Ibu Penjual Pepaya, Ujian bagi Jiwa Sosial Kita
Sudah dua minggu berlalu, masih saja melekat kuat dalam ingatan akan peristiwa malam itu. Waktu itu, kami pulang dari rumah saudara. Sudah cukup malam, mendekati pukul sembilan. Terasa sangat malam karena ada si kecil yang sedikit rewel lantaran sudah merindukan kasur empuknya.
Karena ada barang yang sangat dibutuhkan, kami terpaksa mampir dulu ke sebuah minimarket. Saya parkirkan kendaraan dan segera masuk ke dalam untuk mengambil barang itu. Saya pergi ke kasir, membayarnya, dan segera kembali ke kendaraan dalam waktu tak lebih dari 5 menit.
Ketika hendak memundurkan kendaraan, tiba-tiba ada seorang ibu tua mendekati kami, mengetuk jendela untuk menawari pepaya yang jadi dagangannya. Entah apa yang saya pikirkan waktu itu. Mungkin karena terlalu fokus memikirkan si kecil yang sedang rewel, atau secara kebetulan juga ada sebiji pepaya yang tadi diberikan kakak saya sebagai oleh-oleh, saya pun menolak tawaran si ibu itu. Saya pilih berlalu pergi dan tak jadi membeli pepaya barang sebiji.
***
Kami pun bergegas melanjutkan perjalanan pulang menuju rumah. Namun, belum juga hilang bayang-bayang minimarket dari kaca spion kendaraan, saya segera menyesali keputusan yang baru saja saya ambil.
Tiba-tiba saya teringat, bukankah saya juga menyadari ini sudah terlalu malam. Iya, betul, ini sudah sangat malam untuk ukuran seorang ibu penjual pepaya. Betapa anak-anaknya di rumah sudah sangat mengkhawatirkan keadaan ibunya. Tetapi di sisi lain, si ibu belum bisa pulang karena dagangannya masih penuh dan belum bisa membawa uang untuk membeli kebutuhan keluarganya.
Seharusnya kuputar balik kendaraanku. Kubeli buah pepaya itu. Bahkan kalau perlu, kuborong semuanya agar si ibu bisa segera pulang dengan hati riang. Namun, semua itu hanya sebatas angan-angan. Karena si kecil sudah sangat lelah setelah seharian bepergian keluar rumah, keputusan itu tidak saya ambil. Dan, sepanjang perjalanan pulang, wajah ibu penjual pepaya itu terus saja membayang. Bahkan hingga sekarang. Pada akhirnya mungkin akan berlanjut sampai masa-masa mendatang.
Seringkali, kita mengambil keputusan hanya dari sudut pandang kita semata. Kita melupakan bahwa keputusan yang kita ambil pasti akan berdampak juga pada yang lainnya.
Soal pepaya tadi, saya hanya melihatnya sebagai buah yang saat itu tidak saya butuhkan. Bukankah saya sudah punya satu buah pepaya yang tak akan habis dimakan satu keluarga. Saya hanya melihat itu. Saya tidak memikirkan bahwa pada setiap biji pepaya yang ditawarkan ibu itu, terkandung tetesan air mata kerinduan anak kepada ibunya. Juga tersimpan harapan besar dari si ibu akan perut yang kemungkinan terisi nasi keesokan harinya.
***
Ya, memang pepaya itu tidak saya inginkan. Maka sudah sewajarnya saya tidak membelinya. Membelinya berarti sama dengan pemborosan karena mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak dibutuhkan.
Tetapi, soal membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan itu, bukankah hampir setiap hari kita melakukannya. Kita membeli makanan di restoran-restoran mahal, sedangkan perut dan tubuh kita sudah cukup diisi dengan sayur asem, tempe, dan sambal.
Kita berbelanja baju setiap kali muncul model terbaru, padahal tumpukan baju lama sudah setinggi merbabu. Rajin menabung demi bisa mengganti gadget dengan model teranyar, meskipun fungsinya tak akan jauh dari mempercantik tampilan wajah kita di dalam layar.
Fenomena harbolnas 1212, misalnya. Bukankah itu juga perayaan atas pemborosan massal. Berapa banyak orang yang tergoda membeli sesuatu yang pada dasarnya tidak menjadi prioritas kebutuhan hanya karena terbujuk oleh rayuan diskon gede-gedean.
Bahkan, tak jarang pula yang pada akhirnya dibuat kecewa lantaran barang yang dibeli tidak sesuai ekspektasi. Asal lihat potongan harganya langsung saja dimasukkan keranjang transaksi tanpa sempat membaca deskripsi. Dan pada akhirnya, barang yang sudah terbeli pun hanya menumpuk jadi rongsokan di dalam lemari penyimpanan.
Kita terlalu mudah menghamburkan uang hanya untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Padahal di sisi lain, kita berpegang teguh pada prinsip penghematan alias menghindari pemborosan. Utamanya ketika dihadapkan pada hal-hal yang bersifat sosial, semacam membeli pepaya dari ibu tua tadi, menyantuni anak yatim, ataupun sekadar memberikan uang lebih kepada seorang abang ojol atau petugas parkir.
***
Ketika pada akhirnya kita memutuskan memborong semua pepaya dari si ibu, apakah itu termasuk kategori pemborosan? Berapa sih uang yang harus dikeluarkan untuk menebusnya? Apakah sebanding dengan alokasi anggaran untuk plesiran dan makan-makan? Toh, kalaupun pepaya itu tidak kita konsumsi semuanya, bisa juga dibagi-bagikan kepada tetangga. Selain dapat menyelamatkan roda ekonomi keluarga si ibu, pahala dari bersedekah kepada tetangga pun akan kembali kepada kita.
Tetapi, lagi-lagi untuk hal-hal yang tidak populer begituan, kita mesti mempertimbangkannya hingga ratusan. Berbeda halnya ketika kita akan mengeluarkan banyak uang untuk jalan-jalan ke tempat-tempat idaman. Ajakan spontan dari seseorang saja bisa langsung kita iyakan. Dan, apakah itu juga sesuai dengan kebutuhan?
Sungguh, kenangan terhadap ibu penjual pepaya itu, akan jadi salah satu keputusan yang paling saya sesali sepanjang waktu. Doa terbaik untukmu. Semoga Allah melapangkan rejekimu.
Pengajar di Solo.

Nelly
Ijin share pak..🙏🙏
Chafit
Silakan..