Membebaskan Diri dari Penjara Toxic Marriage
Tidak ada pernikahan yang bebas dari berbagai masalah; pasti ada momentum perselisihan hingga pertengkaran. Hal itu terjadi karena adanya perbedaan pendapat satu dengan yang lain. Kita harus memaklumi bahwa perbedaan pendapat yang terjadi adalah suatu keniscayaan. Sebab, pernikahan adalah tentang menyatukan dua individu, dua keluarga, dan dua pemikiran.
Masing-masing tentu memiliki kepribadian yang berbeda dan kerapkali ingin mempertahankan pendapatnya masing-masing. Sehingga kita harus mampu mengantisipasi dan mempersiapkan diri dalam memanajemen emosi agar semua bisa teratasi. Masalah perselisihan dalam hubungan suami istri lebih dikenal dengan istilah toxic marriage. Toxic marriage yaitu kondisi hubungan beracun antara suami istri dalam sebuah pernikahan yang cenderung melukai satu sama lain.
Banyak ciri-ciri bahwa sebuah pernikahan itu termasuk dalam toxic. Mulai kurangnya komunikasi dua arah, kecemburuan berlebihan, ancaman, selalu menyalahkan, perkelahian, pertengkaran tanpa henti dan lain sebagainya. Hidup dalam pernikahan yang toxic tentunya dapat menghilangkan semua komponen kebahagiaan dalam keluarga.
Hilangnya perasaan tenang dalam diri, rusaknya kesehatan mental, hingga mampu mendorong seseorang untuk memiliki pikiran bunuh diri. Hal itu merupakan komponen kebahagiaan dalam keluarga yang hilang akibat toxic marriage. Kondisi seperti ini juga kerapkali memunculkan keinginan untuk mengakhiri ikatan pernikahan.
Situasi ini sulit dan merupakan suatu dilematika bagi pasangan manapun yang sedang mengalaminya. Kita harus berpikir keras untuk keluar dari zona ini. Untuk itu saya ingin berbagi beberapa tips agar dapat keluar dan terbebas dari pusaran hubungan pernikahan yang tidak sehat ini.
1. Lakukan Assesement
Sebelum memutuskan untuk bertahan atau berpisah pada sebuah pernikahan yang toxic, lakukan terlebih dahulu penilaian tentang kelebihan dan kekurangan jika perceraian menjadi pilihan. Tanyakan pada diri kita sendiri apakah pernikahan ini masih patut untuk dipertahankan atau tidak.
Jika memang masih bisa dipertahankan, lakukan dengan solusi yang terbaik agar dapat mencapai perubahan. Namun jika perceraian harus terjadi, usahakan lakukan semua prosesnya dengan cara yang baik-baik pula. Jangan sampai jalan perceraian atau pertahanan yang kamu pilih akan membawa pada jurang penyesalan seumur hidup. Inilah pentingnya kita harus mampu melakukan assesement terhadap perjalanan rumah tangga dengan pasangan kita. Lakukan dengan benar dan pertimbangkan semuanya secara matang dan tidak terburu-buru.
2. Satukan Antara Rasa Cinta dan Logika
Rasa mencintai pasangan yang masih melekat dan berlebih sering kali dijadikan alasan untuk mempertahankan pernikahan yang tidak sehat ini. Namun, ada baiknya kamu cari tahu alasan apakah yang membuatmu masih memiliki rasa cinta walau hubungan yang terjalin adalah sebuah toxic.
Kita harus sadar, yang membuat kita bertahan itu cinta atau sikap ketergantungan semata. Ketika seseorang itu sudah ketergantungan dengan pasangannya, maka seringkali akan berpikir bahwa hidupnya tidak akan bahagia jika pasangannya tidak bersamanya lagi. Inilah mengapa penting untuk menyatukan antara perasaan dan logika yang kita miliki.
Seringkali pertimbangan yang hanya mementingkan satu sisi akan menghasilkan keputusan yang tidak seimbang. Jangan sampai kamu hanya mengedepankan cinta akhirnya menimbulkan luka yang berkepanjangan. Atau mengandalkan logika semata hingga membuat kamu tak berdaya dalam pernikahan. Jadi, satukan keduanya agar kamu meraih kebahagiaan dan lepas dari toxic marriage.
3. Pikirkan Kebahagiaan Diri Sendiri
Seseorang yang berada dalam toxic marriage sering kali melupakan kebahagiaan diri sendiri. Tentu ini sangat tidak baik karena pernikahan yang sehat bukanlah saling menyakiti diantara keduanya, tetapi saling membahagiakan. Jadi penting rasanya memikirkan kebahagiaan yang ada dalam diri kita sendiri.
Jangan selalu mengedepankan kebahagiaan pasangan, tetapi kita menjerit dalam alunan penderitaan yang tersembunyi dalam hati. Usahakan pertimbangkan tentang kebahagiaan diri sendiri dalam pernikahan yang kita jalani. Jika memang memungkinkan kebahagiaan masih bisa tercipta, maka pernikahan amat sangat layak dilanjutkan. Namun, jika yang akan muncul adalah penderitaan yang berkepanjangan, maka kamu perlu memikirkan kembali.
4. Jangan Libatkan Orang Lain dalam Pengambilan Keputusan
Ketika akan memutuskan suatu masalah besar dalam hidup kita, pasti memerlukan beberapa pandangan dari orang lain sebagai bahan pertimbangan. Termasuk dalam memutuskan pernikahan yang toxic ini layak dipertahankan atau tidak. Ini bertujuan agar kita mampu mengambil keputusan yang tuntas dalam suatu pernikahan yang sedang kita jalani.
Jangan sampai kita mengambil keputusan hanya didasari karena rasa keegoisan yang ada pada diri. Mintalah beberapa pandangan orang yang kamu anggap layak. Tetapi lagi-lagi keputusan akhir ada di kamu. Jangan sampai keputusan yang kamu ambil adalah bahan adopsi total dari orang lain. Jadi, mintalah pendapat pada orang lain adalah bahan pertimbangan, bukan alat pengambilan keputusan.
5. Teropong Potensi Masa Depan Pernikahan
Banyak orang terjebak dalam toxic marriage hanya memikirkan kondisi yang terjadi saat memutuskan bertahan atau mengakhiri pernikahannya. Mereka lupa memperhitungkan potensi masa depan atas keputusan yang mereka ambil. Semua ini perlu peneropongan dan pertimbangan sebelum mengambil keputusan; sebagai bentuk ikhtiar yang kita lakukan untuk mendapatkan kebahagiaan.
Apakah ketika memilih berpisah dari pasangan akan merdeka, lebih bahagia, dan anak-anak ikut bahagia melihat atas keputusan ini? Atau malah sebaliknya; saat memilih bertahan apakah akan ada perubahan dan tercipta kebahagiaan atau justru lebih parah? Kemungkinan-kemungkinan semacam ini bisa menjadi bahan untuk kita meneropong masa depan pernikahan nantinya.
Kita harus pahami dan dalami potensi yang akan terjadi sebelum mengambil keputusan. Sebagian kasus pernikahan toxic masih bisa terselamatkan dengan komunikasi dan saling terbuka antar pasangan untuk saling memperbaiki diri. Namun, tidak sedikit juga yang memilih untuk mengakhiri pernikahan dengan penceraian meskipun ini jalan yang sangat dibenci oleh Allah SWT.
Semua keputusan bergantung pilihan masing-masing yang menjalani, karena sejatinya tujuan pernikahan adalah untuk kebahagiaan dan menebar kasih sayang antara suami dan istri. Bukan malah mendatangkan penderitaan. Sebagaimana firman Allah SWT, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia ciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya. Dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS Ar-Ruum: 21)

Mahasiswi Jurusan Ilmu Perpustakan dan Informasi Islam, UIN SATU Tulungagung.
Instagram : @salsaa_987
