f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
yukabad asiah kisah emansipatoris perempuan

Pembacaan Emansipatoris Kisah Perempuan dalam Al-Quran (V): Yukabad dan Asiah

Takut. Sedih. Perasaan itulah yang ibunda Musa rasakan ketika mendengar kabar dari istana bahwa Raja Mesir, Firaun, menitahkan pembunuhan massal terhadap bayi laki-laki keturunan Israil yang baru lahir. Perintah tersebut merupakan langkah antisipatif Firaun setelah mendengar ramalan dari ahli nujumnya bahwa kekuasaannya akan runtuh di tangan Bani Israil.

Pembunuhan massal itu memang benar-benar terjadi. Namun, Musa bin Imran yang baru lahir berhasil selamat. Ada tangan Tuhan di balik peristiwa ajaib ini. Di tengah ketakutan dan kesedihan yang dialami ibunda Musa, Tuhan menyampaikan ilham untuk meletakkan bayi Musa di dalam peti untuk dihanyutkan ke aliran Sungai Nil.

Tidak cukup di situ, dalam Q.s. Al-Qashash [28]: 7 Allah Swt. juga menenangkan hati perempuan yang dalam riwayat Israiliyat dikenal dengan nama Yukabad itu untuk tidak khawatir dan sedih. Sebab, atas kuasa Allah pula bayi Musa akan dikembalikan padanya.

Tulisan ini akan mengulas pembacaan Asma Lamrabet tentang perjuangan penuh kasih Yukabad dalam merawat Musa kecil. Selain Yukabad, tulisan ini juga akan menyoroti kisah perempuan lain yang perannya tidak kalah penting, yaitu Asiah, istri Firaun sang tiran. Dua perempuan ini, menurut Lamrabet, adalah perempuan yang bebas (the free women).

Keteguhan Hati Yukabad

Sudah ada ribuan nyawa bayi melayang karena kesewenang-wenangan Firaun. Oleh karenanya, sangat wajar jika Yukabad merasa khawatir dengan keselamatan bayi yang baru saja ia lahirkan. Berbekal kepercayaan atas janji Tuhan bahwa Musa akan selamat dan kembali ke pelukannya, ia hanyutkan bayi itu ke Sungai Nil.

Allah menggambarkan perasaan Yukabad sebagai “wa aṣbaḥa fu`ādu ummi Mụsā fārigā” (dan menjadi kosonglah hati ibu Musa), sebuah pengggambaran yang menunjukkan betapa dalam kesedihan yang dialami oleh seorang ibu yang kehilangan anaknya. Dan jika bukan karena keteguhan hati yang ditanamkan Tuhan ke dalam hati Yukabad, sudah barang tentu rahasia tentang Musa akan bocor.

Baca Juga  Wasiat Luqman Al-Hakim; Pendidikan Karakter dalam Al-Qur’an

Lamrabet membaca kisah ini sebagai bukti kasih sayang tak terbatas Tuhan kepada Yukabad: Dia menemaninya dalam kesusahan, menguatkannya untuk tetap tegar dan kuat, serta mendorongnya untuk menaklukkan ketakutan seorang ibu yang terpisah dari anaknya.

Yukabad kemudian memerintahkan anak perempuannya, Maryam, untuk mengikuti arus sungai Nil dan mengamati diam-diam di mana peti bayi itu akan berlabuh. Alih-alih menjauh dari jarak pandang Firaun, peti itu malah berlabuh di tepi istana sang tiran. Asiah, yang dalam beberapa riwayat disebut mandul, menganggap kehadiran bayi Musa sebagai penyejuk hati sehingga memohon kepada suaminya untuk tidak membunuh bayi tak berdosa itu.

Tidak cukup dengan “membuka hati” Firaun untuk menerima kehadiran bayi Musa, Allah juga mencegah Musa untuk menyusu kepada perempuan-perempuan yang hendak menyusuinya. Maryam yang mengetahui situasi ini dengan hati-hati dan cerdik menawarkan seorang perempuan untuk menyusui bayi Musa. Dengan cara itulah Allah memenuhi janjinya kepada Yukabad.

Kembalinya Musa ke dalam pelukan Yukabad membuat istri Imran itu senang dan bersuka cita. Asiah sempat meminta Yukabad tinggal di istana untuk menjadi pengasuh resmi istana, tetapi ia menolak tawaran tersebut dengan alasan tidak dapat meninggalkan anak-anaknya yang lain.

Tidak ada pilihan lain bagi Asiah selain menerima keinginan Yukabad untuk merawat Musa di rumahnya, karena hanya Yukabadlah yang mampu menyusui dan merawat bayi Musa. Kesempatan merawat Musa tanpa ada intervensi istana ini ia gunakan dengan sebaik-baiknya untuk menumpahkan rasa cinta dan kasih seorang ibu kepada anaknya.

Hikmah yang bisa didapatkan dari kisah Yukabad ini adalah kekuatan emosi seorang ibu, keteguhan spiritual, dan keberaniannya dalam melawan penindasan yang dilakukan oleh Firaun. Dalam bahasa Lamrabet, “She was able to brave, thanks to God, Pharaoh’s hegemonic will” (hlm. 62).

Baca Juga  Fatimah Suri Teladan bagi Keluarga dan Perempuan
Asiah yang Melawan Tirani

Meskipun disusui dan dirawat secara langsung oleh ibu kandungnya, bukan berarti tidak ada keterlibatan Asiah dalam pengasuhan Musa. Kehadiran bayi Musa, sekali lagi, merupakan penyejuk hati bagi Asiah yang tidak mendapatkan kasih sayang dari sang suami.

Dalam Q.s. at-Tahrim [66]: 11, Allah Swt. menggambarkan Asiah sebagai perempuan beriman yang terzalimi. Di tengah deritanya, ia berdoa kepada Sang Maha Pendengar untuk dibangunkan sebuah rumah di sisi-Nya dalam surga serta diselamatkan dari Firaun dan dari orang-orang zalim lainnya.

Berada di lingkungan yang penuh kemewahan dan kemegahan tidak membuat Asiah lupa diri. Ia bisa dan mampu menjaga imannya kepada Tuhan meski dikelilingi oleh orang-orang yang zalim. Asiah, menurut Lamrabet, adalah perempuan yang kekuatan spiritualnya patut dicontoh dan ditiru.

Lebih tegas Lamrabet menyatakan, “Whereas everyone was prostrating in front of Pharaoh and glorifying his reign and power, Asiah refused this slavery and proclaimed her refusal to adhere to his despotic logic. She opposed his diktat despite her powerlessness and impotence in the face of the despotic force of this leader” (h. 63).

Dibesarkan oleh dua perempuan dengan kekuatan spiritualitas dan keberanian melawan tirani itu membuat Musa tumbuh menjadi pribadi yang penuh kebijaksanaan dan punya karakter yang kuat. Keduanya mempersiapkan dan mengajarkan Musa untuk melawan dan menentang perbudakan, ketidakadilan, dan ekspolitasi manusia yang dilakukan oleh Firaun. Yukabad dan Asiah mendidik Musa menjadi seorang Nabi pembebas bagi kaum laki-laki dan perempuan.

Bagikan
Post a Comment