f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ayah

Ayah: Sosok Pelindung Telah Kembali

Apa arti sosok ayah bagi kalian? Mungkin kita mempunyai perspektif sendiri-sendiri mengenai sosok ayah. Masa kecil adalah masa dimana keseharianku bisa dibilang lebih dekat dengan ayah. Bagiku, ia adalah sosok kepala keluarga yang bertanggung jawab. Ayah menurut versiku adalah sosok yang pendiam, tapi perhatian, humoris, tenang, dan sederhana. Baginya, agama adalah prioritas utama. Itu kenapa dari kecil sampai sekarang aku selalu tertarik untuk terus memperdalam ilmu agama. Teringat masa kecil, sesekali aku mencari alasan kepada kedua orangtua agar izin tidak berangkat mengaji. Namun, beliau tidak mengizinkan, “Jangan mengarang alasan, pergi mandi dan berangkat mengaji!”, perintahnya dengan tegas. Sejak saat itu aku tidak pernah lagi mencari alasan untuk izin tidak mengaji kecuali sakit.

Akhirnya aku mulai masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan memilih untuk mondok. Ayah sangat bahagia ketika mendengar aku ingin melanjutkan sekolah di pondok. Setiap dua minggu sekali ayah, ibu, dan kakak datang menjengukku. Hingga suatu hari, kakak datang menjenguk, tapi hari itu berbeda karena kedua orangtua tidak ikut. “Ayah dan Ibu tidak ikut kak?” tanyaku kepada kakak. “Tidak dek, ayah dan ibu masih ada kerjaan, tidak bisa ditinggal. Ngga apa-apa ya, kali ini sama kakak dulu”, jawab kakak. “Iya kak”, jawab ku. Beberapa bulan kemudian ayah mulai sering tidak ikut menjengukku.

Kabar Buruk Datang dari Pelindungku

Suatu hari ibu guruku yang sekaligus wali dari teman ku saat di bangku SD datang dan beliau mengajak kita keluar pergi ke pasar terdekat untuk belanja dan makan siang. Setelah selesai berbelanja, “Kita ke Rumah Sakit sebentar ya, menjenguk rekan ibu”. Aku dan temanku pun hanya mengiyakan. Sesampainya di Rumah Sakit tiba-tiba muncul ibu dari ujung lorong, saat itu aku kaget dan terdiam tanpa mengucapkan pertanyaan sedikitpun. “Ayah sedang sakit dek, do’a in ya, jangan sedih ya”, ucap ibu sambil merangkul bahu ku. Ku buka pintu itu dengan tangan yang dingin. Kupandangi tubuh beliau lemah tidak berdaya terbaring di atas kasur Rumah Sakit. Ayah menyambutku dengan tatapan ketenangan dan kehangatan. Tatapannya seolah-olah mengatakan, “Ayah baik-baik saja nak, jangan sedih ya”. Kuhampiri beliau, kucium tangan dan keningnya dengan lembut.

Baca Juga  Dua Butir Berlian dan Lethina

Ayah sudah lama mengidap penyakit kanker hati (Liver). Setiap hari ia harus minum obat dan menghindari makanan yang menjadi pantangannya. Ayah sempat berobat dari satu kota ke kota lain untuk berobat karena penyakitnya yang belum kunjung sembuh. Ayah berjuang bertahun-tahun melawan penyakitnya. Di samping perjuangannya, ada ibu yang selalu setia menemani dan mengurus ayah dengan penuh kesabaran. Beberapa bulan terakhir menjelang libur akhir semester, ayah sudah tidak lagi datang menjengukku. Aku sudah mengetahui alasannya, ayah sedang berada di Riau. Ibu dan bibi membawanya untuk berobat di Rumah Sakit terpercaya di Kota Riau. Selama ayah disana, aku tidak pernah mendengar bagaimana keadaan ayah yang sebenarnya. Ibu hanya selalu berkata “Ayah baik-baik saja dek, do’a ini ya”.

Separuh Jiwaku Hampir Hilang

Tiga hari menjelang libur semester selalu ada kegiatan kerja bakti di Pondok. Ketika sedang membersihkan halaman kelas, tiba-tiba aku mendapat panggilan kalau ibu sudah menunggu di pendopo depan. Layaknya anak SMP kelas 7 pada umumnya, dengan wajah polos aku bergegas menuju pendopo dengan perasaan bahagia. Seperti biasa ku mencium tangan Ibu, “Ada apa bu kesini?” tanya ku kepada ibu. “Hari ini pulang duluan ya dek, nanti sore kita berangkat ke Riau. Ayah kangen katanya, pengen ketemu adek” jawab Ibu. Tanpa berpikir panjang aku langsung mengiyakan dengan semangat karena sudah lama sekali tidak bertemu ayah. Sembari menunggu ibu mengurus perizinanku untuk pulang lebih awal, aku segera beberes pakaian. Setelah selesai, aku berpamitan dengan Ustadz dan Ustadzah serta teman-teman yang mengantarku. Pukul 16.00 WIB kami sekeluarga berangkat menuju Riau.

Setelah satu hari dalam perjalanan, akhirnya kami sampai di Riau. Akan tetapi, bukan di rumah bibi melainkan di Rumah Sakit. Aku tidak bertanya sepatah kata pun, selama berjalan tubuhku masih biasa. Namun, saat di lift tubuhku sudah terasa lemas, perasaanku sudah tidak enak dan tepat keluar lift ibu membisikkan ke telingaku. “Adek harus kuat ya”, ucap ibu. Tepat dari sudut lorong paman datang menjemput kami. Paman membuka pintu dan mempersilahkan kami masuk. Ketika melihat pelindungku terbaring lemah diatas kasur Rumah Sakit, pikiranku mendadak kosong, jantungku seakan-akan berhenti berdetak, aku hanya berdiri termenung di samping ibu yang sudah merangkulku dengan erat. Kakak menghampiri ayah dan menangis sambil mencium tangannya. Ternyata selama ini ayah koma, tubuhnya bengkak, tidak berdaya. Ibu menyuruhku mendekat dan mencium tangannya. Ibu berbisik ke telinga ayah, “Anak-anak sudah datang yah, bangun ya yah”, air menetes dari pipi ibu.

Baca Juga  Pembentukan Karakter
Mengharap Keajaiban Allah

Sudah hampir satu minggu ayah belum juga sadarkan diri, kami tidak pernah berhenti untuk mendoakan beliau. Hingga suatu malam tepat pukul 01.00 WIB dini hari, aku dan kakak terbangun karena mendengar tangisan ibu dan suara paman yang berusaha menenangkan ibu. Aku dan kakak melihat ibu sudah menuntun ayah pelan-pelan namun tubuhnya seolah menolak. Aku dan kakak menangis, aku berusaha melihat kondisi beliau, tapi kakak selalu menghalangi dengan pelukannnya. Beberapa jam kemudian, alhamdulillah sudah mulai tenang. Ibu, kakak, dan aku turun menuju mushalla untuk menenangkan hati dan pikiran. Kami berdo’a dengan penuh kerendahan hati meminta kepada Sang Maha Kuasa Allah Swt. untuk kesembuhan ayah.

Setiap malam kami lebih sering ke mushalla untuk shalat malam. Hingga suatu hari, tepatnya usai shalat subuh paman menelepon ibu dan mengabarkan ayah sudah sadar. Kami pun bergegas kembali ke kamar beliau dengan perasaan penuh rasa syukur dan bahagia. Kedua orangtua menyambut kedatangan kami dengan tatapan mata yang begitu hangat, seperti tersirat kata rindu di dalamnya. Kami mencium tangan dan memeluknya. Perkembangan ayah semakin membaik setiap harinya, tubuh beliau sudah tidak bengkak lagi dan sudah mulai berbicara sedikit demi sedikit. Ayah memang sedang terbaring lemah, tapi ia tidak pernah lemah dalam menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim yaitu salat, meskipun dengan posisi berbaring.

Libur sekolah sudah hampir selesai, aku dan kakak waktu itu sepakat untuk pulang duluan bersama supir yang mengantar kami. A juga sudah mengizinkan. Lusa aku dan kakak berangkat pulang ke rumah, kami berpamitan kepada kedua orangtua. Namun saat ku menatap beliau, seperti ada sebuah pesan tersirat yang ingin ia sampaikan tapi tidak terucap dari mulutnya. Aku tersenyum kepada kedua orangtua sebelum keluar. Hampir satu hari selama perjalanan alhamdulillah aku dan kakak sampai di rumah. Kami menjalankan aktivitas kami di rumah bersama nenek yang menemani. Hingga tepat di pagi hari aku mendadak sakit demam panas. Tepat di hari aku sakit, malamnya kakak dan saudara-saudara di rumah bersama-sama membaca surat Yasin dan berdo’a untuk kesembuhan. Malam itu suasananya sangat dingin berbeda dari biasanya.

Baca Juga  Sekisah Duka sekolah Daring
Pelindungku Telah Kembali

Pagi tiba, saat itu aku masih sakit, badanku demam. Nenek merawatku dengan baik, mengambilkan makan dan menyuruhku untuk segera sarapan. Ketika aku sedang menelan makananku lumat-lumat, bibiku datang. “Ayah sudah tidak ada nduk”, menangis sambil memeluk tubuhku. Tubuhku lemas, pikiranku kosong, harapanku hancur seketika, cahaya sudah padam, air mata mulai tumpah, kami telah kehilangan sosok pelindung. Jenazahnya tiba di malam hari pukul 00.00 WIB. Ibu turun memeluk aku dan kakak dengan penuh kehangatan, berusaha kuat untuk menenangkan anak-anaknya. Hari terakhir ku menatap wajah beliau sebelum berangkat di shalatkan dan dimakamkan. Ku cium kening beliau sambil menahan air mata agar tidak jatuh ke pipinya. Tepat pukul 01.00 WIB proses pemakaman ayah dimulai, ku tatap tubuhnya ketika akan dimakamkan. Sosok pelindung kami sudah tidak sakit lagi, beliau sudah kembali, tapi bukan kembali kepada kami melainkan kembali kepada sang pencipta Allah Swt.  

Editor: Nur Laila Oktavianingrum

Bagikan
Post tags:
Comments
  • Ariyandita

    🤍

    Juli 12, 2023
Post a Comment