f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
jalan panjang

Antara Kegetiran dan Keteguhan: Jalan Panjang Menuju Dunia Kesarjanaan

Sejak meyakinkan diri menjadi sarjana dalam bidang ilmu sosial dan humaniora, khususnya peneliti, harapan dan kekecewaan seringkali muncul dalam pikiran dan perasaan saya. Harus diakui, dibandingkan dengan penghidupan sebelumnya, baik menjadi guru dan bekerja di LSM, menjadi peneliti saat ini membuat ekonomi saya perlahan-lahan membaik. Mengapa demikian? Karena saya bisa membeli barang-barang yang sebelumnya rasa sulit saya dapatkan. Apalagi, ini yang terpenting, menjadi peneliti membuat saya bisa membeli properti rumah. Meskipun dengan cara mencicil selama 15 tahun melalui gaji bulanan yang rasanya tidak cukup.

Namun, saat merasa yakin dan harapan itu tumbuh, beragam kekecewaan yang saya temui. Kekecewaan ini seringkali membuat saya ingin menarik mundur dalam dunia kesarjanaan dengan meriset, membaca, menulis, dan kemudian menerbitkan karya. Kekecewaan ini semakin bertambah setelah tahu betapa mengkhususkan diri untuk fokus pada karya publikasi internasional seringkali tidak mudah, baik dari segi emosi, pikiran, maupun uang.

Ada banyak rangkaian mengapa sebuah karya bisa layak terbit atau tidak. Sementara perlu menempuh proses jalan panjang berliku. Sebagaimana diketahui, menyelesaikan satu makalah saja itu merupakan perjuangan yang meletihkan. Namun, ketika sudah selesai, saya harus mengirimkan draft tersebut ke jurnal internasional yang saya tuju. Ketika sudah dikirimkan, apabila dianggap layak, maka akan lanjut dalam proses tinjauan sejawat yang membutuhkan waktu 1-3 bulan. Jika dianggap layak tapi dalam level penulisan bahasa Inggris dianggap masih jauh dari standar penulisan bahasa Inggris sesuai tuturan asli orang Inggris, maka saya harus merevisi lagi dengan mengeluarkan uang untuk membayar proofread.

Biaya proofread ini tidak murah, antara 200-600 Dollar Amerika. JIka dipikirkan matang, jumlah uang sebesar itu lebih baik digunakan untuk bayar cicilan KPR saja perbulan. Ini karena, jikalaupun sudah melewati proses tersebut, belum tentu draft tulisan saya akan melaju ke tahap selanjutnya. Jika dari awal dianggap jelek, draft saya bisa saja gugur di awal melalui proses kurasi ketat dari editor yang mengampuh jurnal internasional.

Baca Juga  Serupa Bilik yang Rapuh di Beberapa Bagiannya

Proses ini yang memakan waktu panjang dan meletihkan. Saya sebut demikian, karena saya memiliki sejumlah draft yang sejak tahun 2020 belum juga terbit. Baik itu karena jurnal menolak atau karena menunggu proses penerbitan. Sementara itu, jika draft ditolak, saya harus memeriksa ulang dan memperbaiki tulisan tersebut agar dianggap layak untuk diterbitkan dan dikirimkan ke jurnal lain. Prosesnya kembali seperti semula; menunggu waktu lama dan kesabaran yang panjang.  

Di tengah rasa letih dan jenuh tersebut, saya berhadapan dengan pragmatisme akademik yang melakukan perselingkuhan dengan politik. Ini sangat mudah akhir-akhir ini dilakukan oleh institusi perguruan tinggi dengan memberikan gelar Guru Besar, Dr Honoris Causa, dan Profesor Kehormatan. Jika dirunut ke belakang, tidak ada karir cemerlang dalam bidang akademik yang disematkan dengan gelar tersebut. Hanya karena mereka orang ternama sehingga dianggap layak mendapatkan gelar kehormatan tersebut. Tentu saja, di balik itu, ada informalitas politik balik meja yang kita tidak tahu apa permainan sebenarnya. Yang jelas, relasi kekuasaan sekaligus kehormatan dengan gelar ini memiliki irisan kuat yang saling menguntungkan.

Dari pihak akademisi, saya berhadapan dengan upaya mengejar Scopus sebagai jalan satu-satunya tampuk kualitas karya seseorang. Satu sisi, mengejar industri scopus sebagai bagian dari pasar akademik sah saja. Di sisi lain, memanfaatkannya sebagai sumber penghasilan bisa mengancam etika dan komitmen akademik akademisi, termasuk peneliti. Di sini, scopus kemudian menjadi medium perjokian. Bagi joki yang menawarkan jasa, mereka mendapatkan keuntungan lebih dari jasanya.

Bagi akademisi yang menggunakan jasa tersebut, hal tersebut akan mempercepat proses Guru Besar yang berdampak terhadap kenaikkan pangkat sekaligus gaji yang lebih tinggi dari sebelumnya. Situasi ini membuat mata nanar orang yang bekerja di jalur kesarjanaan secara serius di tengah kepungan neo-lioberalisme industri Perguruan Tinggi dan lembaga riset yang menuntut lebih dari upah yang dibayarkan.

Baca Juga  Disleksia, Membaca Dunia dengan Cara Unik

Meski begitu, saya meyakini diri bahwasanya ini jalan hidup satu-satunya yang bisa saya lakukan. Dengan meyakini ini saya bisa kokoh di jalan ini dengan fokus untuk terus menulis, menulis, dan menulis. Dengan prinsip ini, kuda-kuda saya menjadi kuat ketika ada badai menghantam. Dan dengan cara ini saya bisa terus memproduksi gagasan tanpa akhirnya memikirkan apakah ada hadiah atau tidak. Sikap ini tentu saja saya bicarakan kepada istri, karena ia adalah manajer di rumah yang mengatur berbagai ihwal sejumlah tagihan, mulai dari uang sekolah anak, listrik, dan gas. Karena tahu, hampir semua penghidupan kami dari dunia menulis, istri percaya dengan jalan saya.

Istri saya percaya bahwasanya sejumlah tulisan yang saya bikin, terutama karya akademik seringkali tidak menghasilkan uang. Sebaliknya, saya seringkali harus nombok saat ingin menerbitkan tulisan di jurnal internasional. Semoga kepercayaan dan keteguhan ini membawa semacam rejeki lain yang terduga atas jalan yang saya tempuh. Semoga karya-karya akademik yang saya produksi bisa menjadi jalan penyambung rejeki untuk Alesha dan Ziki atas kerja-kerja pengetahuan yang dilakukan oleh ayahnya yang seringkali membuat mereka jengkel, mengingat saya selalu menatap laptop berhari-hari tanpa jeda.  

Bagikan
Post a Comment