Keputihan Tak Selalu Biasa: Konsultasi, Paham, dan Pulih
“Saya malu bilang ke siapa-siapa, padahal rasanya makin nggak nyaman. Saya kira cuma keputihan biasa. Tapi kok berbau dan gatal, ya?”
Itulah pengakuan jujur dari Nn. R (20), seorang perempuan muda yang akhirnya memutuskan datang ke layanan kesehatan karena keputihan yang dialaminya membuatnya khawatir. Sebelumnya, ia mengira bahwa keputihan adalah hal wajar bagi semua perempuan. Tapi tubuhnya berkata lain. Ada alarm yang tak bisa diabaikan lagi.
Apa Itu Keputihan Patologis?
Keputihan atau fluor albus sebenarnya adalah cara alami tubuh perempuan menjaga keseimbangan flora dan kelembapan vagina. Namun, tidak semua keputihan bisa dianggap normal. Jika warnanya kekuningan atau kehijauan, berbau menyengat, disertai gatal atau nyeri, itu bukan sekadar “keputihan biasa”—itu bisa jadi tanda keputihan patologis, yang disebabkan oleh infeksi bakteri, jamur, atau parasit.
Sayangnya, banyak perempuan menganggap keluhan ini remeh. Terlebih, ada rasa tabu atau malu yang menghalangi mereka mencari bantuan. Di sinilah letak masalahnya. Diam dan bertahan justru memperparah keadaan.
Mengapa Kita Perlu Peduli?
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, lebih dari 75% perempuan Indonesia pernah mengalami keputihan, dan sekitar 30% di antaranya bersifat patologis. Bukan hanya mengganggu kenyamanan, keputihan patologis dapat menjadi pintu masuk infeksi lebih berat, bahkan memengaruhi kesuburan jika dibiarkan tanpa penanganan.
Lebih dalam lagi, masalah ini seringkali berakar pada rendahnya akses terhadap edukasi kesehatan reproduksi yang ramah perempuan. Padahal, Islam sendiri memuliakan kebersihan dan kesehatan sebagai bagian dari iman. Rasulullah ﷺ bersabda, “Kebersihan adalah sebagian dari iman” (HR. Muslim). Maka menjaga kesehatan reproduksi adalah bagian dari ibadah dan penghormatan terhadap tubuh yang Allah titipkan.
Asuhan Kebidanan yang Berempati dan Berbasis Bukti
Ketika Nn. R datang ke sebuah layanan kesehatan di Cirebon, ia ditangani oleh bidan dengan pendekatan yang bukan hanya klinis, tapi juga empatik. Melalui langkah-langkah manajemen kebidanan berbasis Varney, dilakukan pengkajian menyeluruh: mulai dari riwayat personal, perilaku kebersihan, hingga pemeriksaan langsung. Hasilnya menunjukkan bahwa keputihan yang dialaminya memang tergolong patologis.
Bidan lalu memberikan edukasi tentang personal hygiene yang tepat, menyarankan penggunaan pakaian dalam berbahan katun, hingga menghindari penggunaan sabun pembersih vagina yang dapat mengganggu pH alami. Dengan pengobatan yang sesuai dan pendampingan yang hangat, dalam seminggu kondisi Nn. R membaik—bukan hanya secara fisik, tapi juga secara emosional.
Keputihan dalam Perspektif Empowerment Perempuan
Apa yang menjadikan kasus ini menarik? Bukan hanya tentang infeksi atau pengobatan medis. Tapi tentang bagaimana seorang perempuan muda menyadari bahwa tubuhnya bukan sesuatu yang harus disembunyikan ketika bermasalah, melainkan sesuatu yang harus didengar, dihormati, dan dirawat. Ini adalah bentuk awal dari kemandirian dan cinta diri.
Selama ini, banyak perempuan diam karena takut dianggap jorok, berlebihan, atau tidak tahu malu ketika bicara soal keputihan. Padahal, berbicara tentang tubuh bukanlah aib. Dalam Islam, tubuh adalah amanah yang harus dijaga, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 195, “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan…” — artinya, membiarkan tubuh sakit tanpa upaya merawatnya adalah bentuk kelalaian.
Maka, saat Nn. R memutuskan untuk datang ke fasilitas kesehatan, ia tidak hanya mencari kesembuhan fisik. Ia juga sedang melawan stigma, menolak diam, dan mengklaim haknya atas informasi dan layanan kesehatan yang layak. Ini adalah bentuk empowerment yang nyatat yaitu berani bertanya, berani peduli, dan berani sembuh.
Ini bukan artikel ke-1000 tentang keputihan. Ini adalah narasi kebidanan yang membalikkan posisi perempuan dari objek perawatan menjadi subjek yang sadar, aktif, dan penuh daya. Bahwa mereka berhak tahu, berhak memutuskan, dan berhak sembuh.
Sebagaimana Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan: “Tidak ada penyakit yang Allah turunkan, kecuali Dia juga menurunkan obatnya.” (HR. Bukhari). Maka, tugas kita adalah mencari ilmu, mengenali tanda, dan tidak malu untuk berobat. Karena sembuh bukan hanya hak—tapi juga tanggung jawab terhadap diri dan Pencipta.
5 Tips Praktis untuk Ibu dan Remaja Putri:
- Jangan abaikan keputihan yang berubah warna, berbau, atau disertai nyeri.
Keputihan yang berwarna kuning kehijauan, berbau amis atau menyengat, dan disertai gatal atau nyeri, merupakan tanda infeksi. Jangan menunggu parah. Dalam Islam, menjaga tubuh dari bahaya termasuk bagian dari maqashid al-syari’ah, yaitu melindungi jiwa dan kesehatan. Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain” (HR. Ibn Majah). - Hindari pemakaian sabun pembersih vagina secara rutin.
Banyak perempuan menggunakan sabun berpewangi untuk membersihkan organ intim, padahal ini bisa mengganggu keseimbangan pH alami vagina. Islam mengajarkan thaharah (kesucian) dengan cara yang seimbang, jadi tidak berlebihan dan tidak membahayakan. - Gunakan pakaian dalam katun, dan ganti minimal dua kali sehari.
Kain katun menyerap keringat dan menjaga area genital tetap kering. Lembap dan panas bisa memicu pertumbuhan jamur. Ganti pakaian dalam secara rutin sebagai bentuk ihtimam (perhatian) terhadap kebersihan diri, yang juga bagian dari adab Islam harian. - Jangan ragu berkonsultasi dengan bidan atau tenaga kesehatan.
Ketika tubuh memberi tanda, tanggapi dengan bijak. Berkonsultasi bukan tanda lemah, tetapi bentuk tanggung jawab terhadap amanah Allah atas tubuh kita. Allah memerintahkan kita untuk bertanya kepada ahlinya jika kita tidak mengetahui (QS. An-Nahl: 43). - Edukasikan remaja putri tentang kesehatan reproduksi sejak dini.
Pengetahuan adalah kunci. Berikan informasi yang benar tentang tubuh, haid, keputihan, dan juga adab menjaga kebersihan. Islam menekankan pentingnya pendidikan bagi anak-anak sejak usia dini, termasuk dalam hal menjaga tubuh yang suci dan sehat. Nabi ﷺ bersabda, “Setiap kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR. Bukhari-Muslim).
Dari Malu Jadi Pulih
Pengalaman Nn. R menunjukkan bahwa masalah keputihan bisa jadi awal dari kepedulian terhadap tubuh. Kita bisa mulai dari hal sederhana: mengenali tubuh, mendengar sinyalnya, dan tidak menunda untuk bertindak.
Menjaga kesehatan reproduksi bukan hanya tugas klinik atau bidan, tapi juga gerakan sadar perempuan untuk hidup lebih sehat dan bermartabat. Dalam Islam, menjaga tubuh adalah amanah, dan merawatnya adalah bentuk cinta diri yang diridhai.
Referensi:
Varney’s Midwifery, 5th Edition
Kemenkes RI. (2019). Profil Kesehatan Indonesia
WHO. (2020). Female Genital Tract Infections Guidelines

