f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
maqashid

Maqashid Asy-Syariah dan Tantangan Kehidupan

Syariat Islam adalah peraturan hidup yang datang dari Allah Swt yang menjadi pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Hal tersebut memiliki tujuan utama sebagai jalan kebaikan oleh seluruh umat manusia. Dalam ruang lingkup ushul fiqh tujuan ini disebut dengan maqashid asy-syariah yaitu maksud dan tujuan diturunkannya syariat Islam.

Secara bahasa maqashid asy-syariah terdiri dari dua kata yaitu maqashid dan syariah. Maqashid berarti kesengajaan atau tujuan, yang merupakan bentuk jama’ dari maqsud yang berasal dari suku kata Qashada yang berarti menghendaki atau memaksudkan. Sedangkan Syari’ah secara bahasa berarti jalan menuju sumber air, jalan menuju sumber air dapat juga berarti berjalan menuju sumber kehidupan.

Maqashid Syariah secara istilah adalah tujuan-tujuan syariat Islam yang terkandung dalam setiap aturannya. Dalam Maqashid terdapat sesuatu yang tersembunyi dalam diri yang bermaksud dan tidak dapat dilihat dari luar. Begitu pula maksud Allah Swt, terutama yang berkenaan dengan penetapan hukum adalah sesuatu yang tersembunyi.

Oleh karena itu, hanya Allah Swt yang mengetahui maksud-Nya; yang manusia lakukan hanyalah “mengira” berdasarkan petunjuk yang ada, yang hasilnya tentu tidak meyakinkan atau dzanni.

Dalam pelaksanaan untuk mengetahui maqashid syariah dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya adalah :

Pertama, penjelasan yang diberikan oleh Nabi, baik secara langsung atau tidak langsung. Untuk itu seluruh hadis Nabi berkenaan dengan penjelasan ayat al-Qur’an, harus ditelusuri untuk menemukan kalau ada penjelasan Nabi tentang Allah dalam ayat ini.

Kedua, melalui asbabun nuzul yang dapat ditemukan dalam uraian mufasir yang merujuk kepada kejadian yang berlaku pada waktu turunya ayat. Kesulitannya adalah tidak semua ayat disebutkan asbabun nuzulnya dan yang disebutkan belum tentu disepakati para ulama’.

Baca Juga  Melawan Ketertindasan Kaum Perempuan; Perspektif Maqashid Syariah

Ketiga, melalui penjelasan ulama mujtahid atas penelitian atau pamahamannya terhadap firman Allah yang berkaitan dengan hukum.

Keempat, melalui kaidah kebahasaan yang menjelaskan tanda-tanda atau indikasi yang menjelaskan sebab dan akibat seperti yang dipahami dari tanda untuk ta’lil.

Pemikiran Tentang Maqashid Asy-Syariah Dan Maslahah

Maqashid Asy- Syariah dan Mashlahah keduanya ibarat dengan dua sisi mata uang yang tidak terpisah dalam pembicaraannya. Maqashid Asy- Syariah dipopulerkan oleh Abu Ishak al-Syatibi (w. 790 H) dalam bukunya al-muwafaqat fi Ushul al-Syari’ah.

Namun bukan berarti al-Syatibi yang menggagas pemikiran Maqashid Asy- Syariah tersebut. Timbulnya pemikiran tentang Maqashid Asy- Syariah dan maslahah itu dapat kira-kira beriringan dengan pemikiran dengan dalil syara’ dan penggunaannya.

Kebiasaan mujtahid dalam menghadapi suatu kasus yang muncul selalu mencari petunjuk dari Al-Qur’an dari segala seginya. Bila mereka tidak menemukan petunjuk dalam al-Qur’an, mereka mencari jawabannya dalam sunah Nabi dari segala caranya. Jika keduanya tidak menemukan petunjuk, mujtahid mencoba meneladani cara yang Allah dalam menetapkan hukum.

Yaitu di mana ada maslahah maka di situ berlaku hukum Allah Swt. Artinya, ada di mana saat tidak menemukan pada dalil syara’ yang muktabarah, namun di situ ada mudharatnya; maka mujtahid menetapkan hukum larangan sebagaimana Allah melarang setiap yang memberi mudharat.

Begitu pula jika suatu tindakan diyakini baik dan mengandung maslahah, maka mujtahid menetapkan suruhan sebagaimana Allah menyuruh melakukan suatu perbuatan yang baik, baik dalam bentuk wajib maupun mandhub.

Maqashid Asy-Syariah dalam Kehidupan

Ilmu maqashid Asy-Syari’ah adalah suatu disiplin ilmu yang memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Tanpa ilmu tersebut, manusia akan kehilangan arah dalam menentukan tujuan disyari’atkannya suatu hukum dalam kehidupan mereka. Tentunya akan mengalami kesulitan.

Baca Juga  Amalan Ringan Berpahala Besar yang Bisa Dilakukan Setiap Hari

Di antara peran Maqashid Asy-Syariah dalam kehidupan adalah Pertama, Al Maqashid Asy Syari’ah dapat membantu mengetahui hukum-hukum yang bersifat umum ( kuliyyah) maupun khusus (juz’iyyah). Kedua, Memahami nash-nash syar’i secara benar dalam tataran praktek. Ketiga, membatasi makna lafadz yang dimaksud secara benar, karena nash yang berkaitan dengan hukum sangatlah variatif baik lafadz maupun maknanya.

Keempat, ketika tidak terdapat dalil dalam Al Qur’an maupun As-Sunnah dalam perkara-perkara yang kontemporer; maka para mujtahid menggunakan maqashid syariah dalam istinbat hukum setelah mengkombinasikan dengan ijtihad, istihsan, istihlah, dan sebagainya. Kelima, Al-Maqashid Asy-Syariah membantu mujtahid unntuk mentarjih sebuah hukum yang terkait dengan perbuatan seorang hamba sehingga menghasilkan hukum yang sesuai dengan kondisi masyarakat.

Sebagai sebuah contoh dalam penerapan maqashid dalam hukum syari’at adalah ketika Utsman bin Affan melakukan pengumpulan Al Qur’an dalam satu mushaf. Itu dilakukan karena suatu maslahat dan menurut maqashid syari’ah.

Pada awalnya, Rasulullah melarang penulisan Al-Qur’an karena khawatir akan tercampur antara ayat Al-Qur’an dan As sunnah. Akan tetapi setelah illat itu hilang dan banyaknya para huffadz yang wafat; akhirnya Utsman berinisiatif mengumpulkan ayat-ayat tersebut menjadi kesatuan utuh dalam satu mushaf.

Selain contoh di atas, banyak kejadian yang terjadi pada masa ulama’ terdahulu yang sesuai dengan maqashid syariah serta mendatangkan maslahah bagi kehidupan. Tentunya masih banyak lagi contoh-contoh peranan maqasid syariah dalam kehidupan yang menjadi pertimbangan dalam pembentukan hukum dalam kehidupan manusia.

***

Pada akhirnya, bahwa maqashid Asy-Syariah merupakan sebuah konsep yang sangat relevan dipergunakan oleh umat Islam dalam menyelesaikan masalah-masalah baru yang timbul akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang setiap saat.

Baca Juga  Lawan Covid-19 dengan Maqashid

Maqasid Asy-Syariah itu haruslah secara disiplin diketahui berdasarkan nash, seperti yang digagas Asy-Syatibi itu sendiri. bukan dari rekayasa akal, apalagi melalui manipulasi akal, membelokkan makna Maqashid Asy-Syariah untuk melegitimasi ide-ide secular.

Seperti mennafsirkan menjaga agama (hifzh al-din) sebagai “perlindungan terhadap kebebasan beragama”, dan tujuan menjaga akal (hifzh al-‘aql) interpretasinya sebagai “perlindungan terhadap kebebasan berpikir”. Jadi, konsep maqashid asy-Syariah menjadi sekadar instrumen untuk menyusupkan ide-ide liberal yang sekular. Tentunya ide-ide tersebut tidak sesuai dengan konsep dasar dari tujuan maqashid  asy-syariah.

Bagikan
Post a Comment