f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
nyi hajar dewantara

Nyi Hajar Dewantara : Mitra Sejajar dan Adab Perempuan

Perjalanan panjang sejarah Indonesia tidak bisa lepas dari jasa para pahlawan dan tokoh-tokoh pejuang. Tokoh-tokoh tersebut tidak hanya berasal dari kaum pria saja, namun para perempuan juga memiliki andil dan peran. Para perempuan memiliki kontribusi yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Peran kaum perempuan dalam perjuangan bangsa Indonesia selalu menarik untuk dibahas.

Salah satu tokoh yang menarik untuk dibahas adalah tentang Nyi Hajar Dewantara. Nyi Hajar Dewantara lahir pada hari Selasa, 14 September 1890 di Yogyakarta. Dia lahir sebagai putri keenam dari Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Sosroningrat dan dengan nama Raden Ajeng Sutartinah. Raden Ajeng Sutartinah merupakan cucu K.P.A.A Pakualam III dan merupakan istri R.M. Suwardi Suryaningrat atau yang lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara.

R.A. Sutartinah bertunangan dengan R.M. Suwardi Suryaningrat bertangan pada 4 November 1907. Pelaksanaan ijab-qabul pernikahan baru dilakukan pada bulan Agustus 1919. Pada saat itu Suwardi berstatuskan sebagai tahanan karena tulisannya yang berjudul Als ik een Nederlander Was (Andai Aku Seorang Belanda). Suwardi memang seorang jurnalis dan politikus yang sering berkonfrontasi dengan pihak kolonial Belanda.

Sutartinah  selalu  memberi  dorongan  dan semangat kepada Suwardi bahkan membantunya dalam tiap kesulitan yang dihadapi. Pada tanggal 13 September 1913, Sutartinah mendampingi Suwardi berlayar menuju tanah pembuangan di Belanda. “Tiga  Serangkai”  Suwardi Suryaningrat  E.F.E.  Douwes  Dekker,  dan  Tjipto  Mangunkusumo saat pengasingan giat dalam kegiatan kebudayaan sambil mempropagandakan cita-cita perjuangan dan kemerdekaan bangsa Indonesia. Di sana Sutartinah juga ikut membantu memikirkan bagaimana cita-cita kemerdekaan dapat diwujudkan dan bagaimana hidup harus dipertahankan.

Tiga serangkai telah bersepakat bahwa mereka tetap akan berkecimpung dalam bidang jurnalistik. Oleh karena itu mereka menulis tulisan-tulisan yang akan dikirimkan ke berbagai surat kabar di negeri Belanda. Tulisan itu berbau propaganda yang akan memperjuangkan cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia. Selama di pengasingan mereka hidup dengan sederhana dan kekurangan. Dalam kondisi keuangan yang kritis, Sutartinah bekerja menjadi guru di sebuah Fröbel School (Taman  Kanak-kanak) di Weimaar Den Haag.

Baca Juga  Perempuan Sebagai Agen Toleransi: Mendorong Moderasi Beragama di Indonesia

Di Belanda Suwardi dan Sutartinah mendirikan Indonesische Pers Partiy yang memberikan masukan berita kepada surat kabar di Belanda tentang berbagai peristiwa dan situasi di Indonesia. Selain itu mereka juga menerbitkan brosur-brosur dan tulisan-tulisan mengenai Budi Oetomo, Sarekat Islam, Indische Partij, dan lain sebagainya. Adanya Indonesische Pers Partiy membuat orang-orang Belanda membuka pikiran mereka tentang Hindia-Belanda.

Setelah masa pengasingan berakhir, Suwardi dan Sutartinah kembali ke Indonesia. Mereka tidak lagi berkecimpung dalam pergolakan politik lagi. Mereka lebih fokus ke dalam perbaikan pendidikan bagi pribumi. Suwardi mendirikan organisasi Tamansiswa sedang Sutartinah membina gerakan wanita lewat organisasi baru, yaitu Wanita Tamansiswa. Di sana ia menjabat sebagai ketua sekaligus anggota badan penasehat pemimpin umum.

Wanita Tamansiswa adalah organisasi perempuan dalam lingkungan Tamansiswa, yang berasas dan bertujuan sama dengan Tamansiswa. Latar belakang pendiriannya adalah karena kurang dihargainya kaum perempuan di mata pria dan mulai munculnya politik etis. Selain membina organisasi wanita, Sutartinah juga membina Taman Indria (Taman kanak-Kanak) dan Taman Muda sekolah dasar dalam perguruan Taman Siswa.

Pada  tahun  1928  Suwardi  Suryaningrat  mencapai  umur  40  tahun.  Dengan  resmi Suwardi dan Sutartinah mengganti namanya masing-masing dengan Ki Hajar Dewantara dan Nyi Hajar Dewantara. Hal itu mereka lakukan agar bisa lebih dekat kepada rakyat. Mereka secara totalitas mengabdikan diri mereka untuk menyemarakkan dunia pendidikan di tanah air.

Nyi hajar pun juga menjadi salah satu pemrakarsa kongres perempuan pertama di Indonesia. Dalam kongres tersebut, Nyi hajar berkedudukan sebagai anggota biasa. Di sana dia memberikan pidatonya sebagai salah seorang yang mempunyai inisiatif dalam pelaksanaan kongres ini. Judul pidatonya adalah Adab Perempuan. Isi pidatonya adalah mengenai keadaban. Nyi Hajar berpendapat bahwa pada dasarnya yang memegang peranan penting dalam perkembangan baik dan buruknya adab manusia itu adalah perempuan; karena perempuan itu lebih memiliki ikatan batin yang kuat dengan manusia yang dilahirkannya.

Baca Juga  Perempuan Modern dan Teladan Kepemimpinannya

Perjuangan Ki Hajar dan Nyi Hajar berikutnya adalah melawan kebijakan ordonansi sekolah liar pemerintah Kolonial Belanda. Pemerintah kolonial mengeluarkan Undang-Undang yang dinamakan Wilde Scholen Ordonantie (Ordonansi Sekolah Liar) pada tanggal 17 September 1932 yang terdapat dalam Staatsblad nomor 494 tahun 1932. Ordonansi sekolah liar itu mulai berlaku pada tanggal 1 Oktober 1932.

Adanya Ordonansi Sekolah Liar telah menghambat perjuangan bangsa Indonesia. Hal itu juga merampas kemerdekaan Tamansiswa berserta Organisasi Wanita Tamansiswa sebagai lembaga pendidikan dan kebudayaan nasional. Ki Hajar dan Nyi Hajar menyatakan melawan Undang-Undang tersebut dan akhirnya menyebabkan pemerintah kolonial bertindak tegas dengan menutup dan menyegel Tamansiswa.

Dalam menghadapi Undang-Undang tersebut, Nyi Hajar dan Ki Hajar mengadakan perlawanan yang gigih. Ki Hajar Dewantara dan Ki Suwardi mengadakan kampanye terbuka atas larangan sekolah liar di Jakarta dan Bogor sedangkan Nyi Hajar dan pemimpin Taman Siswa lain di Yogyakarta mengadakan gerilya pendidikan.

Dalam gerakan gerilya pendidikan, Nyi hajar dan guru-guru Tamansiswa mendatangi setiap rumah penduduk untuk melaksanakan proses pembelajaran. Apabila serang guru ditangkap karena aksi itu, sukarelawan akan datang menggantikan tugas guru yang tertangkap. Dengan demikian kegiatan belajar tetap bisa berjalan. Karena aksi tersebut, Tamansiswa mendapat simpati dari berbagai organisasi pergerakan. Banyak orang mendaftar sebagai sukarelawan yang siap menggantikan guru yang tertangkap.

Adanya gerakan gerilya pendidikan membuat pemerintah kolonial terdesak. Akhirnya mereka mencabut aturan dengan Surat Keputusan Gubernur Jenderal tanggal 13 Februari 1933 no. 18, untuk membatalkan Ordonansi Sekolah Liar 17 September 1932 No. 494 dan berlaku mulai 21 Februari 1933. Upaya keras yang dilakukan oleh Nyi hajar dalam membantu melawan Ordonansi Sekolah Liar menunjukkan bahwa kaum laki-laki dan kaum perempuan adalah mitra sejajar yang dapat saling membantu dalam menghadapi berbagai masalah.

Baca Juga  Karimah Al-Marwaziyah: Cendekiawan Muslim Perempuan Ahli Hadis pada Abad Ke-5

Nyi Hajar memimpin Taman Siswa sebagai pemimpin persatuan Taman Siswa sampai tahun 1970. Pada tangal 16 April 1971 Nyi Hajar meninggal dunia. Atas segala perjuangannya, Nyi Hajar ditetapkan sebagai pahlawan pergerakan kebangsaan dan kemerdekaan RI dengan keputusan Menteri Sosial Republik Indonesia No. Pal.  52/61/PK/ pada tanggal 16 April 1971. 

Bagikan
Post a Comment