Hari Ibu di Tengah Pandemi
Peringatan hari Ibu di Indonesia di peringati pada tanggal 22 Desember. Hari Ibu memiliki makna yang sangat penting dan begitu dalam untuk beberapa individu. Walaupun sebenarnya banyak di antara kita yang belum terlalu mengetahui esensi dari hari Ibu itu sendiri. Bukan tanpa alasan, memang kadang masih banyak yang salah dalam memaknai hari Ibu. Ada yang hanya membuat hari Ibu sebagai formalitas belaka, di mana ia menyampaikan kata-kata indah tentang ibunya lewat media sosial. Namun si ibu sendiri tidak membacanya atau bahkan tidak tahu sama sekali tentang hal manis yang dibuat oleh anaknya tersebut.
Lalu, hari Ibu itu apa sih? Idealnya kita harus bagaimana dalam menyikapinya? Hari Ibu tidak hanya dirayakan di Indonesia saja, karena di negara lain seperti Amerika, Jerman, Kanada, Belanda, Singapura, Malaysia, Hong Kong, Taiwan dan 75 negara lainnya; juga memiliki peringatan hari Ibu yang diperingati pada hari minggu di pekan kedua bulan Mei. Di negara lain, hari Ibu diperingati untuk memanjakan Ibu yang telah bekerja mengurus rumah tangga setiap hari tanpa mengenal waktu dan lelah.
***
Di Indonesia sediri tanggal peringatan hari Ibu 22 Desember diambil dari ulang tahun hari pembukaan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama; yang digelar dari 22 hingga 25 Desember 1928, di Yogyakarta. Kongres ini dihadiri sekitar 30 organisasi wanita dari 12 kota di Jawa dan Sumatra. Kongres Perempuan Indonesia ini membahas isu-isu dan masalah yang berkaitan dengan perempuan seperti tentang pendidikan dan pernikahan bagi seorang perempuan.
Yang menjadi agenda utama dalam Kongres Perempuan Indonesia adalah menyatukan semangat perjuangan bagi para perempuan di penjuru Nusantara pada saat itu. Maka dengan adanya kongres ini, diharapkan perempuan mampu turut andil dalam perjuangan kemerdekaan. Peranan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita, pernikahan usia dini bagi perempuan, dan lain sebagainya
Bukan hanya pada saat itu saja, hingga saat ini peran perempuan masih senantiasa menjadi tonggak utama dalam kemajuan suatu peradaban. Di mana ibu bersama ayah adalah sosok pertama yang akan mendidik dan menanamkan norma-norma kepada anaknya. Bahkan sejak dalam kandungan seorang ibu secara sadar atau tidak telah memberikan pendidikan kepada sang janin lewat segala pola pembawaan diri, kebiasaan, perasaan, dan cara berfikir sang ibu. Karena menurut penelitian bahwa bayi yang ada di dalam kandungan; sudah mampu mendengar bahkan turut merasakan suasana hati yang dirasakan oleh ibunya.
***
Ternyata dalam kebanyan masyarakat, perempuan juga memiliki kewajiban domestiknya sebagai seorang istri. Kewajiban mendidik anak dan mengurus rumah tangga adalah kewajiban bersama suami istri. Namun masih banyak yang merasa jika semua kewajiban tersebut adalah tugas istri; sehingga menjadi double burden bagi seorang perempuan.
Di mana di dalam rumah tangga masih banyak yang mengkotak-kotakkan antara tugas istri, dan tugas suami. Bahkan tugas anak perempuan dan tugas anak laki-laki. Konsep mubadalah belum banyak di pahami di dalam suatu keluarga yang cenderung berkiblat pada konsep patriarki saja.
Jika kita memaknai hari Ibu hanya untuk memanjakan Ibu yang telah bekerja mengurus rumah tangga setiap hari tanpa mengenal waktu dan lelah; rasanya masih sangat kurang jika hanya kita lakukan sehari saja, pada 22 Desember. Beberapa kali saya bertanya kepada teman saya tentang apa yang dia lakukan kepada ibunya saat Hari Ibu, ternyata jawabannya sangat beragam.
Ada yang memberi hadiah beruba benda kepada ibunya, ada yang memberi ucapan selamat hari ibu di pagi hari; ada yang berusaha bersikap baik kepada ibunya selama satu hari itu; tapi ada yang paling parah yaitu ada juga yang bahkan lupa kapan Hari Ibu diperingati. Sebagai seorang anak saya menganggap itu adalah hal yang lucu, tapi sebagi seorang calon ibu di masa depan; tentu saya sangat miris dan berharap tidak diberi anak yang melupakan Hari Ibu.
****
Tahun ini adalah tahun yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kita diharapkan dan bahkan harus hidup dalam keadaan pandemi yang membuat tatanan serta habid kita menjadi berubah. Hari-hari kita yang mungkin habis di luar bersama teman-teman atau rekan-rekan kerja, kini banyak kita habiskan bersama keluarga di rumah. Kita dapat lebh bayak melihat bagaimana peran ibu kita sebenarnya.
Di tengah pandemi, kita melihat bagaimana seorang ibu bisa berubah mejadi guru yang menggantikan guru kita di sekolah. Bahkan ada ibu yang harus mendampingi anaknya selama PJJ namun juga menjalankan tugasnya sebagai seorang perempuan yang sedang berkarir, dan masih mengurus suami dan rumah tangganya. Bahkan ada ibu yang harus ikut banting tulang demi memenuhi kebutuhan keluarganya; saat tiba-tiba pandemi merenggut kebahagiaan yang ia miliki serta merubah segala tatanan dalam hidupnya.
Menurut saya, Hari Ibu selayaknya dapat kita jadikan sebagai momen untuk bermuhasabah. Cobalah mengucapkan Selamat Hari Ibu kepada ibu kita dan lihat hasilnya, walau terkadang itu adalah hal yang sepele. Bahkan jika ibu kita sendiri tidak ingat jika 22 Desember adalah Hari Ibu, atau ekspresi ibu kita yang justru mengatakan kata-kata yang tidak terduga seperti; “Halah, apasih, kamu bandel aja kok”, tidak masalah, dengan begitu kita akan sedikit tau bagaimana sebenarnya kita di mata ibu kita selama ini.
Barangkali memang hal itu adalah uneg-unegnya selama ini, dan itulah kesempatan kita untuk meminta maaf dan memerbaiki segala kesalahan baik dari tingkah laku maupun cara berkomunikasi kita kepadanya selama ini. Percayalah jauh di dalam lubuk hatinya ada haru yang membuancah walau enggan untuk ditunjukkan. Terkadang kita bisa dengan mudah menyampaikan maaf dan terima kasih kepada orang lain; tapi tidak demikian kepada kedua orang tua kita, terutama kepada ibu.
Mahasiswi Perbankan Syariah UIN Walisongo Semarang
