Humor Seksis adalah Kekerasan Verbal, Bukan Lelucon
Di dunia yang serba bercanda ini, kebanyakan orang lupa tentang apa itu batas termasuk batasan bercanda yang digunakan untuk basa basi. Dalam keseharian kita, humor memiliki peran yang sangat besar sebagai kata untuk mencairkan suasana atau sebagai dalih bentuk kedekatan pertemanan. Namun, di tengah masyarakat yang patriarkal masih marak terjadi kebiasaan melontarkan lelucon yang berbau seks dan peran gender.
Jika melihat tayangan masa lalu, tontonan anak-anak sudah dibumbui dengan guyonan seksis seperti pada kartun Shinchan, seorang bocah TK yang kerapkali menggoda guru dan perempuan yang dilihatnya. Begitupula terjadi pada tontonan Trio Warkop DKI (Dono, Kasino dan Indro) yang sering menggoda perempuan sebagai lawan mainya.
Jadi, Apa itu Humor Seksis ?
Humor seksis adalah sebuah ujaran yang tujuanya untuk menghina , memperdaya atau memberikan stereotype individu sebagai objek berdasarkan gender mereka. Humor seperti ini dikategorikan sebagai humor penghinaan atau disparagement humor yang berarti merendahkan suatu kelompok sosial.
Contoh humor seksis sudah ada sejak lama adalah pada salah satu episode film kartun crayon shinchan; saat bocah TK itu berkata pada seorang pramusaji perempuan di sebuah restoran “apa aku boleh memesan senyum kakak?” . Jika melihat hari ini candaan seksis marak terjadi pada group whatsapp yang menggunakan sticker perempuan sebagai objeknya.
Lalu bagaimana humor seksis pada hari ini? Mungkin teman-teman sering mendapatkan kiriman beberapa stiker yang ada di group dan tak sedikit stiker tersebut mengobyektifikasi tubuh perempuan. Candaan seperti ini dilakukan oleh banyak kelompok terutama pada laki-laki yang kemudian menjadikan ini sebagai bahan yang wajar dan dianggap guyonan santai.
Humor seksis kerap kali dihadirkan sebagai bumbu yang dianggap biasa agar membuat percakapan lebih seru. Kelompok atau perempuan yang merasa menjadi objek dan protes justru dianggap baper dan tidak asik untuk diajak bercanda karena terlalu mudah terbawa perasaan dinilai sensitif ; “ Ayolah itu hanya bercanda, jangan terlalu baperan”. Betapa menyebalkannya menemukan jawaban seperti itu setelah melontarkan candaan seksis yang dianggap menghibur itu.
Kita Perlu sadar , Lelucon Seksis termasuk Kekerasan verbal !
Humor seksis terus berkembang dan tetap langgeng bukan hanya karea dianggap sebagai bagian dari komunikasi dalam keseharian; namun guyonan ini telah menyatu pada mindset sebagian besar masyarakat patriarkal.
Banyak orang yang tidak menyadari tentang ucapan yang dilontarkan dalam lelucon keseharian itu termasuk dalam kategori kekerasan verbal. Kenyataannya tindakan yang mencakup mengomentari kondisi fisik, bersiul dengan tujuan menggoda, merendahkan orang lain dengan membawa gendernya hingga guyonan seksis adalah kekerasan verbal.
Kekerasan verbal yang tidak disadari ini disebabkan karena bentuknya sebagai sebuah lelucon sehingga banya yang berpikir bebas-bebas saja untuk bercanda. Kenyataanya, hal inilah yang membuat secara tidak langsung sebagai bentuk perilaku pelecehan seksual.
Humor Seksisme Jangan Ditoleransi
Pada salah satu akun twitter UN Women Indonesia, menurut Sakdiyah guyonan seksis mungkin tidak terlihat membahayakan. Namun pada kenyataannya, guyonan seksis pun menciptakan lingkungan yang tidak aman untuk perempuan dan bahkan bisa mendorong perilaku kekerasan seksual terjadi.
Humor seksis yang dianggap lumrah akan mengakibatkan seksisme dan pelecehal seksual menjadi sebuah hal yang lazim. Misalnya, humor tentang pemerkosaan yang terus dianggap lumrah akan membentuk suatu budaya di mana budaya yang mendukung kekerasan terhadap perempuan; ketika perempuan dilihat sebagai obyek dan komentar lelucon seksual yang mendiskriminasi dan menyakitkan justru dianggap lucu.
Thomas E.Ford, Professor of Social Psychology Western California Universit memiliki pendapat sama dengan Sakdiyah; bahwa sejumlah peneliti melihat bahwa laki-laki yang terbiasa dengan paparan guyonan seksis dan menoleransinya akan cenderung melakukan kejahatan seksual terhadap perempuan.
Menganggap lelucon seksis sebagai hal yang biasa adalah salah besar. Coba bayangkan sangat miris, jika seorang perempuan merasa benar-benar dilecehkan; namun orang di sekitarnya hanya merespon dengan mengatakan bahwa itu hanyalah sebuah lelucon bukan hal yang benar-benar serius.
Stop, Humor Seksis Bukan Sebuah Lelucon
Fakta menunjukkan bahwa tidak hanya laki-laki yang bisa tertawa akan lelucon seksis namum perempuan ada yang bersikap demikian. Mereka yang ikut tertawa pada humor seskis tersebut secara tidak langsung menunjukkan bahwa dalam pikiranya terdapat prasangka negatif terhadap perempuan yang akan berujung pada pendiskriminasian terhadap perempuan.
Perlu diketahui juga, humor seksis yang ditujukan terhadap perempuan sama tidak bisa diterimanya dengan humor seksis terhadap laki-laki. Ketika menyebut bahwa “Laki-laki bodoh saat diminta belanja bulanan” atau ketika lelucon “ laki-laki bertindak dengan mengikuti dorongan seksual semata”. Humor tersebut sama tidak lucunya dan diskriminatif.
Ketika humor seksis melanggengkan diskriminasi terhadap kelompok minoritas, masih ingin bercanda seksis?
