f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Perempuan

 Perempuan, Islam dan Menyemai Perdamaian di Indonesia

Lahir sebagai seorang perempuan di tengah konstruksi ala patriarki, bukan hal yang mudah untuk dijalankan. Kerja keras juga kerja cerdas harus diupayakan secara seimbang. Semua itu dilakukan sebagai usaha mempertahankan identitas sebagai manusia yang dilahirkan dengan serangkaian hak.

Ditambah dengan keinginan untuk bekerja sama dengan mereka yang juga mengalami situasi serupa, langkah ini menjadi lebih efektif karena upaya kolektif akan mengumpulkan lebih banyak harapan dan tindakan, yang pada gilirannya memperkuat dasar ketahanan.

Tidak hanya itu, sistem sosial yang dipenuhi dengan unsur patriarki memaksa perempuan untuk “berdiri dan diperhatikan”. Adat istiadat serta berbagai interpretasi agama bahkan memaksa perempuan untuk “diam dan menurut”. Ini menyebabkan perempuan menerima norma-norma yang dikeluarkan oleh kekuatan patriarki, tanpa mempertimbangkan ide dan pengalaman mereka sebagai bagian yang berharga dari struktur sosial.

Ajaran Islam dan Indonesia

Secara sadar penuh, saya mengakui bahwa agama yang hidup di Indonesia membawa pesan perdamaian, termasuk agama Islam. Lain halnya dengan sejumlah kasus yang justru mengatasnamakan agama dalam melakukan aksi kekerasan. Hal itu justru dimotori oleh para pemeluk agama yang memproduksi “pemahaman keagamaan”. Ya, pemahaman keagamaan yang tentu tidak sejajar dengan agama itu sendiri. Bentuknya, berupa hasil pencarian serta pemahaman yang bahkan akurasinya terbatas oleh kemampuan manusia.

Dalam Islam dikenal istilah khalifah fi al-ardh. Di mana istilah itu adalah gelar seluruh manusia yang merupakan representasi Tuhan di bumi. Diksi “representasi” tentu memiliki perbedaan dengan bagaimana wujud asli, Tuhan. Sebagai khalifah fi al-ardh, manusia tidak bertugas untuk menjadi Tuhan, namun menjadi perantara Tuhan. Mirisnya, manusia seringkali memosisikan diri sebagai Tuhan, memberikan penghakiman atas perilaku manusia. Nyatanya, sebagai representasi Tuhan, manusia hanya mendapatkan wewenang untuk menyampaikan pesan Tuhan dan nilai ketuhanan yang tertuang dalam kitab suci maupun ayatu-llah lainnya, bukan untuk menghakimi apalagi memberikan vonis ukhrawi.

Secara teologis, Islam adalah agama yang rahmatan lil-‘alamin. Di dalamnya terkandung makna identitas fundamental dari ajaran Islam. Tanpa memandang jenis kelamin, suku, ras hingga kepercayaan, makna ini menjadi “program prioritas” dari tanggung jawab seorang khalifah fi al-ardh. Sebagai eksekutor di bumi, manusia memegang kendali untuk memproduksi ilmu pengetahuan, menjaga ekosistem sampai menciptakan kedamaian di bumi.

Baca Juga  Menyikapi Masa Idah Wanita Karier

Bumi memang dihuni oleh manusia dengan keberagamannya. Namun realitas itu tidak untuk dijadikan sebagai ajang penindasan dan praktik penguasaan. Justru dari variasi identitas tersebut, harapannya bumi terbentuk lebih ramah untuk semua kelompok, termasuk mereka golongan minoritas. Hal ini karena setiap pemikiran turut serta membangun bumi dan jalan pikir mereka pun dapat terakomodasi secara adil.

Semua elemen masyarakat, terutama mayoritas, perlu berkolaborasi secara nyata guna mendukung kelompok yang rentan agar tetap kokoh dan terhindar dari diskriminasi. Di Indonesia, umat Muslim merupakan kelompok mayoritas dengan lebih dari 80% dari total penduduk. Oleh karena itu, pusat perubahan di negara ini sangat dipengaruhi oleh bagaimana umat Muslim menjalankan peran mereka. Dimulai dari semangat pemberdayaan, perlindungan, hingga kesiapan menghadapi perubahan, semuanya menjadi faktor krusial dalam proses ini.

Tanpa dipungkiri, kehidupan ajaran Islam di Indonesia akan senantiasa menemui zaman yang berubah. Tidak hanya sampai di situ, dari segi wilayah pun Indonesia dan pusat terbentuknya ajaran Islam yaitu wilayah Timur Tengah sudah memiliki perbedaan yang mencolok. Di sinilah peran para tokoh agama Indonesia menjembatani. Bagaimana ajaran Islam yang fundamental tetap lestari, namun juga keberagaman khas Indonesia senantiasa terjaga. Kondisi itu masih sulit untuk abadi di Indonesia hingga hari ini.

Upaya Menyemai Perdamaian

Perempuan telah menjadi korban kekerasan yang banyak mengisi  pemberitaan linimasa tanah air. Tidak memandang golongan, ras, agama, etnis dan identitas lainnya, perempuan menjadi sasaran empuk untuk melancarkan nafsu intimidatif oknum. Seperti yang terjadi pada tahun 2018 di Surabaya. Seorang ibu membawa serta dua anaknya memaksa masuk ke Gereja Kristen Indonesia (GKI) jalan Diponegoro Surabaya, lalu meledakan diri bersama bom yang dibawanya. Masyarakat kesulitan untuk curiga ketika seorang perempuan membawa bom maupun senjata membahayakan.

Baca Juga  Skincare: Berawal Gengsi Berujung Korupsi

Kecurigaan menjadi semakin sulit karena perempuan mampu mengenakan pakaian longgar dan jilbab yang luas, menutupi sebagian besar tubuh mereka. Serangkaian bom dan senjata dapat dengan mudah disembunyikan di dalam pakaian ini, tanpa perlu khawatir tentang terdeteksinya oleh orang lain. Kelompok teroris menggunakan strategi ini untuk menarik perempuan ke dalam peran sebagai pengantar bahan peledak. Mereka juga menawarkan janji-janji yang menggiurkan, seringkali menggunakan retorika “agama” untuk memberikan kedok kredibilitas kepada rencana jahat mereka.

Dua bentuk kekerasan tersebut hanyalah puncak dari masalah yang lebih besar, yaitu tingginya jumlah korban perempuan yang mengalami berbagai bentuk kekerasan. Oleh karena itu, perlu langkah-langkah reformasi yang melibatkan tidak hanya laki-laki yang memiliki keuntungan dalam mengendalikan sistem sosial, tetapi juga perempuan yang rentan terjebak dalam situasi yang berbahaya.

Upaya reformasi ini sebaiknya dijalankan pada dua tingkat, yaitu dalam ranah wacana dan praktik. Meskipun Indonesia telah mengakui pentingnya toleransi dalam berbagai karya tulis, perlu ada keseimbangan antara ini dengan realitas yang terjadi di lapangan.

Dalam tingkat wacana, aspek pendidikan menjadi gerbang bagi setiap elemen dapat melakukan perubahan. Pendidikan yang menerapkan nilai pluralitas dalam kurikulumnya hingga buku ajar yang ditawarkan, mengandung pesan keberagaman. Pesan yang tidak hanya menyadari adanya perbedaan, namun juga menerima, menghargai dan berdialog satu sama lain.

Selain itu, aspek pendidikan keagamaan secara spesifik juga menjadi sorotan. Masyarakat Indonesia dan ajaran agama, selayaknya dua keping mata uang. Keduanya akan selalu berdampingan. Kedekatan ini menjadikan, peran pemahaman agama yang ramah akan perbedaan, menjadi kunci utama. Pemahaman keagamaan yang tidak mudah menggiring opini jama’ah agar membenci satu kelompok atau merasa diri sebagai kaum mayoritas yang berhak melakukan apapun.

Baca Juga  Pesan di Balik Falsafah Jawa “Ajining Diri Soko Lathi Ajining Rogo Soko Busono”

Lebih luasnya, tingkat praktik akan menemui kesulitan lebih lanjut. Di mana yang akan dilakukan ialah pelibatan perempuan sebagai subjek reformasi dan proses perubahan sosial. Aspek kebijakan pun menjadi bagian dari tingkatan ini. sebab itu, peran stakeholder akan senantiasa krusial dalam kerja reformasi sosial di Indonesia. Dari mulai penyusunan regulasi yang mewadahi aspirasi kalangan rentan hingga ke tahap penerapannya.

Pelibatan perempuan menjadi satu langkah yang belum terpenuhi secara utuh. Padahal, dalam kerja reformasi sosial, perempuan menjadi objek kekerasan di banyak lini kehidupan. Tidak hanya public sphere, bahkan private sphere pun perempuan kesulitan untuk tetap “berdiri dan terlihat”. Satu di antaranya adalah pengaruh budaya, pemahaman keagamaan serta politik yang masih dikuasai oknum yang menghamba terhadap patriarki.

Telah tiba saatnya untuk mengambil tindakan kolektif sebagai langkah pencegahan dan solusi. Seiring dengan meningkatnya jumlah kasus yang melibatkan kelompok rentan, khususnya perempuan, Indonesia harus dibangun dengan optimisme bahwa keberagaman tidak akan menghalangi upaya mewujudkan perdamaian. Perdamaian sejati adalah yang menempatkan nilai kemanusiaan di garis depan, bukan perdamaian yang terkait dengan kepentingan sempit dan fanatisme kelompok.

Bagikan
Post a Comment