu hubungan pasti kita pernah merasakan hal seperti ini. Apapun yang kita lakukan seringkali bertentangan dengan pasangan kita. Dan hal ini akan sampai pada puncaknya kepada suatu pertikaian atau pun perceraian. Tetapi jika kita mampu mengekang hawa nafsu untuk melampiaskan ego kita, maka hal buruk yang tidak kita inginkan juga tidak akan terjadi.
Intinya, jika kita mampu beradaptasi dengan pasangan kita, maka kita akan menjadi pemenang dari hawa nafsu yang sering kali kita agungkan yaitu “ego” kita.
Retno Darwanti dan biasa dipanggil Retno. Dilahirkan di ibukota Propinsi Jawa Tengah, Semarang 24 September 1967 yang lalu. Dari tahun 1994 sampai sekarang masih setia mengabdi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Hobi menulis Retno sudah dipupuk sejak dibangku SMA, dengan menulis beberapa artikel di kolom opini yang terbit di Harian Suara Merdeka, Jawa Tengah.

Amin Rusdi
Bagus dan sgt inspiratif..
Andjar Akuwantoro
Ini tulisan sangatninspiratif, berguna utk kalangan kaum muda khususnya. Berhati hatilah dalam menyatukan hati yg berbeda.
Dewa
Inspiratif
Kuwatono Kuwatono
Cukup bagus artikel ini, tak bertele tele, tapi penuh makna dan berguna jk diaplikasikan dlm kehidupan berumah tangga. Semoga bisa mengetuk hati para juri. Aamiin Ya Robbal’alamiin.
Renatha
Tulisan ini memberi reminder saya bahwa pernikahan adalah perjuangan seumur hidup untuk mengalahkan ego masing-masing untuk bisa berjalan beriringan