f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
murah senyum

Menjadi Pribadi yang Murah Senyum (1)

Di Jepang ada sebuah perusahaan pendidikan bernama “Egaoiku”. Secara harfiah bermakna pendidikan senyum.[1] Kabar ini sangat ramai di media sosial pada awal hingga pertengahan tahun 2023. Sebab, tren ini meningkat empat kali lipat pasca pandemi Covid-19. Orang-orang Jepang sudah terbiasa menggunakan masker selama tiga tahun. Sehingga membuat mereka jarang menggunakan otot-otot wajah untuk tersenyum.

Menurut Keiko Kawano, seorang instruktur kursus latihan senyum, “Secara budaya orang Jepang mungkin kurang senyum daripada orang Barat. Karena rasa aman mereka sebagai negara kepulauan dan sebagai negara kesatuan.”

Sejarah juga mencatat bahwa budaya Jepang yang kurang senyum didasari dari politik sakoku atau politik isolasi yang diterapkan Jepang di abad ke-16. Pada saat itu, Jepang secara keseluruhan wilayahnya menerapkan isolasi terhadap dunia luar selama 200 tahun. Selama itulah Jepang tidak melakukan interaksi apa pun terhadap dunia luar. Akhirnya hal itu membuat budaya di sana sangatlah sulit untuk menerima orang luar walaupun hanya dengan senyum kepada mereka.

Kemudian, kebijakan politik isolasi ini dihapuskan melalui Konversi Kanagawa pada tahun 1854 yang diprakarsai oleh Amerika dan negara barat lain. Hal itu membuat Jepang berdiplomasi dan membuka jalur perdagangan mereka dengan negara-negara lainnya hingga kini.

Oleh karena itu, seperti yang Kawano katakan, “Secara budaya, senyuman menandakan bahwa saya tidak memegang senjata dan saya bukan ancaman bagi Anda. Dengan lonjakan wisatawan yang datang, orang Jepang perlu berkomunikasi dengan orang asing lebih dari sekadar mata mereka.”

Untuk sekolah Egaoiku, terdapat biaya belajar yang bisa dibilang tidak murah. Kursus belajar senyum selama satu jam dipatok harga 7.700 Yen atau sekitar Rp800.000,00. Hal ini menunjukkan bahwa di Jepang sangat memperhatikan kualitas manajemen pelayanan secara keseluruhan. Hingga hal-hal kecil pun tidak dianggap remeh seperti masalah senyum!

Baca Juga  Adakah Sekolah yang Ramah Anak?
Senyum itu Salah Satu Seni Kehidupan yang Merilekskan Jiwa yang Penat

Dalam buku yang berjudul Tersenyumlah, Dr. Aidh Al-Qarni menuliskan, senyum adalah salah satu sebab yang paling kuat untuk mendorong manusia agar lebih efektif dan produktif.[2]

Jika ingin hidup dengan tenang, rileks, dan bahagia, hendaklah kita banyak tersenyum. Ada ungkapan pepatah dari orang Cina yang sering mereka ulang-ulang, “Orang yang tidak tahu bagaimana tersenyum seharusnya tidak membuka toko.”

Begitu pula dengan para ulama. Mereka suka dengan humor. Ibnul Jauzi berkata, “Para ulama yang mulia selalu senang dengan humor dan tertawa mendengarnya. Karena ia menyegarkan jiwa dan menghibur hati setelah lelah berpikir.” Meskipun senyum itu mudah dan termasuk salah satu seni kehidupan, tetapi tidak banyak orang yang ingin mempelajarinya.

Alangkah indahnya ketika kita menelaah lebih lanjut tentang senyum yang telah Islam bahas. Kita akan mengetahui bahwa Rasulullah Saw. adalah sosok yang murah tersenyum. Dalam sebuah riwayat hadis, Jarir bin Abdullah Al-Bujali berkata, “Setiap kali saya menjumpai Nabi saw. pasti beliau tersenyum.”

Selain itu, senyum juga termasuk dalam amalan mulia dan bernilai ibadah. Saat kita ingin mendapatkan pahala sedekah, tetapi tidak ada uang atau sesuatu yang bisa kita sedekahkan maka kita bisa berikan senyuman yang hangat kepada siapa saja. Nantinya, malaikat akan mencatat senyuman kita sebagai pahala sedekah. Bayangkan, apabila kita melakukan amalan itu setiap hari. Sudah berapa banyak pahala yang kita dapatkan?

Namun, agak aneh rasanya ketika ada orang yang memilih untuk tidak banyak tersenyum karena tidak mau dianggap ‘sok ramah’. Padahal tatkala kita menyapa dengan tersenyum kepada orang lain, hal itu memberikan indikasi bahwa kita telah menghargainya. Kita menerima kehadirannya. Kita menjadi pribadi dengan akhlak mulia.

Baca Juga  Berbagi Kebahagiaan dengan Sedekah

Bahkan, saya melihat fakta yang terjadi. Ada sebagian orang tidak mau belajar kepada seorang guru X. Bukan karena ilmunya yang bermasalah. Namun, karena sikapnya yang kaku dan tidak murah senyum. Tentu saja banyak orang yang tidak nyaman dengannya. Saat mereka mendengar suara motornya saja, orang sudah waswas. Sebenarnya, boleh saja menjadi guru tegas, tetapi jangan keras. Jangan sampai membuat orang lari ketakutan karena sikap yang temperamental. Sebab, bukan seperti itu cara mengajar yang diteladankan oleh Nabi saw. dan juga para ulama.


[1] Dikutip dari surat kabar media online yang ditulis oleh tim voaindonesia, https://www.voaindonesia.com/a/jarang-senyum-selama-covid-orang-orang-jepang-ikut-kursus-senyum-ala-hollywood-/7123096.html, diakses pada tanggal 27 Juli 2023

[2] Dr. Aidh Al-Qarni, Tersenyumlah, (Jakarta: Al-Qalam, 2005), hal. 20.

Bagikan
Post a Comment