Cerai itu Boleh tetapi Allah Tidak Suka
I’ve got divorce. Begitu tulisnya di WA. Kaget. Jelas itu reaksi saya saat mengetahui informasi sahabat dekat saya telah resmi bercerai beberapa bulan yang lalu. Saya berpikir kemana saja saya selama ini sehingga peristiwa besar yang dialami sahabat tetapi saya terlambat mengetahui. Dari cerita sahabat saya, kesehatan pernikahannya telah lama terganggu. Sejak anak tertuanya berumur 3.5 tahun sedangkan saat ini telah duduk di kelas 1 SMA. Tentunya bukan waktu sebentar merasakan goncangan demi goncangan selama menjalankan pernikahannya.
Butuh waktu tiga tahun untuk memutuskan mengambil jalan yang berbeda dengan orang yang pernah berjanji sehidup semati. Dan ribuan sujud menghadap pemilik hati mengharap ridha dan petunjukNya untuk mengambil keputusan yang benar dan baik, bagi dirinya sendiri, anak-anaknya dan keluarganya. Dan pada akhirnya pengadilan agama mengabulkan gugat cerai yang diajukan dalam tempo satu bulan. Waktu yang sangat singkat untuk sebuh proses perceraian di pengadilan. Allah membolehkan perceraian dengan memenuhi persyaratan tertentu. Dan Allah telah memudahkan jalan sahabat saya untuk bercerai dengan ayah dari anak-anaknya.
Dalam surat Al-Baqarah ayat 227 disebutkan,“Dan jika mereka berketetapan hati hendak menceraikan, maka sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” Ayat tentang hukum perceraian ini berlanjut pada surat Al -Baqarah ayat 228 hingga ayat 232. Memahami ayat tersebut bahwa Allah Maha Mendengar pada doa hambanya yang curhat tentang masalah dalam pernikahan.
Banyak hal yang bisa kita curhat kepada Allah dalam sujud-sujud sepertiga malam kita. Apalagi dalam kekalutan dan kebimbangan mengambil keputusan besar seperti untuk bercerai. Pertama, kita bisa curhat tentang kesiapan mental dan fisik kita. Seorang wanita akan lebih banyak memakai hati untuk melakukan sesuatu. Meminta kepada penjaga hati agar Allah memberi petunjukNya untuk menguatkan hati dengan takdir yang telah ditentukan di Lauhul Mahfudz. Harap diberi kesabaran jika petunjuk yang diberikan harus berjalan di jalan yang sama, dan diberi kekuatan jika diharuskan menapak jalan yang berbeda. Mempersiapkan mental diri sendiri ini tidak dalam kaedah main-main.
Jika selama ini hidup berdampingan, membahas kehidupan dan rencana masa depan berdua, maka saat berpisah harus dilalui sendirian. Berbeda rasanya jika diceraikan oleh kematian, hati memang telah ikhlas akan ketetapanNya, namun cerai dalam kehidupan, persiapan hati harus benar-benar disiapkan. Dan satu-satunya cara hanya meminta kepadaNya.
Kedua, melakukan curhat untuk menyiapkan anak-anak. Tidak mudah menjelaskan kepada anak-anak bahwa ayah dan bundanya akan berpisah. Bagi anak-anak yang melihat pertengkaran ayah bundanya saja sulit menerima orang tuanya tidak utuh berada dalam satu naungan. Apalagi jika mereka tidak melihat orang tuanya tidak mengalami pertengkaran-pertengkaran, mereka akan mengalami kebingungan dengan situasi dan kondisi keluarganya.
Seburuk apapun hubungan orang tua, dalam mata anak-anak mereka tetap menginginkan kedua orang tua berada dalam satu rumah. Anak juga harus dipersiapkan untuk menerima serangan dari luar lingkungannya yang kita tidak berada di sampingnya. Misalnya dari lingkungan teman-teman sekolah. Bagi seorang ibu, anak-anak lebih berarti dari jiwanya sendiri. Jika seorang ibu mengalami kesakitan pada fisik dan mentalnya, dia akan menerima dengan sabar, namun jangan pernah menyakiti anak-anaknya apalagi di depan matanya sendiri.
Doa seorang ibu untuk menguatkan anak-anaknya adalah doa harian kepada Allah Swt. Rencana keputusan untuk bercerai tentunya harus juga mempersiapkan anak-anak untuk mengetahui akibat-akibat perceraian pada kehidupan mereka nantinya. Dan curhat kepadaNya adalah satu-satunya jalan agar diberi petunjuk terbaik.
Ketiga, yang sangat penting menurut saya adalah curhat kepada Allah untuk memberi kekuatan kepada orang tua. Setiap diri kita tentunya tidak ingin orang tua kita sedih, marah dan malu dengan setiap tingkah kita. Perceraian dalam masyarakat kita masih menjadi hal yang sering sebagai bahan ghibahan. Meminta doa agar orang tua paham dengan keinginan kita tentunya sangat sulit. Namun pada akhirnya orang tualah yang hanya dapat memberikan dukungan terbaik untuk kita.
Dari cerita sahabat saya tersebut, saya belajar bahwa sebuah pernikahan dewasa bukan hanya soal komunikasi, namun ada kesabaran untuk melewati ujian-ujiannya. Namun sabar yang kebablasan juga tidak dapat dibenarkan jika telah adanya kerusakan dalam komunikasi antar anggota keluarga.
Banyak kita dengar dan baca berita kekerasan dalam rumah tangga terjadi berulang-ulang karena salah satu pihak kekeuh dengan alasan sabar dan sayang kepada anak-anak. Dan berharap adanya perubahan perilaku untuk membaik. Allah telah mengatakan “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”.
Dalam sebuah pernikahan, harapan setiap orang adalah jodoh sekali seumur hidup, sampai ke surgaNya. Namun kehendak Tuhanlah sampai kapan jodoh kita berakhir karena hanya Allah Yang Maha Mengetahui. Dan kita sebagai hamba hanya dapat sabar akan takdir yang telah ditetapkannya. Mungkin saja sudah menjadi ketentuannya bahwa jodohnya hanya sampai disini. Dan jalan mengakhiri perjodohannya adalah dengan bercerai. Karena cerai itu boleh tetapi Allah tidak suka. Dan yang dialami teman saya melalui masa persidangannya yang super cepat menunjukkan bahwa Allah membolehkan perceraian (RbR)

Bekerja sebagai ASN. Suka menulis karena ingin melepaskan kepenatan dalam pikiran yang bersiliweran dan berharap tulisan bermanfaat bagi orang lain.

Mirna
Super
Mirna
Super mom