f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
indok

Indok : Kasih Sayang dan Kepolosan Seorang Ibu

Kerinci awal 1970-an. Para jamaah shalat isya di masjid-masjid baru saja pulang. Jalan-jalan dusun kami Pulau Sangkar  sudah lengang. Sudut-sudut dusun sudah gelap gulita, sinar listrik belum lagi ada. Karena  udara sangat dingin maka  malam terasa cepat larut.  Tetapi sebagian bapak masih duduk di lepausambil main anak beruk. Sebagian anak muda sedang bertandang di rumah gadis idaman. Sedangkan anak-anak kecil seperti aku sudah berada di ujung hari, berjuang melawan kantuk.  Ayah dan ibuku melakukan aktivitas terakhir sebelum tidur yaitu makan malam yang diselingi dengan obrolan ringan.

Aku tidak lagi mengetahui topik pembicaraan. Kantukku sudah tak tertahan. Dengan meletakkan kepala di atas paha ibu yang duduk santai di lantai, aku terlelap. Posisi ini berakhir ketika ibu  merasa keberatan dengan berat badanku. Posisi ini juga merupakan kenangan paling dini yang bisa aku ingat tentang ibuku. Tentang sebelum itu belum lagi menempel dalam memoriku.

***

Aku memanggil ibuku dengan kata Indok.  Pasangan Indok adalah Bepoak disingkat Upoak..Sebagian besar masyarakat Kerinci memang menggunakan kata Indok untuk memanggil ibu mereka. Tentu ada perkecualian. Satu dua keluarga muda yang merasa diri lebih moderen mengajari anak-anak untuk memanggil mereka dengan mama-papa. Ada juga orang-orang tua yang merasa diri lebih islami bila menggunakan ummi-abi untuk panggilan anak-anak terhadap mereka. Rasanya tidak ada yang menggunakan kata Dad-Mom. Entah di dusun lain.  Entah pula di Sungai Penuh, ibukota kabupaten Kerinci saat itu.

Sampai usia sepuluh tahun aku masih tidur satu kamar dengan Indok. Mungkin karena aku anak bungsu dari sepuluh anak-anak beliau. Setelah naik kelas enam SD barulah aku tidur mandiri. Sebenarnya tidak mandiri sangat. Aku  memiliki tempat tidur sendiri berupa tikar bigeoyang dibentangkan di bawah dipan Upok. Walau tidur di bawah Upok, kultur setempat pada masa itu dan wibawa beliau sebagai buya regional nampaknya membuat komunikasiku dengan beliau kurang cair. Bila ingin buang air di tengah malam, misalnya, aku tetap  terlebih dahulu membangunkan Indok di kamar sebelah, “Indok, aku nak kencing.” Lalu Indok meminta Upoak, yang tentu saja sudah terbangun oleh masalah daruratku itu, untuk mengantar aku ke sunggang.

****

Setelah satu tahun tidur mandiri, aku harus berpisah dengan Indok. Setamat SD aku diminta Buw, kakakku yang sudah empat tahun kuliah di Jogja, untuk dikirim melanjutkan sekolah di sana. Ini artinya aku harus berpisah dengan Indok. Tetapi meski harus berpisah dengan keluarga, merantau atau sekolah jauh  pada usia 12 tahun, dengan segala keterbatasan hidup, entah mengapa merupakan kebanggaan yang tiada terkira bagiku. Dari Pulau Sangkar, sebuah dusun tua yang indah di tengah kepungan ratusan bukit dan gunung yang berbaris di Sumatera bagian tengah, aku menuju Jogja. Negeri yang selalu menjadi khayalanku dalam setiap cerita tentang rantau.

Dalam perjalanan menuju Jogja tentu banyak hal yang baru pertama kali aku alami. Satu malam perjalanan bis malam menelusuri kelok-kelok di lereng-lereng bukit barisan untuk keluar dari Kerinci, menginap semalam di kota Padang, berlayar dari pelabuhan Teluk Bayur dengan kapal Bogowonto selama dua hari dua malam, melihat puncak Tugu Monas dari Tanjung Priok, menumpang taksi President, mengherani kemegahan gedung-gedung di Jalan Thamrin Jakarta,  semalam di atas kereta api dari Stasiun Gambir menuju Stasiun Tugu.

Baca Juga  Seorang Anak yang Ditinggal Pergi oleh Ibunya

Akhirnya, setelah menempuh perjalanan selama seminggu, aku naik becak untuk pertama kalinya menuju tempat kos Buw. Kamar kos ini ternyata tidak lebih baik dari kamar tidurku ketika masih bersama Indok di Kerinci. Ukurannya hanya 3×3 m2, berdinding pelupuh,  di kompleks perumahan pegawai PJKA, Pengok Jogja.

***

Puluhan tahun merantau, berbagai pengalaman dan pendidikan membesarkan aku. Tetapi setiap pulang, mudik ke Pulau Sangkar, di mata Indok aku tetaplah si bungsunya yang dulu: anak kecil dan selalu dikhawatirkan dinakali orang di jalan. Sejak mudik pertama saat aku baru saja naik kelas III SMP, sampai mudik ke sekian, pesan yang tidak pernah dilupakan Indokuntuk keberangkatanku kembali ke rantau adalah, “Elok-elok manjago san. Hilang san ilang nyawo. Jangan sampai tas lepas dari mato.” 

Ucapan ini selalu terulang. Maka kadang muncul sombongku, “Indok, akukan sudah lama merantau. Aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa menjaga diri sendiri, tenang baelah kayo…”  Tetapi kemudian aku sadar bahwa pesan itu cermin dari keibuan beliau yang selalu ingin melindungi anak bungsunya. Karena pengalaman berjalan beliau hanya di seputar bukit yang mengitari dusun kami, maka kata nasehat yang dikeluarkan tidak berubah dari tahun ke tahun.

 Indok dua kali menginjakkan kaki di tanah Jawa. Sebenarnya ketika aku kuliah di Solo, Indok dan Upoak pernah berencana menengok anak bungsu mereka di Jawa. Tetapi keterbatasan biaya dan kesehatan Upoak yang mulai menurun menghambat rencana mereka. Baru pada tahun 1991, Indokakhirnya sampai juga ke Jawa dengan ditemani dua kakak laki-lakiku, Wo Mursal dan Ilong.

Saat itu Upoak telah tiada dan si bungsu sudah jadi doktorandus. Kehadiran Indok dalam rangka menghantarkan aku menikah dengan seorang gadis cantik yang  berasal dari Cepogo, sebuah desa di lereng Gunung Muria, Jepara. Dia teman kuliahku di Pondok Shabran FAI Universitas Muhammadiyah Surakarta.

***

Indok terlihat menikmati berbagai detail pernikahan anak bungsunya. Betapapun ada kendala selera dan bahasa. Setidaknya secara lahir Indok banyak tersenyum ketika tamu berhadiran di rumah besannya. Secara batin, semoga saja beliau senang dapat menantu orang Jawa. Pada masa itu pernikahan antar suku di dusunku di Kerinci maupun di dusun istriku di Jepara masih merupakan hal baru. Jadi masih memerlukan perjuangan lebih untuk bisa terlaksana. Sedangkan kendala selera bisa teratasi karena di antara teman-teman kuliah kami yang hadir ada si Iyet adik kelas kami gadis Payakumbuh. Indok dan kelompok selera pedas memasak di dapur tersendiri.

Selama Indok di Cepogo aku bertindak sebagai penerjemah. Indok sering ngobrol dengan Mbah Marsih, nenek istriku. Indok mengerti Bahasa Indonesia tetapi menuturkannya dengan dialek Kerinci. dan tentu saja indok tidak bisa berbahasa Jawa. Mbah Marsih lahir, besar, dan tua di lereng Gunung Muria dan hanya mengerti Bahasa Jawa. Pada suatu kesempatan, aku sengaja mogok menterjemah. Aku ingin menjadi pendengar yang baik.

Baca Juga  Emak Vs Emak : Ke mana Larinya Empati?

Maka berceritalah Indok tentang ladang kulit manis dan kopinya di Kerinci dalam Bahasa Indonesia dialek Kerinci yang kental. Mbah Marsih mendengarkan dengan penuh perhatian. Sekali-sekali Mbah Marsih dengan Bahasa Jawa yang tidak dipahami Indok. Lalu bercerita pula Mbah Marsih tentang kebun ketelanya dengan penuh semangat dan Indokmendengarkan dengan penuh perhatian.

Sesekali Indok memberi komentar dalam Bahasa Indonesia Kerinci yang tentu saja tidak dipahami Mbah Marsih. Maka meledaklah tertawa berkepanjangan para anak dan cucu dua orang tua yang sedang berbahagia ini demi melihat benturan dua bahasa itu. Jadi, niat tulus yang nampak dalam senyuman meluluhlantakkan kendala bahasa. Persoalan isi cerita saling dipahami atau tidak itu adalah soal lain.

***

Indok datang lagi ke Jawa empat tahun kemudian. Si doktorandus sudah punya anak satu dan sudah bekerja menjadi dosen UMY. Aku mudik ke Pulau Sangkar sendiri, anak dan istri berlebaran di Jepara. Usai Idul Fitri aku balik ke Jawa. Nah, kali ini Indokikut aku. Setelah transit di ibukota, dari Pulo Gadung aku dan Indok naik bis malam Muji Jaya menuju Jepara. Maka Indok bertemu Kembali dengan besannya sekeluarga. Tentu saja Indok bertemu dan berbagi cerita kembali dengan teman lamanya, Mbah Marsih. Seminggu kemudian Indok aku ajak bersama keluarga menuju Jogja.

Ternyata Indoktidak betah berlama-lama menikmati menjadi ‘pensiunan’ di rumah anak bungsunya. Tradisi sebagai petani tradisional yang setiap hari turun ke sawah atau naik ke ladang nampaknya membuat beliau hanya bertahan satu setengah bulan di Jogja. Lalu keluarlah ultimatum beliau, “Aku tidak mau berhari raya haji di Jogja. Pada hari itu nanti aku harus berada di rumahku sendiri. Nanti kalau anak cucuku berkumpul di rumahku, siapa yang akan menemui mereka? Dan Kau Mahli, aku tidak mau pulang dengan orang lain. Kau harus mengantarku balik ke Kerinci!” 

Maka, belum sampai dua bulan di Jawa, berangkatlah kami berdua dengan bis PUTRA REMAJA menuju Jambi. Setelah berjalan dua hari dua malam perjalanan dilanjutkan dengan naik travel SAFA MARWA menuju Kerinci. Akhirnya kami sampai di Pulau Sangkar. Banyak orang bertanya-tanya. Aku menduga karena Indok hanya sebentar, satu setengah bulan saja, di Jawa. Ternyata mereka heran karena Indok bisa bertahan mendekati dua bulan. Ini sudah luar biasa. Menurut mereka, Indok hanya kuat berkunjung paling lama dua minggu. Hehehe.

***

Bulan April 2001 aku ditelepon oleh Uwo dari Sungai Penuh, kota kabupaten kami. “Kau Mahli, harus segera balik. Indok selalu memanggil nama kau. Pada adatnya, beliau segera meninggalkan kita…..” Naik pesawat belum lagi menjadi kebiasaanku saat itu karena kemampuan belum lagi sampai. Maka aku menikmati kembali naik bis dilanjut  travel Jogja-Jambi-Kerinci, dua hari dua malam. Saat azan maghrib berkumandang aku memasuki rumah kakak perempuanku, tempat dimana Indok dirawat sejak sakitnya.

Baca Juga  Termenung

Keluarga segera menyambut aku dengan haru. Indok sedang tertidur lemas, tidak bisa duduk sendiri. Di sela-sela sanak famili yang datang menjenguk sepanjang malam itu aku habiskan waktu untuk mendengarkan cerita-cerita Indok, menyuapi makan, memijit kaki dan tangan beliau. Pagi harinya, Indok sudah segar: bisa duduk dan makan sendiri. Dan, keluarlah fatwa beliau, “Mahli, kau harus segera balik ke Jogja. Kalau berlama-lama disini, nanti bagaimana anak dan binimu…..”

Aku dan kakak-kakak ternganga. Dua hari dua malam perjalanan antar pulau, dari Jogja menuju Pulau Sangkar, seakan hanya perjalanan dari dusun sebelah bagi Indok. Ternyata Indok hanya sakit rindu dan pada adatnya satu malam ditemani, disuapi dan didengarkan cerita-ceritanya cukup sebagai obatnya. Setelah istirahat dua hari, aku kembali ke jogja.

***

Indok, betapa banyak pengalaman hidup yang bisa diceritakan tentang dirinya. Sesuatu yang pasti adalah Indok tetap menjaga kesalehan dan kesetiaan pada Upoakyang telah lama meninggalkan dia. Kesalehan beliau jaga dengan ketat dalam bentuk shalat dan mengaji. Kesetiaan beliau jaga dengan tidak mau pindah rumah. Karena anak-anaknya sudah mandiri dan punya rumah masing-masing, beliau menjadi sendiri pula di rumah induk kami.

Hanya ketika sakit beliau mau bergabung  ke rumah anak-anaknya. Setelah merasa sehat, beliau segera ‘mudik’ ke rumahnya sendiri. Nampaknya di rumah besar itulah beliau merasa tetap dekat dan setia dengan almarhum Upoak dan merasa adil terhadap delapan anak-anaknya yang ingin membawa Indok ke rumah mereka masing-masing.

Dan cerita tentang Indok bagiku, disamping tentang kesalehan dan kesetiaan, juga cerita tentang ketidakberubahan alias kepolosan atau keluguan. Di tengah kehidupan yang berubah serba cepat   dan kadang serba tidak menentu, keluguan itu justru terasa semakin diperlukan. Keluguan Indok, bagiku ibarat pelabuhan sunyi tempat aku berlabuh. Untuk itu aku pernah menulis sebuah puisi singkat.

Pelabuhan sunyi
Tempat aku menambatkan perahu dari keresahan hidup
Adalah hatimu Indok.

***

Pulau Sangkar, medio 2003. Sebuah telepon dari keluarga kembali meminta aku segera pulang. Kondisi Indok semakin menurun. Upoak semakin sering beliau sebut. Aku baru sampai di rumah pada hari keempat. Sebelumnya aku harus menyelesaikan tugas dari UMY untuk suatu reportase keliling Sumatera Barat. Pada hari kelima kami sekeluarga sudah hadir di sekeliling beliau.

Setelah pembacaan alfatihah berama-sama aku menuntunkan beberapa kali kalimah thoyyibah  pada Indok untuk terakhir kalinya. Malaikat Mikail nampaknya menjemput beliau dengan tenang. Perlahan dan pasti nafas Indok berhenti. Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun. Bi husnl khaatimah Indokku…Aku merasakan anggota badan beliau perlahan mulai mendingin. Awalnya ujung kaki, naik ke atas, dan terakhir adalah wajah beliau. Dengan jari tangan kananku sendiri  aku menutup dua pelupuk mata beliau. Perlahan aku berucap, “Indok, selamat berjumpa dengan Upoak….”

Tamantirto,  22 Desember 2020

Bagikan
Post a Comment