f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
tips mengatur waktu

Tips Mengatur Waktu Seorang Ibu

Menjadi seorang Ibu bukanlah pekerjaan yang mudah. Mengerjakan pekerjaan rumah yang tiada habisnya seperti belanja, memasak, mencuci, menyetrika, menyapu, dan lain-lain. Belum lagi bila si Ibu tersebut juga bekerja di luar rumah seperti berjualan di pasar, bekerja kantoran atau berbisnis. Mengurus rumah tangga, mengurus anak, mengurus suami, mengurus bisnis atau pekerjaan kantor, rasanya waktu 24 jam  bagi seorang Ibu tidak cukup. Di penghujung malam sering sekali seorang Ibu kelelahan, untuk besok pagi bangun dan memulai lagi kesibukannya. Hal ini tak jarang membuat Ibu bingung dalam mengatur waktu.

Tetapi apakah artinya seorang Ibu harus pasrah dan menikmati saja semua kerepotannya seperti yang sering dinasihatkan orang-orang padanya? “Sudah..nikmati saja..gak lama kok, ntar juga anak-anak akan besar dan mandiri.” Atau, “Huss.. jangan mengeluh. Banyak orang yang ingin menikmati kesibukan seperti kamu.. Sayangnya mereka gak punya anak atau suami untuk diurus.” 

Yah.. sah-sah saja sih memberikan nasihat kepada seorang Ibu yang mungkin sedang curhat. Tetapi lebih daripada sekadar menyuruhnya untuk bertahan atau bersyukur, lebih baik lihat apa hal yang bisa dilakukan si Ibu tersebut. Mungkin beberapa hal ini bisa membantu atau memberi inspirasi.

1. Buat jadwal dan patuhi

Di tengah kesibukan yang sangat padat, alangkah baiknya seorang Ibu menjadwalkan rutinitasnya. Dimulai bangun pagi. Buatlah alarm agar bisa bangun lebih awal. Misalnya jam 5 pagi. Kalau seorang Ibu berangkat kerja pukul 07.30, artinya ada waktu 2,5 jam untuk mengerjakan berbagai pekerjaan rumah, sehingga mengurangi kerepotan di sore hari sepulang kerja.

Bangun lebih awal akan sangat menolong, apalagi kalau sudah ada jadwal atau “to do list”. Misalnya Ibu sudah tahu akan memasak apa, karena menu seminggu juga sudah disusun dan bahan-bahan sudah disediakan di kulkas. Semua akan dilakukan dengan cepat karena tidak perlu bingung atau mikir-mikir.  Bisa dibayangkan kalau si Ibu bangun telat, kemudian sibuk mengobrak-abrik isi kulkas karena tidak tahu mau masak apa. Tentu waktu akan habis dan suasana hati semakin buruk.

Baca Juga  Nak, Kamu Paling Sayang pada Siapa?
2. Bagi tugas dengan anggota keluarga

Keluarga dibentuk karena kerja sama pria dan wanita. Artinya pekerjaan rumah tangga juga adalah tanggung jawab bersama. Tidak ada pekerjaan yang bergantung pada salah satu gender. Misalnya memasak hanya untuk wanita dan memasang lampu rumah untuk pria. Pekerjaan apa pun bisa dikerjakan oleh siapa pun kalau memang dia mau dan mampu. (Kalau melahirkan dan menyusui, pasti pekerjaan wanita. Karena kalau pun pria mau, tapi toh mereka gak mampu..hehe..) Berbagi tugas ini akan membuat pekerjaan lebih cepat dan ringan. Misalnya saat si Ibu memasak, Bapak bisa mencuci atau menjemur pakaian.

Melibatkan anak-anak untuk mengerjakan pekerjaan rumah sejak dini juga bagus. Selain melatih kemandirian, juga sangat meringankan pekerjaan sehingga tidak semua bertumpu ke Ibu. Misalnya anak kecil sudah bisa merapikan dan menyimpan barang-barang sendiri. Seiring bertambahnya usia, anak mulai mencuci piring, menyapu lantai dan pekerjaan lain yang kelak juga akan membuatnya mampu survive Ketika harus jauh dari orang tuanya.

3. Delegasikan sebagian pekerjaan

Jangan memaksakan diri untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Misalnya setiap hari si Ibu sampai di rumah sudah sore dan dalam kondisi letih tetapi masih memaksakan diri untuk mencuci, menyetrika dan akhirnya tidur jauh larut malam sehingga istirahat tidak cukup. Menjalani pola hidup seperti ini dalam waktu berkepanjangan tidak baik buat kesehatan. Padahal sebuah keluarga sangat membutuhkan sosok Ibu yang sehat dan produktif.

Tidak mengapa kalau sebagian pekerjaan didelegasikan kepada pihak lain. Itu tidak akan mengurangi harga diri atau nilai seorang Ibu. Misalnya antarkan pakaian kotor ke laundry, pakai jasa catering untuk memasak, atau mendatangkan orang untuk bersih-bersih rumah. Memang akan mengeluarkan biaya ekstra, tetapi itu digantikan dengan waktu dan tenaga yang bisa dihemat sehingga si Ibu bisa fokus dengan aktivitas lain yang lebih penting.  Kelak kalau Ibu merasa sudah siap untuk mengambil alih pekerjaan itu kembali, silahkan saja. Yang jelas masa-masa kritis atau masa tingkat kesibukan meninggi bisa dilalui dengan  baik.

Baca Juga  Pesona Perempuan Karier
4. Lebih kreatif

Ya.. seorang Ibu harus kreatif menyiasati kesibukannya. Misalnya, daripada menghabiskan waktu untuk berbelanja kebutuhan dapur di pasar, boleh juga gunakan jasa belanja online. Sejak di era pandemi, belanja online makin menjamur karena perubahan gaya hidup masyarakat. Mungkin sebagian menganggap kalau belanja online itu lebih mahal? Yah.. sebenarnya gak juga sih. Tinggal si Ibu perlu memilih penyedia jasa belanja online dengan harga bersaing. Biasanya mereka juga menyediakan layanan pengantaran gratis dengan nominal belanja tertentu. Jangan lupa juga bahwa banyak biaya yang bisa kita minimalisir dengan belanja online. Misalnya uang bensin/ongkos ke pasar, uang parkir, beli jajanan dan lain-lain. Kalau biaya-biaya ini kita hitung, bisa jadi belanja online justru lebih hemat.

Contoh lain adalah dengan memasak 1 kali saja dalam 1 hari. Setelah memasak, makanan di bagi 3 porsi untuk sarapan, makan siang dan makan malam. Makanan untuk malam hari bisa disimpan di kulkas dan tinggal dipanaskan saja sebelum disantap. Tentu ini sangat menghemat waktu di banding harus memasak lagi sepulang kerja. Si Ibu punya waktu lebih banyak untuk bercengkrama dengan buah hati atau pillow talk dengan suami atau sekedar menikmati me-time dengan membaca buku sebelum tidur misalnya. Pengalaman saya, kalau memasak makan malam butuh waktu sekitar 30 menit, sedangkan untuk memanaskan tidak lebih dari 5 menit. Piring kotor yang tercipta juga lebih sedikit dan mencucinya lebih singkat. Sehingga banyak waktu yang bisa kita hemat dengan cara ini.

5. Lebih produktif

Ya, anda tidak salah baca. Kadang yang membuat lelah bukan karena banyaknya pekerjaan. Tetapi karena menggunakan waktu dengan sia-sia. Misalnya si Ibu kebanyakan menonton drakor, bermain medsos atau nongkrong gak jelas. Pikiran ingin mengerjakan ini dan itu, tetapi mata tidak lepas dari handphone. Artinya antara pikiran dengan kenyataan tidak sejalan. Hal ini akan membuat aktivitas menjadi keterpaksaan, apalagi dengan adanya rasa bersalah sehingga menghasilkan kelelahan ekstra.

Baca Juga  Cara Menata Hati (Qolbun Salim)

Ada orang bijak mengatakan, “berikanlah pekerjaan kepada orang sibuk dan dia akan segera menyelesaikannya.” Sibuk dalam hal ini tentu adalah sibuk yang produktif. Bukan sibuk berleha-leha. Semakin produktif si Ibu pasti akan bersemangat menjalani hidupnya. Semakin mengerti, menghargai dan menggunakan waktunya dengan baik. Maka ibu akan produktid dan tidak terkecoh untuk scrolling medsos berjam-jam karena itu tidak menghasilkan apa-apa selain kelelahan.

Itu beberapa hal yang bisa kita lakukan jika telah menjadi seorang Ibu agar bisa mengelola waktu dengan baik. Dengan demikian Ibu akan lebih bahagia menjalani hidup di tengah kesibukannya. Selamat mencoba!

Editor : Putri Ambarwati

Bagikan
Post a Comment