f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
berbakti

Tidak Berbakti; Anak Fiktif

Pagi-pagi sekali, notifikasi whatsapp saya berbunyi berkali-kali.  Sebelum saya berangkat belanja ke tukang sayur.  Saya membukanya.  Karena biasanya ada informasi tukang sayur sedang libur.  Ah…tukang sayur kekinian.  Semua selalu ada infonya.  Ia membuat grup whatsapp ibu-ibu komplek.  Ada saja informasi yang dishare.  Tapi kebanyakan info libur.

Ternyata yang barusan bukan dari tukang sayur.  Tetangga saya, Bu Dewi mengeluh.  Semalam tidak bisa tidur.  Suaminya yang tentara sedang piket.  Anak bungsunya ikut tes masuk akademi kedinasan.  Ia di rumah dengan si sulung.  Anak laki-laki dewasa yang sudah hampir lulus kuliah.  Sekarang Bu Dewi sedang pusing.  Mumet, katanya.  Dia pun titip beli bubur ayam, susu beruang dan obat pusing. 

“Lha anak-anak Bu Dewi ke mana?” tanya sulung saya.  Ia ini kritis sekali.  Kami memberitahukan kepadanya bagaimana seharusnya seorang anak berbakti kepada orang tuanya.  Sebagian di antaranya, suka membantu orang tua.  Apalagi jika ibu atau bapaknya dalam kondisi kesulitan.  Nah ini rupanya yang menancap pada pikirannya.

“Ada di rumah,” jawab suami saya singkat.  “Bukankah sudah besar dan bisa naik motor?” tanya sulung saya lagi.  “Iya.  Tapi abang itu mungkin juga sedang repot atau sakit,” jawab saya memungkasi pertanyaan sulung saya yang bertubi-tubi.  Saya tahu ia ingin protes.  “Anak Bu Dewi fiktif,” celetuk sulung saya setelah termenung lama.  Hampir meledak tawa saya.  Suami saya juga.  Demi melihat saya menutup mulut dengan tangan, suami saya akhirnya hanya tersenyum.  “Ada di rumah kok gak mau bantu ibunya yang sakit,” lanjutnya.  Pada semester kemarin memang ia belajar tentang fiksi dan fiktif.  Ah, ada-ada saja sulung saya ini.

Berbakti Kepada Orang Tua

Dalam Islam, ajaran keutamaan untuk berbakti kepada orang tua sangat banyak.  Membantu orangtua dalam kondisi yang lapang maupun sempit.  Dalam sebuah hadis, 

Baca Juga  Kurikulum Tega Mendidik Anak

Artinya: “Aku bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah ‘azza wa jalla?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Salat pada waktunya’. Lalu aku bertanya, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Kemudian berbakti kepada kedua orangtua.’ Lalu aku mengatakan, ‘Kemudian apa lagi?’ Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Berjihad di jalan Allah’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berbakti kepada orangtua merupakan salah satu amal yang dicintai oleh Allah.  Hingga Allah menjanjikan dengan doa yang mustajab yang berasal dari orangtua kepada anaknya.  Sebagaimana dalam hadis Nabi:

Artinya: “Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa orang yang bepergian (safar), dan doa baik orangtua kepada anaknya.” (HR. Ibnu Majah)

Maka tak ada alasan lain bagi kita untuk tidak berbakti, berbuat baik kepada bapak dan ibu kita selama beliau masih hidup.  Selama apa yang diperintahkan bukan perbuatan maksiyat.

Artinya: “Taatilah ayahmu selama dia hidup dan selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat.” (HR. Ahmad)

Artinya: “Ada seseorang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia ingin meminta izin untuk berjihad. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bertanya, ‘Apakah kedua orangtuamu masih hidup?’ Ia jawab, ‘Iya masih.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, ‘Berjihadlah dengan berbakti kepada keduanya.’” (HR. Muslim)

Artinya: “Suatu saat kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu datang seseorang dari Bani Salimah, ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk berbakti kepada kedua orangtuaku ketika mereka telah meninggal dunia?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Iya (masih tetap ada bentuk berbakti pada keduanya). (Bentuknya adalah) mendoakan keduanya, meminta ampun untuk keduanya, memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia, menjalin hubungan silaturahim (kekerabatan) dengan keluarga kedua orangtua yang tidak pernah terjalin, dan memuliakan teman dekat keduanya’.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Menanamkan Empati pada Anak

Sayang kepada anak, siapa pun pasti.  Begitu seseorang dianugrahi amanah oleh Allah berupa anak pasti dilengkapi dengan rasa sayang kepadanya.  Rasa untuk selalu melindunginya, merupakan bagian dari sekian manifestasi rasa sayang kita kepada anak.  Tidak berarti rasa siap melindungi dari segala mara bahaya lalu menghilangkan rasa sayang harus mempersiapkan dia menuju dewasa. Anak-anak Ini akan menjadi pribadi-pribadi yang hidup mandiri.  Bagaimana bisa mengatasi masalah dirinya.  Selain itu ia juga harus menjadi manusia sebagaimana yang diharapkan Allah.  Adalah manusia terbaik yang bisa bermanfaat untuk orang lain.

Baca Juga  Dua Butir Berlian dan Lethina

Bagaimana bisa bermanfaat untuk orang lain memang harus terus dilatih.  Dari hal-hal kecil tentang kemandirian.  Sampai ia benar-benar mandiri dan bisa memberesi semua kebutuhannya sendiri.  Selanjutnya ia bisa melakukannya untuk orang lain.  Ini juga harus dimulai dari kemampuannya untuk berempati.  Kepada orang-orang terdekatnya.  Kepada ibu, bapak dan saudaranya.  Terus diasah.  Hingga mampu dan lebih meluas lagi.  Akhirnya terbiasa untuk ringan tangan.  Suka membantu apabila ada orang yang membutuhkan.  Sekali lagi, semua ini tidak bisa instan.  Ala bisa karena biasa, harus dibiasakan.

Keberadaan kita akan berarti ketika bisa bermanfaat untuk orang lain.  Jangan sampai kita menjadi anak fiktif, begitu kata sulung saya.

Bagikan
Post a Comment