Stunting dan Bidan Yang Kurang Greget
Terdengar bunyi notifikasi yang menandakan pesan masuk saling bersahutan. Cukup berisik, meskipun bunyinya timbul tenggelam oleh suara percikan air dan minyak saat bertemu di penggorengan. Tak ayal, jiwa ingin tahuku sebagai perempuan muncul, betapapun ingin fokus menyelesaikan gorengan tempe yang sudah menjadi korban penjagalanku di hari ini. “Maaf, terpaksa harus berbagi perhatian.” Kataku dalam hati, sambil mengusap layar HP.
“Duh Gusti, akeh tenan.” Gumamku, melihat ribuan pesan yang masuk di group alumni perguruan tinggi di lingkungan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Membaca sekilas dapat kusimpulkan, diskusi tentang program penurunan angka stunting di Indonesia. Issue panas terkini, di samping upaya negara membebaskan warga dari pandemi corona.
Suasana group mendadak panas, ketika seorang alumni pendidikan gizi mengirimkan sebuah pesan. Sebut saja namanya Jinten. “Jujur diriku ‘gak sreg, dengan pola kerja beberapa temen bidan di sini.”
“Emang kenapa, dengan pola kerja bidan di tempatmu?” kiriman pesan sebuah nomor yang tidak kusimpan, masuk.
Kompetensi Bidan
“Sebenarnya kesuksesan pemberian ASI Eksklusif itu termasuk tanggung jawab bidan juga ‘gak sih? Mereka perlu gak sih paham tentang IMD, perlekatan, dan posisi menyusui yang benar?” Pesan Jinten kembali masuk.
“Jelas dong, itu salah satu kompetensi yang harus dimiliki bidan. Bahkan menjadi salah satu materi uji dalam stase uji kompetensi bidan. Kalau ‘gak lulus yang ngulang, atau sertifikat kompetensi bidannya tidak akan dikeluarkan.” Jawab si Vero, yang sekarang sudah berstatus sebagai dosen di sebuah akademi kebidanan swasta di Jogja.
“Nah itu, aku rasa bidan di sini kurang greget dalam pemberian ASI Ekslusif. Ya ‘kan dampaknya ke gizi, bagianku jadi korban. Kalau laporannya sih bagus, tapi di lapangannya ‘gak sesuai’. Kalau begini bagaimana program 1000 HPK bisa dikejar, apalagi stunting. Padahal di program 1000 HPK ini menuntut peran bidan secara optimal, profesional, dan berkualitas.” Keluh Jinten dalam pesan yang dikirimnya.
“Kenapa sih, selalu saja bidan yang menjadi sasaran. Emang sudah seberapa besar sih kasih perhatian ke bidan, hingga mereka yang konon jadi ujung tombak kesehatan ibu dan anak harus menjadi sasaran utama kesalahan, bila ada program yang tidak maksimal?” tukas Jeni, alumni bidan yang bertugas di pedalaman.
“Iyo, betul itu kak. Aku kerja di klinik swasta kak, gaji gak seberapa. Salah dikit dimarahi, apalagi pas ‘ketanggor’ senior. Apes dah!” Timpal Ajeng, alumni bidan juga.
“Makane, aku milih jadi ibu negara saja. Ngurus anake dhewe, biar ‘gak stunting. Capek hati, gaji sedikit, keringetnya diperas habis. Dih, amit-amit.” Pesan masuk dari nomor tak tersimpan.
“Situ nuntut peran bidan yang besar dalam Program 1000 HPK. Emang situ udah pastikan, kepala puskesmasnya bisa diajak kerjasama? Kalau masih semaunya sendiri, apalagi main perintah doang dan gak kasih solusi mah, jangan ngarep mba.” Komenter bidan lainnya.
“Bidan juga manusia. Robot aja lama-lama aus lho mesinnya, apalagi manusia. Kadang kala butuh contoh, motivasi, suport, bahkan perlu sesekali bidan ki dikasih pujian, gitu. Akui dong prestasinya, enggak kalau salah doang dibesar-besarkan. Ngenes gue. Ada lho, tenaga sukarela di puskemas gue, boro-boro digaji. Transport aja, bensinnya beli sendiri. Coba dipikir, emang bayar kuliah bidan pakai daun? Sebel gue!” Sebuah pesan bernada emosi terkirim dari sebuah nomor yang tidak kukenali.
“Ish… sabar donk, kita ‘kan lagi diskusi. Cuman beneran nih, kemarin aku jumpai beberapa bidan lagi berdebat soal IMD, cara IMD, waktu IMD. Bahkan ada beberapa bidan yang lagi magang enggak tahu lo soal perlekatan menyusui. Bingung juga kan, ini bidan waktu kuliah tidur apa ya kerjaannya? Atau kampusnya yang kebanyakan mahasiswa, atau masuknya yang enggak pakai seleksi, asal kejar setoran?”. Sebuah pesan masuk diakhiri dengan sebuah emotikon berfikir keras.
Banyak sekali pesan lain masuk. Tidak tepat sepertinya ikut nimbrung, karena saat ini perhatianku sedang terbagi. Ada tempe yang bernasib nahas sedang menunggu diangkat dari penggorengan, sebelum aroma gosong menyeruak hingga ke hidung tetangga.
Bayang-Bayang Anak dengan Diagosa Stunting
Sedemikian keras aku mencoba, tapi percakapan di group whatsaap tetap saja berkelidan. Terbayang dibenakku anak-anak dengan diagnosa stunting. Stunting atau gagal tumbuh adalah suatu kondisi yang menggambarkan status gizi buruk pada masa pertumbuhan dan perkembangan anak sejak awal kehidupan.
Anak-anak dengan stunting, memiliki tubuh yang pendek, IQ-nya di bawah rata-rata, dan daya tahan tubuhnya terhadap penyakit sangat rendah. Jika kondisi ini terus dibiarkan, tentu akan sangat mengkhawatirkan. Pasalnya hal ini menyangkut generasi bangsa, aset berharga yang menentukan nasib bangsa kedepannya. Fiks, ini aku sepakat banget.
Kondisi ini memang tidak dapat diobati, namun dapat dicegah. Pemerintah telah melauching program 1000 HPK (Hari Pertama Kelahiran) sebagai upaya pencegahan stunting. Satu diantaranya adalah dengan pemberian ASI Eksklusif, yang diawali dengan IMD (inisasi menyusu dini) segera setelah bayi lahir, selama minimal 30 menit.
Dilihat dari program ini, bidan memang memiliki peran yang cukup besar. Mengingat bidang kompetensi yang dipelajarinya sejak di bangku kuliah, hingga makna filososi bidan sebagai seorang pendamping perempuan. Tapi, apakah kemudian semata menjadi tanggung jawab profesinya saja? Hingga, pantas profesi inilah yang pertama akan dipertanyakan kinerjanya ketika capaian tidak memenuhi target yang dipasang?
“Nangsipnya para bidan.” Aku ngelus dada. Lalu menyelesaikan satu ‘srengan’ mendoan terakhir. Hampir lupa, sudah jam 09.00 dan bocil-bocilku belum sarapan.


Titin
Keren mbak …