Sepuluh Tahun Pernikahan dan Insecure, Emang Enak ?!
Kenapa harus insecure kalau bisa bersyukur? Bulan November 2020 lalu saya dan suami tepat menjalani 10 tahun usia pernikahan. Luar biasa rasanya, alhamdulillah. Luar biasa yang saya maksud ini perasaan campur aduk sebenarnya. Ada perasaan bahagia dan syukur yang begitu mendalam memandang perjalanan bahtera kami ini. Tapi juga muncul bermacam-macam perasaan insecure yang datangnya dari saya. Hehe.
Akhir-akhir ini angka perceraian semakin meningkat. Selain terkait imbas dari pandemi, penyebab perceraian seringkali membuat saya berpikir dan kemudian parno sendiri. Mungkin ini yang menjadi dasar insecure yang rasakan. Bagaimana tidak, beberapa kali kaget ketika mendengar teman sudah tidak lagi hidup bersama suami/istrinya padahal sekilas mereka terlihat couple goals banget. Nampak bahagia tanpa kekurangan atau cela di mata saya.
Peringatan 10 tahun ini kemudian menjadi sebuah renungan buat saya. Apa makna pernikahan, apa action yang mesti dilakukan supaya tetap langgeng dan bagaimana cara mengatasi insecure yang tak kunjung reda ini. Kalau kata suami sih, saya saja yang terlalu ruwet dan teoritis, tapi lagi-lagi saya nggak bisa kalau hanya sekadar bermodalkan “jalani aja”.
Memang benar, takdir memegang kendali di kehidupan pernikahan, tapi usaha manusianya juga mesti maksimal ya nggak sih?
Sepuluh Tahun Pernikahan
Banyak yang bertanya 10 tahun menikah kayak gimana rasanya? Apa yang berbeda dibandingkan ketika masih pacaran atau awal-awal menikah?
Alhamdulillah saya dan suami baik-baik saja, seperti pasangan normal pada umumnya. Berantem pernah, terus ya baikan lagi.
Kalau dibilang berbeda, ya pasti berbeda. Karena kondisi berumah tangga itu dinamis, kita dan pasangan juga berubah. Umur makin tua, pengalaman makin banyak. Ya masak tetep gitu-gitu aja. Apalagi dengan hadirnya dua putri kami, hasil kolaborasi 10 tahun pernikahan tentunya, hehe.
Berbeda dengan suami yang lebih easy going, saya orang yang gampang parno. Ya karena insecure parah itu tadi sepertinya. Merasa bukan apa-apa di kondisi saat ini. Tidak bermaksud menyalahkan keadaan karena saya sendiri yang memilih jalan ini. Buat kalian yang background-nya sama seperti saya, gitu juga nggak sih perasaannya? #caritemen hehehe.
Saya dulu bisa dibilang gadis populer di sekolah dan kampus karena saya pintar dan aktif berorganisasi. Mohon maaf, narsis yaa hihihi #kibasjilbab. Lulus kuliah, langsung dapat kerja, langsung dapat buku nikah. Ideal banget kan? Sampai kondisi berubah ketika hamil anak pertama.
Berhenti Bekerja dan Tantangannya
Singkat cerita saya harus resign dari pekerjaan, kemudian memutuskan menjadi Ibu Rumah Tangga (IRT). Pilihan yang tentu saja tidak ada di kamus saya sebelumnya. Suami bagaimana? Support apa pun keputusan saya, alhamdulillah. Sampai titik ini semestinya saya tidak punya masalah yang harus dikhawatirkan ya? Tapi ternyata tidak semudah itu Esmeralda.
Rupanya pilihan saya waktu itu terus menjadi momok hingga hari ini. Awal mula insecure saya kalau bisa dibilang. Yup, hanya IRT. Label yang inferior di masyarakat kita saat ini. Selama pacaran, hampir tidak pernah saya merasakan perasaan “jadi kecil” seperti ini. Sekali pun kami LDR, jarak usia pun lumayan jauh.Tapi setelah jadi IRT seperti mempunyai beban. Mengganjal di hati.
Gimana ya cara supaya saya nggak kudet waktu ngobrol sama suami? Atau agar saya tetap bisa beraktualisasi dan bersosialisasi? dan gimana cara bikin anak dan suami happy, saya juga happy?
Daaaaan pertanyaan-pertanyaan lain dari jiwa insecure dalam diri saya.
Selama kehidupan pernikahan kami, sepertinya memang saya yang sering memantik konflik. Kadang sadar, sekadar pengin berantem supaya nggak woles-woles banget cerita cinta kami, hehehe. Tapi lebih sering tidak sadar akibat dorongan dari jiwa insecure yang ternyata bikin nggak sehat hubungan dengan suami dan juga anak. Astagfirullah.
Sering merasa di titik menjadi orang yang tidak berguna. IRT memang jauh dari mimpi saya sebelumnya. Ketika seharusnya lelah menjadi lillah, tanpa sadar ucapan dari fisik dan jiwa yang lelah ini berkata saya capek, ingin istrihat rasanya. Dan boom! Allah beri saya istirahat. Saya dapat dispensasi untuk tidak mengerjakan semua tugas saya sebagai istri dan ibu, tapi dalam kondisi saya harus dirawat di rumah sakit. Kejadian itu membukakan mata saya. Allah sayang sama saya. Dan saya pun merasa harus mulai berubah.
Kuncinya Penuh Syukur
Sedikit demi sedikit saya sudah bisa meredam ke-insecure-an saya ini. Perlahan saya mulai mengikuti beberapa kegiatan baru (termasuk belajar menulis). Mulai tega mengambil jatah me time, makin terbuka ketika berkomunikasi dengan suami, kembali berani bermimpi tentang cita-cita, ikhlas dengan jalan takdir yang diberikan Pemberi Hidup kepada saya. Prosesnya tidak instan yang pasti. Hingga saat ini saya masih terus belajar dan berusaha. Sudah beberapa kali saya dihadapkan pada keadaan yang akhirnya membuat perfeksionis dan insecure menjadi double kill untuk saya sendiri.
Betapa tidak bersyukurnya saya kalau masih merasa insecure ketika melihat suami yang sayang dan bertanggung jawab kepada saya, anak-anak dan keluarga besar kami. Harusnya saya bersyukur ketika melihat anak pertama saya tumbuh menjadi gadis cantik sholihah yang begitu mandiri dan pintar, berprestasi di olimpiade math dan science skala nasional dan internasional. Betapa tidak bersyukurnya saya ketika masih mengeluh merawat anak-anak sendiri tanpa PRT (atas keinginan saya sendiri) padahal anak kedua saya sudah begitu mandirinya bisa lulus toilet training tanpa drama, bisa calistung tanpa dipaksa di usianya yang masih 3 tahun.
Okeee… Tarik napaaas, hembuskan.
Maka ketika ada yang bertanya apa makna 10 tahun usia pernikahan kami, saya akan jawab “penuh syukur”.
Sayang ya rasanya kalau rasa insecure ini mengalahkan nikmat lain tak terhingga yang diberikan oleh Sang Maha Berkehendak. Sering tertutup mata ini ketika melihat ketidakidealan diri dibanding orang lain, padahal bisa jadi kehidupan kita saat ini adalah impian untuk orang lain.
Untuk Mas Suami, ingatkan terus aku ayat-ayat Surat Ar-Rahman yang membuat kita merinding bersama ketika di Masjidil Haram ya. Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban.
Seorang istri dan ibu yang sedang belajar menulis.
