Women Support Women dalam Film Air Mata di Ujung Sajadah
Air mata di ujung sajadah merupakan film yang mengusung genre drama. Film ini ditulis oleh Titen Wattimena dan disutradarai oleh Key Mangunsong. Film ini launching di bioskop Indonesia sejak Kamis, 7 September 2023.
Ada beberapa poin penting yang penulis dapat dari film ini, baik dari aspek keagamaan dan aspek kemanusiaan. Dalam gerakan perempuan melindungi perempuan yang merupakan aspek kemanusiaan menjadi ketakjuban luar biasa bagi penulis. Mari kita cermati hadis berikut sebelum memulai pembahasan lebih lanjut:
Dari Abu Hurairah Ra. dari Nabi Muhammad Saw., beliau berkata: “Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, (atau) karena agamanya. Pilihlah yang beragama, maka kau akan beruntung, (jika tidak, semoga kau) menjadi miskin” (HR Bukhari-Muslim).
Hadis di atas menjelaskan bahwa Islam telah mengusung kriteria terbaik untuk calon pasangan hidup kita, contohnya seperti sosok Aqilla di dalam cerita ini. Aqilla memiliki keseluruhan poin penting dalam kriteria tersebut. Namun, mengenali jati diri sendiri adalah poin yang sangat penting untuk mengonsep diri. Value dalam diri perempuan akan hadir ketika dia sudah mengenali dirinya sendiri.
Menurut Yohanes Robert, konsep diri adalah kesadaran dan pemahaman terhadap dirinya sendiri. Hal ini dapat kita lihat dari adegan Aqilla memilih menikah dengan sosok laki laki yang tidak direstui oleh ibunya. Walaupun terkesan durhaka, dalam konsep Yohanes Robert hal demikian merupakan kebenaran. Kekukuhan Aqilla dalam memilih keputusannya di adegan ini memperlihatkan bahwa dia sudah tahu kemauannya. Walaupun melalui pertimbangan yang cukup berat.
Di dalam penentuan hidup, sikap tegas sangat diperlukan terutama perempuan. Melalui analisis sosial dalam praktik atau istilah gaulnya KEPO (knowing every particular object) ini merupakan salah satu cara dari beribu cara perempuan untuk menguatkan rasa yakinnya tentang keputusan yang akan diambil. Walaupun KEPO ini sendiri memiliki sisi yang kurang baik dari beberapa aspek, tapi ini cara sederhana yang sangat membantu perempuan untuk menguatkan pilihannya, apalagi dalam dunia percintaan.
Setelah menikah, kehidupan Aqilla yang mewah dan penuh fasilitas berubah seratus persen. Aqilla tinggal bersama suaminya di pinggiran Jakarta. Ia juga memilih cuti untuk melanjutkan perkuliahannya di Eropa demi menjadi sosok istri yang baik sesuai keinginannya. Tak lama kemudian Aqilla mengetahui dirinya sedang hamil dan saat itu juga dia harus kehilangan sosok suami yang sangat ia cintai.
Pada saat proses lahiran, Aqilla harus menerima kenyataan bahwa anak yang ada di dalam rahimnya dinyatakan meninggal. Padahal, itu hanya sebuah kebohongan yang dirangkai ibu Aqilla agar anaknya bisa melanjutkan mimpinya di Eropa.
Vera Itabiliana Hadiwidjojo seorang psikolog anak dalam acara yang diselenggarakan oleh ruang guru pernah mengatakan bahwa sosok orang tua sangat berperan penting dalam pendidikan anak. Tetapi tidak semua orang tua paham dalam melaksanakan mekanismenya. Anak yang dididik dari proses kebohongan lebih cenderung memiliki tingkat waspada atau kecurigaan yang berlebihan pada siapapun.
Perbuatan yang ibu Aqilla lakukan merupakan perbuatan yang tidak sesuai dengan konsep gerakan perempuan melindungi perempuan. Tanpa disadari gerakan ini adalah fondasi paling awal dan pelajaran paling dasar yang perlu dipahami oleh setiap perempuan yang ada dunia terkhususnya dalam mendidik.
Dengan melewati pendekatan yang cukup panjang, akhirnya Aqilla dapat berkomunikasi baik dengan Yumna dan anaknya. Tapi Aqilla menemukan titik kelemahan Yumna, ibu asuh dari anaknya. Yumna adalah sosok perempuan salehah yang tidak akan pernah merasakan fase kehamilan sampai kapanpun. Tentu hal ini merupakan penderitaan yang sangat sakit bagi kaum perempuan. Bagaimanapun perputaran kehidupan dan modernnya pemikiran perempuan akan ada posisi yang membuat perempuan itu merasa dirinya lemah dan tidak istimewa.
Di dalam dunia psikologi ada yang disebut dengan pendekatan fenomenologi. Fenomenologi adalah suatu metode pemikiran, “a way of looking at things”. Pendekatan ini memusatkan perhatian pada pengalaman subyektif. Pendekatan ini berhubungan dengan pandangan pribadi mengenai dunia dan penafsiran mengenai berbagai kejadian yang dihadapi tanpa adanya beban prakonsepsi.
Aqilla mencoba membawa Yumna untuk tidak merasa lemah atau kurang beruntung. Poin ini diperlihatkan dalam adegan saat Aqilla bisa membawa pulang anaknya namun gagal. Karena Aqilla sadar betul seberapa kuat peran Yumna dalam hidup anaknya. Maka iya mengembalikan kembali anaknya kepada Yumna. Aqilla sadar bahwa orang tua yang baik adalah orang tua yang tidak membuat anaknya menderita hanya untuk kepuasan hatinya.
Di dalam buku Risalah Perempuan Berkemajuan ‘Aisyiyah 2022 terdapat konsep gerakan perempuan wasathiyah. Wasathiyah sendiri artinya adalah adil, pertengahan atau berlian yang berada di antara perhiasan yang terbaik. Perempuan wasathiyah adalah perempuan yang selalu berpegang teguh terhadap perintah tuhannya.
Aqilla dapat kita kategorikan sebagai perempuan yang melakukan gerakan wasathiyah. Aqilla merupakan sosok yang sabar dan tabah, dia menjadikan agama sebagai fondasi yang kuat untuk dirinya. Hal ini bisa kita lihat dari bagaimana dia menghadapi cobaan yang hadir di kehidupannya. Dengan memasrahkan diri terhadap takdir yang Allah Swt. berikan, Aqilla begitu sangat menikmati perannya.
Pada akhirnya dapat disimpulkan bekal awal yang perlu dimiliki setiap perempuan dalam menikmati proses kehidupan adalah agama. Agama menjadi fondasi yang paling penting untuk semua hamba Allah, khususnya perempuan. Bentuk sabar yang dimilki Aqilla memperlihatkan bagaimana hubungannya dengan sang pemilik alam semesta. Jika bukan karena keyakinan dan kepasrahan diri kepada Illahi rabbi, Aqilla tidak akan mudah melewati semua proses pahit ini.
Maka dapat dilihat bagaimana agama bisa membentuk value terbaik bagi diri kita. Mereka yang mampu merealisasikan gerakan perempuan melindungi perempuan adalah mereaka yang telah selesai dan menemukan jati dirinya. Sikap toleransi hadir dari hasil pemikiran yang dewasa. Namun tidak semua perempuan dewasa memiliki sikap toleransi antar perempuan.
Kecakapan dalam berkomunikasi juga berpengaruh untuk gerakan ini. dalam mendalami seseorang, sering kali kita terlupa untuk menanyakan bagaimana keadaan seseorang tersebut. Pada akhirnya sifat egois muncul dan bisa membabi buta jika orang salah menafsirkan makna dari komunikasih yang dibangun dari awal.
Selanjutnya, perempuan harus menjadi jembatan dari gerakan perempuan melindungi perempuan, bukan malah jadi pembatas. Hadirkan jembatan yang begitu indah agar bisa dilewati dengan bersama. Jangan membedakan hanya karena sebuah kelompok. Kelompok di sini hanyalah wadah untuk berdiskusi dan membantu sesama perempuan atau perempuan lain untuk keluar dari masalahnya. Saling rangkul itu jauh lebih baik dari pada saling sikut.
Sebagaimana dalam QS. At- Taubah : 71
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah auliyâ bagi sebagian yang lain.”
Dari sosok Aqilla kita bisa melihat bahwa gerakan perempuan melindungi perempuan itu bisa diimplementasikan dengan jelas. Gerakan yang bukan hanya sekedar gebrakan pemikiran perempuan hebat tapi bisa jadi solusi untuk semua masalah hidup kaum perempuan.
Sebagai penutup penulis memasukkan satu bait skenario yang bisa jadi acuan untuk merefleksikan diri kita khususnya perempuan. sudah sejauh mana kita mengambil peran dalam gerakan perempuan melindungi perempuan.
“Bagaimanapun keadaannya, jangan sampai hati nurani kita kotor”
Instagram: @Rtamara0
