f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Krim Anti-Aging dan Imaji Awet Muda

Oleh : ER. Setiyawan

Dalam obralan dengan istri menjelang berbuka, dia bercerita tentang kebiasaan salah satu kelompok ibu-ibu sosialita di Suatu Komplek Perumahan. Sebuah kelompok ibu-ibu kelas menengah atas yang rata-rata usianya 40-an. Mereka mengeluh karena di masa pandemi begini aktivitas rutin perawatan mereka ke klinik kecantikan agak terganggu. Mereka jadi was-was berada di luar rumah dalam waktu yang lama.

Setiap bulan mereka mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk sebuah aktivitas di klinik kecantikan tersebut. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya dari menghindari tanda-tanda penuaan. Berbagai perawatan dilakukan, dari mengkonsumsi krim anti-aging, kapsul, minum vitamin sampai mempraktekkan gerakan-gerakan layaknya senam atau yoga. Sebuah usaha yang cukup keras untuk mempertahankan agar tetap nampak muda di usia yang tidak muda lagi.

Dalam kesempatan yang lain, saya mendengar sendiri percakapan istri dengan salah satu sales minuman fermentasi yang sebulan sekali selalu datang ke rumah untuk menawarkan produknya. Saking seringnya istri menjadi akrab dan terkadang jadi tidak enak kalau tidak membeli minuman yang dijajakan. Usianya kepala 4 dan berasal dari kelas sosial yang pas-pasan. Kalau bicara antusias sekali. Sampai lupa memberi kesempatan bicara orang yang diajak bicara. Dalam obrolan pagi itu, dia menceritakan kebiasaan dia melakukan suntik vitamin C dan menggunakan krim atau obat anti-aging. Saya menikmati obrolan khas ibu-ibu sambil menyiram tanaman di pekarangan rumah.

Yang membedakan cerita saya yang pertama dan kedua adalah tentang cara berusaha yang dilakukan. Yang pertama dilakukan di klinik kecantikan sementara yang kedua tidak. Kenapa tidak? Ya karena biaya perawatan di klinik kecantikan yang relatif mahal. Dia lebih banyak mengkonsumsi obat atau krim kecantikan berdasarkan informasi dari sosial media, situs online dan teman yang dikenalnya ketika berkeliling menawarkan minuman. Tentunya kualitas dan harga krim atau kapsulnya tidak semahal ibu yang pertama.

Baca Juga  Mitos Makanan yang Merugikan Perempuan

Secara sederhana yang membedakan antar kedua ibu tersebut adalah kebiasaan dan praktik keseharian dalam menpertahankan agar tetap awet muda. Tetapi kesamaannya adalah keduanya berusaha mempertahankan dirinya agar tetap awet muda dikondisi yang tidak muda lagi. Sebuah usaha yang mungkin dilakukan oleh banyak ibu dan mungkin bapak di Indonesia. Imajinasi untuk tetap muda seperti Sofia Latjuba, Yuni Sarah bahkan Titik Puspa adalah dambaan banyak orang.

Menunda Penuaan

Proses penuaan merupakan proses yang berhubungan dengan umur seseorang. Manusia mengalami perubahan sesuai dengan bertambahnya umur seseorang tersebut. Semakin bertambah umur semakin berkurang fungsi-fungsi organ tubuh. Dalam dunia medis penuaan dapat dijelaskan dengan berbagai macam teori.

Banyaknya produk-produk berupa krim, obat kapsul dan hal lain yang sejenis yang dilabeli sebagai obat anti-penuaan “anti-aging” merupakan implikasi dari perkembangan dunia medis yang berhasil menunda penuaan. Toruan (2008) menjelaskan dalam teori medis tentang penuaan yang dianut selama ini secara garis besar ada 3: yaitu genetika, radikal bebas dan teori hormon. Teori genetika memandang bahwa manusia sudah ditetapkan usianya sesuai dengan gen yang diperoleh dari orang tua. Teori radikal bebas melihat bahwa penuaan terjadi karena sel tubuh yang rusak lebih cepat dari yang seharusnya akibat diserang oleh radikal bebas yang berasal dari berbagai macam sumber. Sedangkan teori hormon berasumsi bahwa setelah usia 30 tahunan, hormon tubuh manusia khususnya hormon pertumbuhan mengalami penurunan yang berefek pada kulit.

Penemuan tersebut merupakan perkembangan ilmu pengetauhan di dunia medis. Penuaan yang bagi kebanyakan orang dianggap sebagai sesuatu yang tidak bisa ditolak kini menjadi suatu hal yang bisa ditunda. Hal tersebut menandakan bagaimana ilmu pengetauhan berkembang dan mampu mempengaruhi cara berfikir dan bertindak manusia. Wolf (2002) dalam bukunya Mitos Kecantikan menilai bahwa ada usaha dari industri kecantikan (kosmetik dan fashion) yang menjadi induk semang dari sistem kapitalis untuk mengontrol kebebasan perempuan. Alih-alih menindas mereka secara langsung, industri kecantikan menyerang perempuan dengan mitos kecantikan. Jika kita kaitkan dengan cerita diatas, apa yang dilakukan dua perempuan tadi merupakan upaya dari ketidakpuasan terhadap tubuhnya, bisa juga rasa tidak bisa memuaskan laki-laki, bahkan membenci dirinya sendiri. Dari kacamata Wolf usaha keras untuk menjadi tetap awet muda adalah alat penyiksaan.

Baca Juga  Merah Gelap Gulita

Kelas Sosial, Distingsi dan Lifestyling

Menjadi tua bagi sebagian orang memang ancaman. Sehingga banyak orang berusaha mati-matian tetap awet muda. Ada yang terbukti berhasil, ada yang gagal. Gambaran dua ibu dari kelas sosial yang berbeda diatas tentunya menyimpan motif. Apa yang membuat mereka berusaha sedemikian kuat agar tidak menjadi tua. Meskipun hal tersebut cukup beresiko bagi kelas sosial yang menengah ke bawah. Dengan biaya pas-pasan membayangkan punya kulit tetap muda. Tentunya hal tersebut cukup beresiko dan berbahaya.

Secara spontan saya bertanya kepada istri saya. Apa yang membuat banyak perempuan begitu terobesi tetap awet muda. Obralan santai itupun sampai pada sebuah kesimpulan. Bagi kelas sosial menengah-atas hal tersebut dilakukan bisa agar jadi terlihat berbeda dengan orang se-usianya dan mungkin juga kelompok diluar dirinya. Hal tersebut mengingatkan saya pada praktik distingsi (distingtion). Distingsi sebagai sebuah perbedaan yang digunakan untuk menunjukan posisi status kelas tertentu (Bourdieu dikutip Haryatmoko : 2013).

Bourdieu mendiskusikan panjang lebar betapa selera itu sama sekali tidak netral. Dari pengamatan tersebut, apa yang dilakukan oleh ibu yang pertama menggambarkan bahwa selera diorganisasikan sesuai dengan posisi di dalam masyarakat. Selera selalu merupakan representasi khas dari suatu kelompok kelas. Representasi dari hasrat membedakan diri (distingsi) dengan kelompok sosial yang lain, terutama yang lebih bawah. Distingsi kurang lebih bisa disederhanakan sebagai perbedaan yang merujuk pada pengelompokan suatu kelas sosial tertentu. Pengelompokan tersebut tergambar dari kebiasaan mereka dalam mempertahankan diri bersama kelompok sosialitanya. Membiasakan diri ke klinik kecantikan yang mahal yang orang dengan kelas sosial bawah susah untuk menjangkau.

Terus bagaimana ibu dengan ekonomi pas-pasan yang juga saya ceritakan tadi. Dari situ tergambar bagaimana gaya hidup cenderung mengeksklusi orang dengan kelas sosial tertentu. Modernitas memang menciptakan perbedaan, pengucilan dan pemingiran (Gidden:1991).

Baca Juga  Tren Kutek Halal yang Masih Menjadi Kontroversi

Institusi modern telah menciptakan mekanisme penindasan daripada aktualisasi diri. Apa yang terjadi pada diri perempuan dengan kelas sosial bawah tadi bisa dipahami sebagai eklusi dari menciptakan gaya hidup sendiri. Dia dipaksa untuk mengikuti gaya hidup dan prilaku tertentu oleh orang-orang yang mempunyai otoritas. Penampilan untuk untuk tetap muda seolah menjadi standar dan hal tersebut yang membuatnya melakukan usaha-usaha agar dirinya tetap kelihatan muda. Apa yang dilakukannya juga bisa lihat sebagai praktek lifestyling, yakni prilaku yang sekedar mempertunjukan gaya hidup tertentu tanpa didukung oleh kemampuan ekonomi yang merupakan dasar konsumsi sesungguhnya. Sebuah usaha yang mungkin bagi sebagian orang cukup menyiksa tetapi rasanya susah keluar dari imaji tersebut. Yakni imaji tetap tampak muda selama-lamanya.

*) ER Setiyawan, Ayah dua anak dan Pengamat Ibu-ibu Urban.

Bagikan
Post a Comment