f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Perbuatan

Pasangan Hidup dalam Kacamata Agama

Rumahku surgaku. Demikianlah ungkapan tentang bangunan keluarga yang selalu kita dengar. Surga merupakan gambaran tempat yang sangat indah dan diidamkan oleh setiap insan. Untuk mencapainya tidaklah mudah. Pun dengan keluarga agar menjadi surga yang disegerakan di kehidupan ini. Ia harus dibangun di atas pondasi keimanan yang sangat kuat. Bangunannya harus kokoh sesuai dengan rancangan Islam. Dan interiornya tidak boleh keluar dari koridor ihsan.

Selain itu, pembangunan rumah tersebut tidak boleh berhenti pada makna fisik saja. Ia harus melampaui tujuan lahiriahnya saja, sebagai tempat berteduh dari panas dan hujan. Ia harus berfungi sebagai tempat pembentukan kepribadian anak manusia dalam mencapai kedewasaan dan kesempurnaan hidup. Al-Qur’an mengistilahkannya sebagai keluarga yang tidak meninggalkan putra-putrinya dalam kondisi lemah (QS. al-Nisā`: 9). Baik lemah iman, fisik, ilmu, harta, atau yang lainnya.

Model Keluarga

Perkawinan merupakan pintu menuju terbentuknya keluarga. Pasangan yang berkomitmen untuk hidup bersama menentukan berhasil tidaknya sebuah keluarga. Dalam al-Qur’an ada empat model keluarga yang Allah perkenalkan kepada kita. Pertama, keluarga yang pasangan suami istrinya seiman. Model keluarga ini contohnya Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad dan para istrinya. Keimanan yang mengakar, pemahaman agama yang bagus dan terarah, serta perilaku terpuji yang mendarah daging telah menyatu dalam jiwa mereka.

Kedua, keluarga yang suami istrinya menolak kebenaran agama yang dibawa oleh nabi rasul. Pasangan dalam tipe keluarga ini contohnya Abu Lahab, paman Nabi Saw yang bernama Abdul ‘Uzza dan istrinya. Paman Rasulullah yang pernah ‘berbahagia’ atas kelahiran Nabi dan mendapatkan keringanan siksaan setiap hari Senin ini merupakan salah satu tokoh Kafir Quraisy yang sangat menentang dakwah Islam.

Baca Juga  Mengompos, Cara Kita Menjaga Bumi !

Bahkan dia termasuk salah satu donatur utama pasukan Kafir Quraisy dalam Perang Badar. Sementara istrinya, Ummu Jamil juga tidak jauh berbeda. Ia gemar ke sana kemari sambil membawa fitnah dan api permusuhan untuk menghanguskan ajaran tauhid yang bawa Nabi. Sikap pasangan suami istri ini Allah abadikan dalam surat al-Lahab sebagai pengingat bagi kita umat Islam.

Ketiga, pasutri yang imamnya beriman kepada Allah dan istrinya tidak. Tipe keluarga yang timpang ini contohnya Nabi Nuh dan Nabi Luth. Istri-istri dua utusan ini tetap tidak beriman dan membenarkan apa yang dibawa suaminya. Meskipun sering bersama dan seatap dengan sosok pilihan Allah, keduanya tetap dengan pendiriannya.

Keempat, keluarga yang suaminya ingkar terhadap keesaan Allah namun istrinya tidak demikian. Keluarga ini Allah gambarkan melalui keluarga Fir’aun yang bernama Qābūs ni Muṣ’ab. Istrinya, Āsiyah binti Muzāḥim adalah sosok wanita yang sangat taat kepada Allah. Keimanannya tidak tergoyahkan kendati tinggal serumah bersama orang yang mengaku sebagai Tuhan. Kisah mengenai dua tipe keluarga yang timpang ini bisa kita simak dalam QS. at-Taḥrīm: 10-11.

Mendapatkan Pasangan

Dari empat tipe keluarga ini, tipe pertamalah yang menjadi dambaan kan oleh setiap insan beriman. Apapun agamanya. Karena tidak ada satupun keluarga yang mengimani hari akhir yang tidak ingin bahagia. Bahkan, mereka yang tidak percayapun tidak menutup kemungkinan sama. Ingin memiliki keluarga yang bahagia, seimbang dan harmonis antara pemenuhan kebutuhan lahir batin. Untuk meraihnya, seseorang harus mencari dan memilih pasangan yang tepat.

Adapun cara terbaik untuk mendapatkan pasangan adalah dengan memperbaiki diri. Hal ini tidak ubahnya anak sekolah yang ingin meraih prestasi dalam belajarnya. Tidak ada jalan lain kecuali belajar-belajar, dan belajar. Belajar dalam memahami teori yang diberikan oleh guru dan juga mengembangkannya dengan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan pada mereka.

Baca Juga  Menjadi Perempuan itu Bukan Soal Usia !

Dengan memperbaiki diri, maka hasil yang didambakan akan semakin mudah diraih. Perempuan keji untuk lelaki yang keji. Lelaki keji untuk perempuan yang keji. Sedangkan perempuan baik-baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk perempuan yang baik pula. Demikian rumus penentu jodoh dalam QS. an-Nūr: 26.

Sementara itu, keseimbangan, keselarasan, dan kesetaraan dalam segala hal menjadi sesuatu yang dianjurkan agama untuk diperhatikan oleh mereka yang akan membangun biduk rumah tangga. Dalam bahasa agama disebut kufu’. Dengan adanya kufu’ pada kedua belah pihak, keluarga akan mampu meminimalisir problem yang menghampirinya.

***

Dalam hadis yang populer, Nabi menyebutkan bahwa menikahi seorang perempuan karena empat hal; parasnya yang cantik, nasab keluarganya, harta kekayaannya, dan keberagamaannya. Dari empat kriteria ini yang Nabi garis bawahi sebagai acuan utama untuk meraih kebahagiaan berkeluarga adalah yang terakhir. Keberagamaan atau pemahaman dan pengamalan seseorang terhadap agama mampu mengunci mati pintu ruangan sumber permasalahan.

Setelah memperbaiki diri sebagaimana yang al-Qur’an tekankan, kini giliran kita memahami kriteria yang ditetapkan Nabi barusan. Mengenai keberagamaan ini,  para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan kuncinya. Ada yang hanya menjadikan salat sebagai satu-satunya kunci untuk mengetahui keberagamaan seseorang.

Terkait pernikahan, M. Quraish Shihab berpesan “Menikahlah dengan pasangan pilihanmu. Yang penting dia salat”. Jika kembali pada QS. al-‘Ankabūt: 45, kunci yang satu ini memang sudah bisa menjamin segalanya. Bukankah salat juga menjadi kunci penentu baik buruknya seseorang saat perhitungan amal di akhirat nanti? Ada lagi pendapat yang menambahkan salat dengan berbakti pada ibu sebagai kunci keberagamaan seseorang. Dalam hal ini, salat menjadi penentu baik buruknya hubungan seseorang dengan Tuhannya.

Baca Juga  Memaksimalkan Mu’asyaroh bil Ma’ruf Suami Isteri di tengah Pandemi

Sementara berbakti kepada ibu menjadi tolok ukur perilaku baik seseorang kepada sesama. Lain halnya dengan Gus Baha’. Dalam memilih pasangan, da’i yang kental dengan humornya ini hanya berpesan “yang penting shalatnya masih menghadap kiblat dan mau berpuasa”. Mengenai shalat menghadap kiblat bisa dipahami sebagai shalat yang benar-benar salat. Karena tidak sedikit orang yang mengerjakan salat namun belum bisa melepaskan diri dari kemaksiatan. Kemudian maksud daripada kunci mau diajak berpuasa adalah yang bersaangkutan siap hidup apa adanya.

Bagikan
Post a Comment