f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
hidup

Hidup adalah Kebermanfaatan

“Hidup adalah tentang kebermanfaatan.
Tanpanya, manusia hanyalah seonggok daging dan tulang”

Sebuah pertanyaan riuh dikepala saya, berputar-putar lalu mengetuk-ketuk otak saya untuk segera memberikan jawabannya, sudahkah saya bermanfaat bagi orang lain? Apa yang sudah saya beri sejauh ini? Barangkali kita semua pernah dihantui oleh pertanyaan tersebut. Pertanyaan sederhana, tapi begitu sulit menjawabnya.

Analogi Kebermanfaatan

Sebuah barang dapat dikatakan rongsokan atau tidak adalah berdasarkan nilai fungsinya. Jika tidak memberikan nilai fungsinya, berarti barang tersebut dapat disebut sebagai rongsokan atau bahkan sampah. Maka agar tidak menjadi rongsokan atau sampah, mengembalikan barang tersebut kepada fungsinya adalah sebuah solusi, dapat diservis atau reparasi.

Secerdas dan sekaya apapun kita, setinggi apapun jabatan kita, masyarakat akan memandang kita tak ubahnya rongsokan bahkan sampah jika tidak memiliki nilai manfaat pada lingkungan sekitar. Seperti pohon yang tinggi lagi besar, namun tiada menghasilkan buah barang satu butir sekalipun.

Kebermanfaatan adalah fitrah manusia sebagai makhluk sosial. Jika hilang nilai manfaatnya maka hilang pula esensi manusianya, lalu apa bedanya dengan syaitan yang hanya mendatangkan keburukan dan dosa? Setiap manusia mengutuknya, tak menghendakinya, ingin mengenyahkannya dan menjahuinya.

Hilangnya nilai kebermanfaatan diri sebagai manusia hanya akan menyisakan sifat rakus, sombong lagi angkuh. Manusia yang demikian adalah seburuk-buruknya manusia. Seonggok daging dan tulang yang terbalutkan kulit, layaknya mayat yang hidup atau zombie.

Manusia penebar manfaat akan selalu ditunggu kedatangannya, kedatangannya melepas dahaga dan memberi bahagia, pun kepergiannya mendatangkan sesak didada. Namun, manusia yang jauh dari nilai kebermanfaatan sebaliknya, sebab hadirnya ia seperti bala, dan ketidakhadiran atau kepergiannya justru disambut dengan suka cita.

Sebaik-baik Manusia

Manusia terbaik di muka bumi ini telah mengingatkan kita tentang siapa itu sebaik-baiknya manusia? Keluar dari bibir indahnya, dengan santun ia katakan, “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani dan Daruqutni)

Baca Juga  Ramadan dan Kesalehan Artifisial

Menjadi manusia terbaik, berarti menjadi bermanfaat bagi yang lainnya. Apapun ras, suku, budaya, bahkan agamanya. Jika dia bermanfaat bagi orang lain, lingkungan, masyarakat atau bahkan hewan sekalipun, maka ialah manusia-manusia terbaik yang menebar kebermanfaatan.

Berbuat baik dan memberikan manfaat tentu tidak terbatas pada apa yang kita yakini. Sebab yang kita tolong dan kita berikan nilai manfaat tak akan menanyakan apa agama kita, suku, ras, ataupun latar belakang kita. Kebermanfaatan berarti sebuah humanistik yang bersifat universal. Siapapun, di manapun dan kapanpun, selama manusia masih hidup di dunia, ia masih bisa menjadi manusia terbaik dengan menebarkan manfaat.

Di tengah-tengah pandemi Covid-19 yang masih kita rasakan, sebuah peluang menjadi manusia terbaik telah Allah buka dengan lapang. Banyak nilai kebermanfaatan yang bisa kita bagi. Bahkan dengan berbagi satu masker saja kita telah memberikan nilai manfaat bagi yang lainnya. Lalu bagaimana jika kita membantu tetangga kanan atau kiri kita yang terdampak ekonominya? Atau memberikan dukungan moral dan bingkisan makanan bagi yang sedang menjalani isoman?

Manusia terbaik kita, Rasulullah Saw. Dari semua tutur katanya, tindakannya bahkan yang melekat pada tubuhnya adalah kebermanfaatan. Apapun yang Rasulullah miliki, maka akan beliau bagi pada yang membutuhkannya.

Manusia terbaik, sekalipun ia telah meninggal, tiada henti-hentinya masih menebar manfaat bagi manusia setelahnya, tak tergerus waktu. Para orang terdahulu dengan buah pikirnya berupa buku atau kitabnya, harta yang ia sumbangkan, atau juga dengan akhlak yang ia tebarkan tetap ada nilai manfaatnya. Mungkin ia telah pergi, tapi nilai manfaatnya masih saja terbagi-bagi. Karena kebermanfaatanya, ia selalu ada dihati.

Manusia-manusia Surga

Barangkali nanti ketika kita telah kembali padaNya, ada satu hal yang akan membuat kita tercengang dan terbelalak. Catatan amal dan dosa kita diperlihatkan, lalu kita tahu ternyata memberikan manfaat kepada orang lain sangatlah penting. Sebuah penyesalan akhirnya menyesakkan dada kita. Kenapa dulu kita tidak lebih banyak lagi memberikan manfaat selagi masih di dunia?

Baca Juga  Mengatasi Depresi Orang Tua di Masa Pandemi

Mungkin salat kita yang rutin lima waktu setiap hari terdapat pahala yang kurang sempurna, tersebab kita masih ada rasa terpaksa saat menjalankannya. Namun siapa sangka, saat kita memberikan manfaat kepada orang lain dengan materi maupun non-materi, adalah benar-benar sempurna pahalanya karena tulus kita lakukan dan panggilan jiwa. Tak ada keterpaksaan karena itu adalah bentuk suka rela yang hanya kita niatkan untuk membantu semata.

Pahala ibadah salat kita mungkin akan berakhir jika kita telah tiada, tapi pahala kebermanfaatan kita akan terus mengalir sampai kapanpun. Manusia-manusia surga adalah manusia penebar manfaat semasa hidupnya. Setelah ia tiada, maka ia berhak mendapatkan buah pahala dari pohon manfaat yang ia tanamnya.

Tak apa belum menjadi orang yang kaya, sebab bermanfaat bagi orang lain tak harus kaya raya. Tak apa jika tidak memiliki jabatan apa-apa, sebab bermanfaat tak harus melihat pangkat. Juga, tak apa jika belum menjadi manusia yang shalih dan shalihah, sebab dengan terus bermanfaat akan menjadikan kita manusia shalih dan shalilah. Dan, tak apa jika kita bukan siapa-siapa, sebab tak penting siapa diri kita, karena yang paling panting adalah sudah bermanfaatkah diri kita?

Bagikan
Post a Comment