Perempuan juga Punya Logika!
Perempuan acap kali disandingkan dengan rasa. Hal ini tak lepas dari adanya stereotip yang telah mengakar pada masyarakat bahwa perempuan senantiasa mengedepankan perasaan daripada logika. Sehingga tidak sedikit orang yang mengatakan jika perempuan lebih mudah baper karena rasa simpati dan empatinya yang cenderung tinggi. Bahkan biasa dikatakan jika seorang perempuan bisa kehilangan logikanya ketika ia telah bernaung dengan perasaan. Dengan dalih ini lah banyak yang menganggap perempuan itu lemah, sebab banyak orang menganggap bahwa mereka hanya mampu berpayung pada rasa dan air mata tanpa menggunakan logika.
Di sisi lain, laki-laki selalu identik dengan logika. Hal ini sebagaimana dogma yang telah tumbuh dalam masyarakat jika laki-laki cenderung mengedepankan logika daripada rasa. Sehingga tak heran jika laki-laki sering dikatakan tidak peka karena cenderung tidak mengedepankan perasaannya. Di sisi lain dengan bertajuk pada logika, banyak orang beranggapan bahwa laki-laki lebih terbuka pemikirannya daripada perempuan. Namun, apakah dengan adanya stereotip tersebut laki-laki tidak berhak untuk menggunakan rasanya? Pun perempuan tidak berhak menggunakan logika?. Perlu adanya sudut pandang kesetaraan gender untuk menyikapi kegelisahan ini.
Sudut Pandang Kesetaraan Gender
Dalam konsep kesetaraan gender memandang semua orang berhak untuk menerima perlakuan yang setara, serta berhak untuk tidak mendapatkan deskriminasi berdasarkan gender mereka. Dengan ini dapat kita tarik sebuah fakta bahwa perihal rasa dan logika adalah hak mutlak seorang manusia tanpa memandang apapun gendernya. Sebab dalam kodratnya manusia telah Allah bekali dengan akal dan hati. Pada akal akan tumbuh logika yang mengantarkan manusia untuk berfikir sehingga tidak akan terperdaya oleh rasa. Pun pada hati tersemayam sebuah perasaan yang mengantarkan manusia untuk tidak hanya melihat dari sudut pandang logika saja, melainkan juga dari perspektif hati nurani.
Dengan ini stigma perempuan lebih mengedepankan rasa dan laki-laki lebih mengedepankan logika disingkap dalam perspektif kesetaraan gender. Bahwa antara laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama dalam menggunakan perasaan dan logikanya masing-masing. Dalam kalimat ini tersirat makna bahwa di samping berpangku pada logika laki-laki juga memiliki hak untuk mengespresikan rasanya. Begitu pula dengan perempuan, dibalik bertumpu pada perasaan seorang perempuan juga berhak untuk menggunakan logikanya dalam berfikir.
Jangan pisahkan perempuan dengan logika
Doktrin bahwa perempuan identik dengan perasaan kerap kali memisahkannya dari logika. Sehingga banyak asumsi jika pemikiran perempuan itu hanya berlandaskan perasaan dan sulit untuk terbuka. Namun nyatanya ia tak selalu bertajuk pada perasaan, ada kalanya menggunakan logika untuk berfikir kritis. Munculnya berbagai pemikiran dan gerakan tentang kesetaraan gender adalah bukti bahwa sebenarnya wanita tak dapat berpisah dengan logika. Sebab semakin maju pemikiran seorang perempuan maka semakin terbuka dan kritis pula pemahamannya.
Aplikasi logika dalam pemikiran perempuan dapat menghasilkan sebuah karya. Dengan munculnya berbagai doktrin tentang perempuan tak lantas membuat mereka berdiam diri. Hal ini justru menjadi penyulut semangat para perempuan untuk menuangkan karya karya terbaiknya. Sebagai implementasi bahwa di samping bernaung pada rasa, ia juga bisa untuk mengembangkan logika. Bahkan dengan itu para perempuan bisa menghasilkan karya-karya yang hebat sehingga tak lagi segelintir orang yang menganggap mereka lemah.
Jika kita menilik kondisi sekarang banyak perempuan yang mampu mengolah logikanya sehingga dapat bersanding dengan laki-laki. Hal ini dapat kita jumpai dalam berbagai bidang, salah satunya dalam dunia politik. Banyak tokoh wanita yang telah terjun untuk mewarnai demokrasi dengan berbagai pemikiran kritisnya. Fenomena ini dapat kita lihat dari semarak pemilu tahun 2024 yang saat ini sudah mulai terlihat.
Laki-laki berhak mengekspresikan rasa
Selalu di identikan dengan logika menuntut laki-laki untuk senantiasa mengesampingkan rasa. Padahal setiap manusia memiliki rasa yang berhak untuk diungkapkan. Namun sayangnya anugerah itu tertutup dengan statement bahwa laki-laki harus lebih kuat dari perempuan. Beranjak dari doktrin ini yang menuntut laki laki untuk selalu kuat dalam segala hal. Termasuk di dalamnya kuat secara fisik ataupun mental. Dengan ini muncullah anggapan bahwa laki-laki pantang untuk mengungkapkan setiap rasanya.
Laki-laki juga manusia yang berhak untuk mengekspresikan setiap rasanya. Sedih, marah, kecewa dan bahagia setiap orang pasti mengalami, namun kebanyakan laki laki enggan untuk mengungkapkan. Bukan sebab mati rasa, tapi enggan untuk dipandang lemah. Sehingga tak heran jika banyak laki-laki yang memilih untuk memendam perasaanya terlebih ketika sedih dan kecewa. Bahkan mereka selalu berusaha agar tidak menangis sebab tak ingin orang-orang beranggapan kalau ia cengeng.
Padahal menangis bukanlah tanda bahwa seorang laki laki itu lemah. Karena menangis adalah sarana untuk mengungkapkan rasa yang dialami. Justru dengan menangis merupakan tanda bahwa seseorang dapat menghadapi emosinya dengan sehat. Setiap orang berhak menangis, pun laki laki boleh saja menangis. Sebab terlalu banyak memendam perasaan justru akan berdampak tidak baik pada kesehatan mental. Karena yang demikian dapat membuat emosi tidak stabil hingga rentan terjadi depresi.
Perihal rasa dan logika adalah karunia Tuhan kepada setiap manusia tanpa memandang gender. Memanfaatkanya adalah wujud syukur dari manusia. Terlepas dari beberapa stereotip yang mengukung manusia untuk cenderung kepada salah satu dengan dalih gender. Rasa dan logika dapat menjadi sebuah ajang kolaborasi untuk membentuk karya yang hebat. Karenanya baik laki laki ataupun perempuan memiliki hak yang sama dalam mengolah rasa dan logika. Laki-laki berhak untuk mengungkapkan rasa sebab bermain dengan logika bukan berarti mati rasa. Pun perempuan berhak untuk menggunakan logika sebab saat mengutamakan rasa bukan berarti otak tidak berfikir. karena setiap rasa membutuhkan logika agar tetap terjaga dan setiap logika membutuhkan rasa agar tetap berharga.
Penulis: Anisa Dwi Ustadiyah
Editor: Nur Laila Oktavianingrum
