Hiduplah Sesuai Kemampuan: Nasihat Berarti yang Disalahpahami
Seminggu belum genap tujuh hari, ketika saya, dalam dua hari berturut-turut didatangi teman dengan kesamaan keperluan, yakni meminjam uang. Alasan yang mengemuka berbeda tentu saja. Jika ada kesamaan, kedua alasan yang disampaikan lah yang sama- sama memantik rasa kasihan. Entah betulan atau hanya setting-an, nyatanya demikian.
Jika ada hal yang sama lagi, adalah pernyataan terselubung keduanya, “Andaikan pendapatan kita sama”. Sekedar informasi kami adalah rekan seprofesi, sama posisi beda masa kerja, itu saja. Dan bedanya hanya satu tahun saja.
Jika selisih masa kerja yang berimbas pada selisih gaji adalah parameter kelimpahan materi, tentu saja kedua teman saya ini telah melakukan kekeliruan dengan mendatangi saya untuk keperluan pinjam- meminjam uang, sebab di kantor, kami bertiga adalah karyawan yang terhitung baru. Senior dengan posisi dan masa kerja yang lebih lama, ada banyak.
Ketika saya tanyakan, kenapa tidak meminjam pada mereka? Jawaban kompak mereka membuat saya terhenyak. “ Mereka tidak punya uang” begitu jelasnya. Sekali lagi jawaban ini entah betulan sesuai keadaan atau sekedar bentuk lain dari penolakan. Dan saya memilih opsi pertama.
***
Ternyata besarnya gaji, tidak serta merta membuat finansial kita bebas merdeka. Idealnya dengan nominal gaji yang lebih banyak, tabungan makin membengkak. Nyatanya tidak. Beberapa penelitian menyatakan hal itu, bahwa besaran pendapatan sangat mempengaruhi gaya hidup seseorang dalam suatu masyarakat. Dari beberapa pengamatan pribadi juga mendapati fenomena yang seperti ini.
Saya memiliki kenalan yang dulunya, ketika pendapatannya berada di bawah lima juta rupiah, Ia dengan penuh percaya diri mengklaim tidak menyukai barang- barang terkini. Saat teman yang lain gandrung dengan tas kekinian, ia mantap dengan tas etnik yang alih- alih sederhana, malah terlihat seadanya.
Kali ini, tahu kah yang terjadi? Ketika pendapatannya naik, kenyataan menjadi berbalik. Rp 10 juta, yang ia terima membuatnya berubah selera. Ia menjadi merasa mampu membeli dengan kenaikan gaji yang dimiliki. Tas- tas sederhana yang sebelumnya menjadi koleksi bahkan kebanggaannya, entah ke mana. Kini tas-tas etnik yang dulu menurutnya sungguh estetik, kehilangan daya tariknya. Tas- tas itu berubah bentuk dan bahkan terhitung menumpuk, menjadi tas- tas kekinian beraneka ukuran, yang modelnya serupa dengan warna berbeda. “Menyesuaikan busana,” dalihnya.
Begitu pula yang terjadi dengan teman saya yang lainnya. Seorang Ibu muda, sesama penyuka olah raga. Naiknya pendapatan juga membuatnya berubah secara signifikan. Kami bertemu pertama kali di sanggar senam aerobic. Sebagai sesama member baru, kami satu kubu. Saat itu kami bersatu karena pakai kostum yang biasa saja, sekedarnya tapi tentu saja tetap sesuai peruntukan.
***
Pada perjalanannya, teman saya itu akhirnya menyerah. Ia merasa mengikuti senam aerobic membuat kantongnya menjerit. “Perlengkapannya mahal semua!” demikian serunya. Padahal jika dipikirkan, saat itu bahkan sampai saat ini, tidak ada keharusan mengenakannya.
Ia berpamitan akan beralih pada kegiatan olah raga yang berbiaya murah atau bahkan tanpa biaya sekalian jika memungkinkan. Dan saat itu pilihannya jatuh pada olah raga lari, selain murah konon katanya juga mudah.
Cukup lama waktu berselang, sampai akhirnya kami bertemu kembali. Tahukah kabarnya terkini, ketika pendapatan suaminya melebihi jumlah jari tangan, dalam jutaan? Ia ingin kembali aerobic? Oh tidak. Ia tetap setia pada pilihanya akan olah raga lari, hanya saja pilihan outfit-nya yang bikin ngeri. Untuk ukuran sekedar olah raga , tetiba ia jadi mempertimbangkan foam react- dari sebuah sepatu.
“Daya pantulnya lebih baik,” demikian jelasnya meyakinkan. Layaknya atlet betulan. Dan daya pantul ini, tentu saja diikuti dengan range harga yang setara dengan jumlah gaji yang diterima.
Beberapa atribut yang juga ia kenakan sangat menarik perhatian. Kali ini bukan dari segi harga, tapi lebih pada fungsinya. Dua dari beberapa atribut yang ia kenakan seperti Sport watch dan sebuah sensor yang diletakkan di dada, memiliki fungsi sama, yakni sama- sama mengukur detak jantung/ Heart Rate dari penggunanya. Betapa kenaikan pendapatan, selain merubah daya beli’ juga membuatnya dihinggapi impulsif buying.
***
Kita sering kali membeli beberapa benda karena sanggup membayarnya, bukan karena fungsinya. Semua kita lakukan karena salah dalam memahami rasa “mampu”. Menganggap diri “mampu” ketika memiliki pendapatan yang “pas”dengan kebutuhan. Memiliki uang yang setara dengan keinginan.
Berkaca dari kasus teman, Dia memang mampu membeli Nike Epic React Flyknit saat itu, karena pendapatan yang diterima cukup untuk membayarnya, tentu saja dengan mengabaikan kemungkinan yang terjadi pada hari- hari setelahnya. Nasihat hiduplah sesuai kemampuan, seringkali disalahpahami dengan langkah yang keliru seperti ini.
Padahal yang dimaksud mampu, bukan yang seperti itu. Mampu adalah suatu kondisi ketika standar kebutuhan besar nominalnya berada di bawah besaran pendapatan. Kita masuk dalam kategori mampu, ketika telah menyelesaikan segala kebutuhan , tidak ada hal krusial terjadi, yang dapat mempengaruhi hidup kita sehari- hari.
Jika kita merasa waktu berjalan seperti biasa, tidak memiliki harapan segera bertemu dengan hari gajian adalah salah satu pertanda sederhana bahwa kita tidak termasuk dalam golongan yang menyalahpahami nasehat baik ini.
Seorang Ibu bekerja yang suka bercerita

Petruk
Hidup hemat tidak sama dengan pelit
Arsen
Saya tertarik dgn Gaya bercerita.. Urutan dan pilihan kata (diisi) muda dan membuat kita gampang memahami. Disisi lain, saya senang baca status yg sering ditulis di FB.
Moejie
Keren emang bahasannya, gaya bahasanya juga mudah dipahami. Terkadang kita dilupakan dengan keadaan. Naiknya penghasilan seharusnya tidak serta merta menaikkan gaya hidup kita.