f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
tubuh

Pola Hidup Sehat dengan Mendengarkan Alarm Tubuh

Pagi di awal februari, dibuka dengan tetesan demi tetesan rinai hujan. Entah mulai sejak pukul berapa. Yang pasti, saat aku membuka mata, hujan sudah memberikan kontribusi yang sangat besar atas dinginnya udara pagi ini. Aku beranjak ke dapur sambil menimbang-nimbang menu pembuka hari ini. Akhirnya, kuputuskan untuk menyeduh secangkir lemon tea dan menggoreng beberapa sosis solo sebagai pendampingnya. “Hmm, pas dengan cuacanya,” batin tubuhku. 

Setiap pagi, suamiku selalu mengawali harinya dengan secangkir kopi dan sebatang rokok. Sudah menjadi sarapan wajib baginya. Tidak ada cemilan atau makanan berat bukan masalah besar baginya, yang penting kopi dan rokok stay tune di hadapannya. Saat bekerja, dia kembali menikmati kopi 2 sampai 3 cangkir. Setelah pulang kerja, tak lupa secangkir kopi untuk menemaninya istirahat di sore hari. Sebelum istirahat malam, dia minta lagi secangkir kopi hitam. Jika kuhitung dalam sehari, dia bisa menengguk 5 cangkir kopi hitam.  

Memutuskan Hubungan dengan Rokok dan Kopi

Tibalah waktu, tepatnya 2 tahun setelah kelahiran anak kedua kami, mendadak suamiku merasakan detak jantungnya berdetak lebih cepat. Entah hidayah dari mana, menurutnya kopi dan rokok menjadi tersangka utamanya. Akhirnya, dia mengikuti alarm tubuh dan menyatakan putus hubungan dengan kopi dan rokok. Saya bersyukur, hingga saya menuangkan tulisan ini, si kopi dan rokok benar-benar sudah lenyap dari daftar menu santapan hariannya. 

Kepergian si kopi bersama rokok telah berdampak pada alarm tubuhnya yang lain, seperti rasa lelah dan ngantuk. Setelah pukul 22.00, karena tidak ada trigger kafein yang menjadi doping maka tubuh dan matanya sudah meronta-ronta minta istirahat. Otomatis, saya ikut pola dia juga. Sejak saat itu, hampir tak pernah lagi saya menjumpai dia begadang sampai tengah malam. Kalaupun ada pekerjaan yang belum beres,  suami saya memilih untuk tidur terlebih dahulu, kemudian bangun lebih awal agar bisa menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. 

Baca Juga  Apa Itu Herd Immunity?

Secara tidak sadar, dengan mengikuti alarm tubuhnya, pola istirahat suami saya kembali teratur. Bisa tidur malam dengan normal minimal 7 jam sehari. Secara tidak sadar pula, irama kerja dan moodnya pun jadi lebih baik. And of course, jadi lebih enak diajak mendalami perannya sebagai suami ideal. Lebih enak diajak ngobrol, berdiskusi, dan minta pertolongannya untuk ikut berperan dalam pekerjaan rumah tangga.

Perlahan, asupan makanannya pun menjadi lebih sehat. Menu dan jadwal makan bisa normal sesuai anjuran pemerintah, memenuhi persyaratan 4 sehat 5 sempurna plus pendamping-pendampingnya. Niat awal mengganti kopi dengan teh menjadi adaptasi baru buat kami. Teh tawar dengan perasan lemon atau jeruk nipis. Dan tanpa kami sadari, kebiasaan ini memberi dampak positif, karena ternyata lemon tea mempunyai manfaat bagi tubuh. 

“Kurang Enak sih Makan Sambal Tidak Pedas. Tapi demi Kesehatan Lambung, ya Dienakin Saja. Karena Bukan Hanya Manusia, Sesama Organ pun Harus Saling Toleransi.”

Satu-persatu organ tubuhnya mulai bekerja secara teratur. Tubuhnya juga menunjukkan antisipasi terhadap hal-hal yang tidak nyaman. Perut mulai menolak makanan yang terlalu pedas, terlalu berbumbu, dan terlalu gurih. Yang membuat saya ikutin selera dia. Daripada tetap ngikutin selera lidah tapi lambung protes. Pada akhirnya, sekarang suami saya bisa menikmati sayur bening, tempe goreng, ikan goreng, dan sambal yang tidak terlalu pedas.

Lidah pun terbiasa dengan selera lambung. Lidah membunyikan alarm penolakan ketika ada makanan yang asin, manis banget atau asem banget sebelum diproses masuk ke perut. Maka, tubuh pun terbiasa untuk menerima asupan makanan dalam batas wajar. Sehingga, suami saya lebih sering mengonsumsi makanan sehat tanpa ada perencanaan secara khusus. Ya begitulah, mengalir saja mengikuti alarm tubuh. Ada beberapa alarm yang pasang mode on dan memberikan penolakan-penolakan pada beberapa kebiasaan yang sudah berjalan hampir separuh hidup kami.

Baca Juga  Sami’na Wa Atho’na, Kunci Hidup dan Komitmen Seorang Muslim

Ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa lebih baik menghindari komsumsi nasi, agar terhindar dari diabetes dan obesitas. Menurut saya pribadi sih, kita orang Indonesia yang secara alami tumbuh dewasa bersama padi yang menjadi nasi, akan susah hidup tanpa nasi. Kalau tidak ketemu nasi, alarm perut bunyinya naudzubilah nyaring banget.

Ungkapan “belum makan kalau belum bertemu nasi” memang nyata adanya (Indonesia banget ya? Gak apa-apa deh, saya masih bahagia jadi WNI). Tapi, perlu anda catat, ketika perut sudah bunyikan alarm kenyang, saatnya hentikan komsumsi nasinya ya. Jangan mentang-mentang lauknya ada ikan asin, sayur asem dan sambal terasi, akhirnya 2 piring nasi tandas masuk ke dalam perut.

Mengalir Mengikuti Alarm Tubuh, Mendengarkan Apa yang Tubuh Inginkan

Mendengarkan alarm tubuh dan meneruskannya menjadi kebiasaan baik memberi dampak yang baik pula terhadap fisik dan psikis. Tahun lalu, jauh sebelum virus corona datang, suami saya menghadiri reuni kecil bersama teman-teman kuliahnya. Beberapa temannya berkomentar, kalau dia terlihat tidak berubah sejak jaman kuliah 20 tahun lalu. Bahkan terlihat lebih segar, lebih matang, dan kalau boleh sombong dikit, lebih terlihat muda dari teman-teman sebayanya. Tidak terlihat seperti bapak-bapak yang anaknya sudah mau kuliah.

“Kok bisa mas?” tanya salah seorang teman. Suami saya menjawab dengan santai,  “hidup tuh gak usah overthinking, ngalir aja.” Jawaban yang sangat klise ya, tapi begitulah kami menjalani hidup. Mengalir saja. Mengalir mengikuti alarm tubuh, mendengarkan apa yang tubuh inginkan. Feeling like kita sudah ikut menjaga hasil karya Tuhan yang sangat menakjubkan atas tubuh kita.

Editor: Andi Eka Nur Wahyu

Bagikan
Post a Comment