Saya OTG (1) : OTG Ada di Sekitar Kita
Tanggal 16 Desember 2020 saya terjadwal rapid test di lantai 1 Masjid AR Fachruddin kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Program ini kebijakan kampus UMM untuk memutus mata rantai penyebaran virus covid-19. Minimal untuk area kampus. Itu program kampus yang cerdas karena tak sema kampus punya kebijakan seperti itu. Saya wajib mengikutinya. Ini saya lakukan sebagai salah satu bentuk kepatuhan saya pada kebijakan kampus. Padahal tak pernah membayangkan dan mau ikut rapid test. Ada perasaan takut-takut bagaimana begitu.
Saya mendapat jatah gelombang I. Setelah diambil darahnya tentu harap-harap cemas. Dag dig dug. Kira-kira nanti hasilnya apa? Bagaimana seandainya saya akhirnya terkena virus tersebut? Berpuluh-puluh pertanyaan ada dalam benak.
Banyak cerita bahwa mereka yang terkena virus itu sakit parah sampai meninggal. Hampir tiap hari kita menyaksikan, membaca, mendengar kematian akibat virus itu. Sepertinya virus ini mematikan dan menakutkan serta menghebohkan. Setidaknya itu bayangan yang ada dalam pikiran saya. Jika Anda pernah menjalani rapid test tentu akan mengalami hal serupa.
***
Rabu (18/12/20) saya tidur agak sore. Tiba-tiba jam 22.46 WIB, Hand Phone (HP) saya berbunyi. Itu suara nada dering WhatsApp (WA).. Saya harus segera membuka siapa tahu ada berita penting dari keluarga di Yogyakarta. Karena mbah saya yang sudah berumur 99 tahun, setahun terakhir lebih hanya ada di tempat tidur karena sakit.
Setelah saya buka, nomor tidak dikenal. Namun isinya cukup membuat saya tidak bisa tidur. Foto surat itu mengatakan bahwa saya dinyatakan reaktif dari hasil rapid tes dua hari sebelumnya (16/12/20).
Perasaan campur aduk. Habis itu saya tidak bisa tidur. Akhirnya saya menonton siaran sepak bola di TV. Menjelang dini hari saya baru terlelap di sofa depan TV. Bangun pagi agak telat karena tidur terlalu larut. Bangun tentu tetap membawa perasaan deg degan. Apa yag terjadi dengan hasil reaktif itu? Saya menduga yang mengirim foto surat itu tentu meneror saya saja. Bahwa saya menyimpulkan itu WA hoaks. Isi surat tersebut meminta saya untuk hadir di lantai 5 Rumah Sakit (RS) UMM tanggal 19 Desember 2020.
Pagi hari setelah shubuh (19/12/20) saya masih belum percaya. Jangan-jangan itu surat tidak resmi dan bohong-bohongan. Karena saya merasakan tidak sakit apa-apa. Pertanyaan yang mengganggu cuma satu; bagaimana jika saya nanti positif covid-19? Baru jam 07-an (19/12/20) saya membaca basmallah mantap untuk mengahdiri pertemuan dengan dokter RS. Kalau nanti suratnya hoaks ya saya pulang lagi.
Di Aula RS UMM tanggal 19 Desember 2020 itu diberikan penjelasan bahwa ada sekitar 87 orang yang dinyatakan reaktif (dari peserta sejumlah 835). Lalu akan dilakukan tes swab PCR. Bahwa reaktif hasil dari rapid test itu belum tentu positif covid-19. Itu penjelasan dokter. Karena yang dicek adalah darah, sementara virus covid-19 tak ada hubungannya dengan darah. Lalu diumumkan akan dilakukan swab PCR 22 Desember 2020.
***
Tanggal 22 Desember 2020 itu mereka yang dinyatakan reaktif melakukan swab test RT-PCR di gedung RIC RS UMM (bagian belakang). Setelah setelah saya diminta untuk menunggu hasil swab sekitar 1-2 hari.
Saat saya mengetik artikel saya mendapat WA dari kampus (24/12/20). Surat resmi bertandatangan dan ada stempel. Kata pertama yang saya lihat adalah negatiff. Akhirnya saya mendadak sujud syukur. Bagaimana tidak? Virus itu menghantui saya sebelumnya. Bahkan anak saya bertanya mengapa sujud syukur? Saya jawab kalau saya negatif. Serentak mereka ikut mengucap hamdalah. Mengapa? Karena saya tidak merasakan gejala apa-apa.
Lalu saya melanjutkan mengetik. Saya cek ulang, mengapa dalam WA itu ada kata-kata mohon bersabar? Lalu saya cek surat sekali lagi. Ternyata saya negatif. Saya salah membaca pesan WA. Memang ada dua kata dalam surat itu; positif dan negatif. Saya dinyatakan positif dan tidak boleh masuk kantor sebelum dinyatakan negatif. Nah, kata negatif inilah yang saya baca. Saya akhirnya agak sedih. Tetapi itu kenyataan yang harus saya hadapi. Saya tentu akan dan harus tegar. Jadi dari 87 orang yang ikut swab test RT-PCR ada 13 orang positif, termasuk saya.
Saya masih bertanya-tanya, mengapa saya bisa positif? Saya sehat-sehat saja. Tak ada sakit yang saya rasakan. Mengapa saya dinyatakan positif? Saya baru tahu bahwa saya menjadi Orang Tanpa Gejala (OTG). Lalu saya menjalani karantina mandiri di rumah dengan protokol kesehatan (Prokes) ketat.
OTG Mengintai
Apa pelajaran yang bisa dipetik dari pengalaman saya itu? Berdasar data medis yang saya dapatkan swab test RT-PCR (positif), igm covid (non reakif), igg covid (reaktif). Dari interpretasi data laboratorium yang diberikan dokter tertulis, “Infeksi menuju sembuh. Biasanya hari ke 21-28”.
Saya tentu sangat kaget. Berarti saya sudah terpapar sejak awal bulan Desember 2020? Saya rapid test (16/12/20), lalu dinyatakan positif swab test RT-PCR (24/12/20). Berarti selama ini saya sudah terpapar virus dan menularan virus pada orang lain? Duh Gusti. Semua tanpa saya sadari. Itu setidaknya setelah saya membaca interpretasi data labroratirium. Istri saya mengatakan virus tidak membahayakan diri saya karena saya rajin minum vitamin (meskipun dosis rendah) dan minum rempah. Tetapi konsumsi itu di bawah standar dalam situasi darurat seperti ini.
Lalu saya bersyukur. Untung saya mendapatkan penanganan segera dengan kebijakan tes di kampus. Sehingga pengobatan bisa ditingkatkan lebih baik. Lebih dari sekadar yang saya konsumsi sejak awal-awal Desember 2020.
Pelajaran pentingnya apa? Tidakkah kita tahu di sekitar kita ada banyak OTG? Ini saya meyakini dari pengalaman. Mengapa? Karena virus ini menular dengan cepat, sementara usaha untuk mencegahnya tidak maksimal. Apakah Anda yakin orang sekitar Anda (teman dekat, keluarga, kolega kantor, teman kuliah) bebas virus dan bukan OTG? Berani tes swab RT-PCR? Saya yakin ada banyak OTG di sekitar kita jika tes dilakukan.
****
Saya bisa meyakini bahwa ada banyak OTG di sekitar kita karena deteksi virus di negara kita tidak gencar dan merata. Ini tentu berbeda dengan negara lain. Coba dilihat pemerintah hanya gencar melakukan tes (termasuk rapid test) saat menjelang liburan (lihat liburan bulan Desember 2020). Itu saja belum cukup. Itu saja karena pemerintah punya kepentingan. Mengapa terkait hidup matinya masyarakat tidak berkepentingan pula?
Jika berkpentingan maka harus dilakukan Tracing, Testing, Treatment (3 T) dengan ketat. Dari sini akan diketahui seberapa besar tingkat inveksi virus itu menyebar. Dari situ pula kemudian bisa dilakukan pencegahan-pencegahan. Tapi tidak usah terlalu berharap besar. Pemerintah kita tidak mau. Mengapa? Kebijakan tersebut membutuhkan biaya besar. Sementara keuangan negara sedang kembang kempis. Kalau Anda tahu dan terlibat langsung dalam kebijakan pemerintahan akan mengetahui duduk persoalannya. Selama ini kan kita hanya membaca dari media saja?
****
Jadi, tidak usah berharap besar pada pemerintah. Toh diprotes pun belum tentu akan didengar. Pemerintah kita lebih sibuk mengurusi soal ekonomi dan politik. Penting kiranya kita berusaha sadar diri untuk menjaga kesehatan. Ya bagaimana lagi? Virus ini tidak bisa dibunuh oleh obat. Ia hanya akan dibasmi dengan daya tahan tubuh masing-masing individu. Maka, nasihat utama selama ini untuk menjaga imun tubuh sangat berasalan, bukan?
Nah, melihat kenyataan itu apa yang harus kita lakukan? Tak ada cara lain kita harus menganggap bahwa orang di sekitar kita semua terkena virus. Anggap saja OTG. Ini tak menakut-nakuti. Dengan mengetahui dan menyimpulkan bahwa di sekitar kita semua OTG kita jadi lebih hati-hati, bukan? Saya juga sudah hati-hati sebenarnya, tetapi kenapa sampai ketempelan virus covid-19? Mungkin saya kurang ketat dalam Prokes dan tak ada usaha maksimal menjadi imun tubuh dalam situasi darurat kesehatan seperti saat ini.
Ini pelajaran berharga yang saya dapatkan saat terpapar virus covid-19. Saya jadi mulai rajin menjaga kesehatan. Minum vitamin, rajin olah raga, minum rempat-rempah dan berpikir rileks serta pasrah pada Yang Kuasa. Apakah sebelumnya tidak begitu? Tetap ada perbedaan. Sekarang lihat di sekitar Anda, bukankah ada banyak OTG berkeliaran?
Penulis Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Twitter/IG: nurudinwriter
