f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
sahabiyyah

Para Sahabiyyah yang Bekerja di Luar Rumah

Siti Munjiah (w. 1955) dalam pidato beliau sebagai perwakilan Aisyiyah di Kongres Perempuan Indonesia tahun 1928 mengatakan: “Perempuan dan laki-laki Islam berhak memperoleh kemajuan dan kesempurnaan. … Kewajiban perempuan dan laki-laki dalam menuntut ilmu dan melakukan amal kebajikan sama haknya. Tidak berkurang sedikitpun haknya, apalagi dalam hal melaksanakan agama.”[1] Ini seolah sebuah penggugah bagi para wanita yang enggan melanjutkan pendidikan tinggi atau kursus keterampilan hanya karena merasa hidupnya toh tidak boleh bekerja di luar rumah.

Sungguh semestinya tidak muncul pola pikir demikian. Muhammadiyah telah menegaskan kebolehan wanita bekerja sekalipun di luar rumah sebagaimana dalam Adabul Mar’ah fil Islam (AMFI): “Nabi sendiri tidak melarang seorang wanita itu keluar rumah untuk keperluan iba­dah, belajar, dan untuk keperluan lainnya.”[2] Bahkan beliau ṣallallāhu ‘alaihi wasallam sendiri yang bersabda dalam bingkai penafsiran terhadap QS. Al-Aḥzāb: 33:

إِنَّهُ قَدْ ‌أُذِنَ ‌لَكُنَّ أَنْ تَخْرُجْنَ لِحَاجَتِكُنَّ

“Sungguh telah diizinkan bagi kalian-wahai para wanita-untuk keluar rumah ketika ada kebutuhan.” [HR. Al-Bukhāriyy no. 4795][3]

Pun Allah subḥānahū wata’ālā mengisahkan dua putri seorang salih di negeri Madyan yang mana mereka bekerja di luar rumah dalam ranah peternakan demi membantu sang ayah yang sudah lansia:

وَلَمَّا وَرَدَ مَاۤءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ اُمَّةً مِّنَ النَّاسِ يَسْقُوْنَ ەۖ وَوَجَدَ مِنْ دُوْنِهِمُ امْرَاَتَيْنِ تَذُوْدٰنِۚ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا ۗقَالَتَا لَا نَسْقِيْ حَتّٰى يُصْدِرَ الرِّعَاۤءُ وَاَبُوْنَا شَيْخٌ كَبِيْرٌ

Dan ketika dia sampai di sumber air negeri Madyan, dia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang memberi minum (ternaknya), dan dia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang perempuan sedang menghambat (ternaknya). Dia (Musa) berkata, “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua (perempuan) itu menjawab, “Kami tidak dapat memberi minum (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang ayah kami adalah orang tua yang telah lanjut usianya.” [QS. Al-Qaṣaṣ: 23]

Dalam AMFI diberikan sebagian contoh wanita sebagian istri Rasulullah yang bekerja : “Siti Zainab binti Jahsyin adalah seorang wani­ta yang mempunyai keterampilan pandai menyamak dan menjahit. Suka bekerja, dan hasilnya banyak dike­luarkan untuk keperluan agama Allah. Beliau banyak melakukan puasa dan sembahyang.”[4] Menjual hasil samak dan jahit tentulah dilakukan keluar rumah. Riwayat tentang pekerjaan Ummul Mu’minīn Zainab binti Jaḥsy raḍiyallāhu ‘anhā ini bisa dilihat dalam hadis berikut yang salah satu penggalannya adalah testimoni ‘Āisyah raḍiyallāhu ‘anhā:

وَكَانَتْ زَيْنَبُ امْرَأَةٌ ‌صَنَّاعَةَ الْيَدِ فَكَانَتْ تَدْبُغُ وَتَخْرُزُ وَتَصَدَّقُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Baca Juga  Belajar Imbang dari Siti Baroroh Baried

 “Zainab adalah wanita yang memiliki keterampilan tangan luar biasa. Ia menyamak kulit serta menjahit pakaian. Ia bersedekah -dengan hasil penjualan kerajinan tangan tadi- di jalan Allah ‘azza wajalla.” [HR. Al-Ḥākim no. 6960][5]

Contoh kedua adalah Ummul Mu’minīn ‘Āisyah raḍiyallāhu ‘anhā sendiri. Memang aktivitas beliau ini tidak profitable secara materi, namun ia tetap merupakan aktivitas pekerjaan di luar rumah. Al-Imām Al-Bukhāriyy meriwayatkan dalam Tārīkhnya dari ‘Abdullāh Al-Bāhiliyy bahwa ia:

رَأَى سِتْرَ عَائِشَةَ فِيْ الْمَسْجِدِ الْجَامِعِ، تُكَلِّمُ النَّاسَ مِنْ وَرَاءِ السِّتْرِ، وَتُسْأَلُ مِنْ وَرَائِهِ

“…melihat tirai hijabnya ‘Āisyah di masjid jami,  di mana beliau mengajari masyarakat dari balik tirai hijab dan beliau diminta menjawab pertanyaan dari balik tirai hijab tersebut juga.” [6]

Aktivitas ‘Āisyah sudah pernah dibahas hukumnya dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT):

تَعْلِيْمُ الْمَرْأَةِ الرَّجُلَ جَائِزٌ لِعَدَمِ وُرُوْدِ النَّهْيِ عَنْ ذَلِكَ. وَيُقَيَّدُ ذَلِكَ الْجَوَازُ بِالْأَمْنِ، مِثْلُ غَضِّ الْبَصَرِ وَعَدَمِ الْخَلْوَةِ

“Wanita mengajar pria hukumnya boleh sebab tidak ada larangan atas itu. Sudah tentu disyaratkan adanya keamanan semisal menundukkan pandangan dan tidak berkhalwat (berduaan).”[7]

Contoh lain sahabiyyah (sahabat Rasulullah dari kalangan wanita) yang bekerja di luar rumah adalah Qaylah Ummu Banī ‘Anmār raḍiyallāhu ‘anhā. Ia sendirilah yang melakukan aktivitas perniagaan di luar rumah, berbeda dari Ummul Mu’minīn Khadījah binti Khuwailid raḍiyallāhu ‘anhā yang tidak langsung terlibat dalam jual-beli namun hanya menjadi investor korporasi perniagaan internasional[8]. Suatu ketika, Qaylah berkonsultasi langsung kepada Rasulullah tentang etika dan fikih berjual-beli, maka Rasul pun memberikannya arahan. Dalam hadis ini Qaylah Ummu Banī Anmār mengatakan:

يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنِّيْ امْرَأَةٌ أَبِيْعُ وَأَشْتَرِيْ

“Wahai Rasulullah, aku adalah wanita yang rutin menjual-belikan barang.”[9]

Contoh keempat adalah Asy-Syifā’ binti ‘Abdillāh Al-‘Adawiyyah raḍiyallāhu ‘anhā. Al-Ḥāfiẓ Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalāniyy menghikayatkan bahwa ia terkenal sebagai salah satu wanita tercerdas. Selain berkarir sebagai guru tulis-menulis bagi para ṣaḥābiyyah lainnya, ia juga melayani praktek ruqyah dan mengajari ruqyah. Malahan ada kejadian penting di masa kekhalifahan ‘Umar bin Al-Khaṭṭāb raḍiyallāhu ‘anhu di mana:

وَلَّاهَا شَيْئًا مِنْ أَمْرِ السُّوْقِ

Baca Juga  Sering Ngeluh? Yuk Muhasabah Diri Lewat Kisah Teungku Hasbi Ash-Shiddiqy!

“’Umar menunjuknya sebagai manajer salah satu divisi di dinas kepengurusan pasar.”[10]

Contoh kelima adalah Samrā’ binti Nuhaik raḍiyallāhu ‘anhā. Al-Imām Aṭ-Ṭabarāniyy meriwayatkan bahwa ṣaḥābiyyah istimewa ini diamanahi jabatan pekerjaan semacam polisi -dalam sebuah riwayat lain: di pasar-pasar[11]:

‌عَلَيْهَا ‌دِرْعٌ غَلِيظٌ، وَخِمَارٌ غَلِيظٌ، بِيَدِهَا سَوْطٌ تُؤَدِّبُ النَّاسَ، وَتَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ، وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ

“Ia mengenakan baju dan jilbab tebal, menertibkan manusia sembari memegang alat pukul di tangannya. Melakukan amar makruf nahi munkar.” [12]

Contoh keenam adalah bibi dari Jābir bin ‘Abdillāh raḍiyallāhu ‘anhumā. Seorang ṣaḥābiyyah yang pernah berbincang langsung dengan Rasulullah serta sebagai salah satu putri dari ‘Uqbah bin ‘Adiyy. Ia bekerja di bidang perkebunan kurma. Memang, mengenai kebolehan wanita bekerja di ladang juga telah disinggung dalam AMFI[13] dan salah satu fatwa Tarjih[14]. Dalam hadis berikut, beliau diizinkan oleh Rasulullah untuk tetap bekerja keluar rumah meskipun sedang masa ‘iddah, yang mana Rasulullah menjawab:

بَلَى فَجُدِّي ‌نَخْلَكِ، فَإِنَّكِ عَسَى أَنْ تَصَدَّقِي، أَوْ تَفْعَلِي مَعْرُوفًا

“Iya, silakan keluar rumah bekerja di kebun, panenlah kurma-kurmamu. Sebab sungguh mudah-mudahan dengan itu kamu dapat bersedekah pula atau melakukan perbuatan kebajikan.” [Muslim no. 1483][15]

Contoh ketujuh adalah Rāiṭah raḍiyallāhu ‘anhā istri dari ‘Abdullāh bin Mas’ūd raḍiyallāhu ‘anhu di mana di suatu masa tatkala Ibnu Mas’ūd sedang tak punya pekerjaan-bukan beliau sengaja menganggur-, ia datang berkonsultasi pada Rasulullah dalam nuansa penuh haru:

يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي امْرَأَةٌ ‌ذَاتُ ‌صَنْعَةٍ أَبِيعُ مِنْهَا، وَلَيْسَ لِي وَلَا لِوَلَدِي وَلَا لِزَوْجِي نَفَقَةٌ غَيْرَهَا …

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah wanita yang pandai membuat kerajinan tangan sehingga aku menjualnya. Tidak ada lagi sumber penghasilan untuk suami dan anakku selain dari ini. …” [HR. Aḥmad no. 16086][16]

Contoh kedelapan adalah para wanita Anṣār yang bekerja memasak dan menjual roti seperti dituturkan oleh Asmā’ binti Abū Bakr raḍiyallāhu ‘anhumā:

تَزَوَّجَنِي الزُّبَيْرُ، وَمَا لَهُ فِي الأَرْضِ مِنْ مَالٍ وَلَا مَمْلُوكٍ، وَلَا شَيْءٍ غَيْرَ نَاضِحٍ وَغَيْرَ فَرَسِهِ، فَكُنْتُ أَعْلِفُ فَرَسَهُ وَأَسْتَقِي المَاءَ، وَأَخْرِزُ غَرْبَهُ وَأَعْجِنُ، وَلَمْ أَكُنْ أُحْسِنُ ‌أَخْبِزُ، وَكَانَ يَخْبِزُ جَارَاتٌ لِي مِنَ الأَنْصَارِ، وَكُنَّ نِسْوَةَ صِدْقٍ

“Az-Zubair (bin Al-‘Awwām raḍiyallāhu ‘anhu) menikahiku pada awalnya dalam kondisi ia tidak memiliki harta maupun budak selain daripada tanah, unta, dan kuda. Setiap hari akulah yang bertugas memberi pakan untuk kuda dan menimba air. Aku juga yang menambal embernya dan mengadon roti. Hanya saja aku tidak pandai membuan roti. Tetapi aku punya beberapa tetangga wanita dari Anṣār yang mahir membuat roti-maka aku membeli dari mereka-dan mereka adalah wanita-wanita yang jujur.” [HR. Al-Bukhāriyy no. 5224][17]

Baca Juga  Mengenal Imam Al-Ajurri dalam Kitab Akhlaqu Ahlil Qur’an (1)

Demikianlah beberapa contoh dari para sahabiyyah yang bekerja di luar rumah. Merekalah teladan para wanita salihah sepanjang zaman. Dari merekalah kita belajar bagaimana memahami dan mengamalkan Islam seutuhnya. Ternyata mereka bukan hanya ibu dan istri yang hebat di dalam rumah, namun juga sosok-sosok luar biasa di bidang industri kerajinan, pendidikan, bisnis, perkebunan, keamanan, dan bidang-bidang kehidupan lainnya. Mereka juga memaksimalkan pekerjaan mereka di luar rumah itu untuk berdakwah dan beribadah kepada Allah subḥānahū wata’ālā.


[1] Susan Blackburn, Kongres Perempuan Pertama (Jakarta: Pustaka Obor, 2007), hlm. 171-172.

[2] Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Adabul Mar’ah fil Islam (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2015), hlm. 51.

[3] Al-Bukhāriyy, Aṣ-Ṣaḥīḥ (Damaskus: Dār Ibn Kaṡīr, 2002), hlm. 1205.

[4] Adabul Mar’ah fil Islam, hlm. 84.

[5] Al-Ḥākim, Al-Mustadrak jld. 7 (Nasr City: Dārut Ta’ṣīl, 2014), hlm. 52.

[6] Al-Bukhāriyy, At-Tārīkh al Kabīr jld. 6 (Riyadh: An-Nāsyir al-Mutamayyiz, 2019), 146.

[7] Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Himpunan Putusan Tarjih jld. 1 (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2014), hlm. 291.

[8] Ibnul Aṡīr, Usdul Ghābah (Beirut: Dār Ibn Ḥazm, 2012), hlm. 1503.

[9] Ibnu Sa’d, Aṭ-Ṭabaqāt al-Kubrā jld. 6 (Beirut: Dārul Fikr, 1994), hlm. 225.

[10] Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalāniyy, Al-Iṣābah jld. 13 (Kairo: Dār Hajar, 2008), hlm. 513-514.

[11] Ibnu ‘Abdilbarr, Al-Istī’āb jld. 4 (Beirut: Dārul Jīl, 1992), hlm. 1863.

[12] Aṭ-Ṭabarāniyy, Al-Mu’jam al-Kabīr jld. 24 (Riyadh: Dār aṣ-Ṣumay’iyy, 1994), hlm. 311.

[13] Lihat: Adabul Mar’ah fil Islam, hlm. 42.

[14] Lihat: Majelis Tarjih & Tajdid, Tanya Jawab Agama jld. 1 (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2015), hlm. 140.

[15] Muslim, Aṣ-Ṣaḥīḥ (Riyadh: Dār Ṭaybah, 2006), hlm. 691.

[16] Aḥmad, Al-Musnad jld. 25 (), hlm. 494.

[17] Ṣaḥīḥ Al- Bukhāriyy, hlm. 1331.

Bagikan
Post a Comment