Jodoh dan Perkara Bibit, Bebet, Bobot
Jodoh adalah rezeki yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia. Namun, setiap orang memiliki waktu tersendiri menemukan jodohnya. Sebab hal ini menjadi bagian takdir di mana hanya Tuhan yang tahu kapan, di mana, dan dengan siapa tiap orang akan menemukan pasangan sehidup semati.
Seiring bertambahya usia, pembahasan mengenai jodoh akan mulai terpikirkan pada rentang di atas 21 tahun. Usia ini disebut cukup ideal dan matang untuk menikah bagi perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki. Inilah yang menyebabkan sejumlah orang mungkin pernah mendapat pertanyaan tentang jodoh pada usia di atas 21 tahun.
Sayangnya, beragam pertanyaan tentang pernikahan pada tingkat usia matang terasa cukup sensitif. Ibarat petir di siang bolong, seringkali hal tersebut menjadi momok tersendiri bagi mereka yang belum menemukan tambatan hati.
Selain itu, terkadang, pertanyaan ini justru bisa menjadi tekanan yang memicu mereka buru-buru ingin menikah. Padahal kenyataannya, belum yakin sepenuhnya dengan calon pasangan. Alhasil jika salah memilih pasangan, bukan tidak mungkin apabila kehidupan pernikahan justru berpotensi mengalami kegagalan.
Sebab faktanya, kasus perceraian berdasarkan data pada sejumlah sumber menyebutkan telah mengalami peningkatan sejak tahun 2015 dari 394.246 menjadi 480.618 di tahun 2019.
Inilah pentingnya menentukan keyakinan dan kesiapan memilih pasangan untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Lalu sejauh mana kesiapan untuk menikah atau sudah yakinkah dia adalah jodohmu?
Kriteria Pasangan Ideal
Berbicara mengenai pasangan ideal, tiap orang pastinya mempunyai kriteria tersendiri. Misalnya saja kita dapat melihatnya dari segi fisik, kesuksesan karir, ataupun kepribadian.
Kriteria tersebut memang menjadi standar paling umum bagi kebanyakan orang untuk meyakinkan diri melangkah ke jenjang pernikahan. Namun, bagaimana sebenarnya kriteria pasangan ideal?
Berdasarkan hadis H.R. Al-Bukhari, meriwayatkan dari Abu Hurairah r. a, Rasulullah Saw bersabda; ada empat kriteria menentukan calon istri ideal yang juga telah dipakai secara umum untuk kriteria pasangan. Di antaranya yakni karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, serta agamanya. Akan tetapi semua kembali pada diri masing-masing individu dalam menentukan kriteria calon pasangan halal.
Sebab sebagian orang mungkin saja cenderung memilih pasangan dengan kepribadian serupa; baik latar belakang keluarga, karakter, agama, ataupun ekonomi. Ini bisa menentukan kecocokan keduanya sehingga menentukan tingkat kebahagiaan hubungan.
Meski begitu, ada juga beberapa orang memilih kriteria pasangan dengan kepribadian yang bertolak belakang. Sebab, tidak ada standar pasti dalam memilih kriteria pasangan yang ideal.
Bibit, Bebet, dan Bobot: Benarkah Kriteria Pasangan Ideal?
Berkaitan dengan kriteria pasangan ideal, orang Indonesia khususnya Jawa tentunya cukup familiar dengan bibit, bebet dan bobot. Ya, bibit, bebet, dan bobot seringkali menjadi standar penentu dalam memilih jodoh.
Bibit bermakna latar belakang keturunan calon pasangan dalam hal ini orang tua atau keluarga. Bebet berkaitan dengan tingkat ekonomi calon pasangan. Sedangkan bobot, adalah kualitas diri dari calon pasangan yang lebih condong pada segi kepribadian, pendidikan, ataupun pencapaian lainnya.
Filosofi ini sering kali menjadi nasihat dan pesan berharga dari orang tua kepada anaknya yang telah mencapai usia matang untuk menikah.
Hal tersebut dinilai dapat menentukan masa depan hubungan pernikahan agar memperoleh kehidupan rumah tangga harmonis dan langgeng. Namun, tiga kriteria ini terkadang tidak cukup relevan dengan fakta di lapangan.
Di mana bisa jadi salah satu dari ketiga kriteria tersebut justru tidak terpenuhi secara utuh. Misalnya saja ketika calon pasangan hanya memenuhi dua di antara tiga standar kriteria calon ideal apakah sepenuhnya bisa menentukan cocok tidaknya jadi jodoh pilihan?
Ya, meski begitu pemilihan jodoh terkadang juga melibatkan keluarga terutama orang tua. Tidak heran apabila orang tua juga memiliki kriteria menantu idaman yang juga didasarkan pada bibit, bebet, dan bobot. Namun, sekali lagi tidak semua aspek tersebut bisa sekaligus diperoleh meskipun menjadi keburuntungan tersendiri jika mampu mendapatkan ketiganya.
Meyakinkan Diri
Keputusan menikah bukan menjadi akhir sebuah hubungan, melainkan awal dari perjalanan baru bersama pasangan. Tidak heran apabila sejumlah orang memilih menjalin masa pacaran dengan tujuan mengenal lebih dekat pasangannya. Sebab mereka bukan hanya akan mengikat tali pernikahan berdua melainkan juga menikahi keluarga satu sama lain.
Dalam Islam, gambaran petunjuk tentang jodoh terdapat pada surat An-Nur ayat 26. Di mana ayat ini menerangkan bahwa petunjuk jodoh adalah cerminan diri sendiri. Secara singkatnya bermakna bahwa individu yang baik maka akan mendapatkan pasangan yang baik, begitu juga sebaliknya.
Terlepas dari hal tersebut penting mempersiapkan dan meyakinkan diri baik lahir dan batin sebelum memutuskan melangkah ke jenjang pernikahan. Jika telah berusaha dan mulai memantapkan hati dengan pasangan, satu cara yang tidak bisa dilewatkan adalah menyerahkan sepenuhnya tentang jodoh kepada Sang Pencipta.
Meminta petunjuk dia adalah jodohmu bisa dilakukan melalui komunikasi batin dengan Sang Pencipta yakni sholat Istikharah. Tujuannya tentu untuk memantapkan hati dan meyakinkan diri sebelum memutuskan memilihnya menjadi pasangan sehidup semati.
Penentuan bibit, bebet dan bobot tentunya bisa menjadi salah satu aspek yang perlu menjadi pertimbangan dalam memilih kriteria jodoh ideal. Namun hal tersebut juga tidak bisa menjamin sepenuhnya bagi individu untuk memperoleh kebahagiaan dalam berumah tangga.
Solusinya, tentu kembali lagi pada diri masing-masing individu dalam memutuskan calon pasangan yang tepat dan sesuai. Sebab, bisa jadi ia tidak cukup memiliki bebet namun dua di antara ketiga kriteria jodoh ideal dalam filosofi Jawa tersebut justru terpenuhi, bukan berarti ia tak cocok menjadi calon pasangan ideal bukan?
