f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
doa

Ketika Doa Mengalahkan Rasionalitas

Saat itu umur pernikahan kami memasuki usia 7 tahun.  Kami telah memiliki tiga anak laki-laki, berusia 5 tahun, 4 tahun, dan 2 tahun. Setiap melihat teman-teman yang memiliki banyak anak, hati merasa senang. Ada perasaan, bahagianya mereka dianugerahi banyak anak. Sempat terlintas dipikiran, saya ingin memiliki anak sebanyak 6 orang; 3 anak laki- laki dan 3 anak perempuan. Alangkah bahagianya saya nanti.

Kelahiran anak kami ketiganya bisa dikatakan tidak berjalan mulus. Anak pertama kami terpaksa  harus dilahirkan caesar karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk normal. Saat itu, saya dan suami lagi berjauhan, saya berada di Tangerang sedangkan suami berada di Kalimantan. Persalinan saya ditemani kedua orangtua. Karena persalinan sore, pesawat penerbangan hari itu telah habis. Akhirnya, besok hari setelah lahir baru suami datang.

Begitu juga dengan anak kedua kami, anak kedua kami lahir tepat setahun jaraknya dari abangnya.  Abangnya lahir Mei 2013, lalu adiknya lahir April 2014. Dokter kandungan yang menangani kami, tidak mengijinkan kami untuk melahirkan normal melihat riwayat kelahiran anak pertama dengan caesar dan jarak kelahiran yang kedua ini kurang dari 2 tahun. Jadilah, anak kedua kami pun lahir dengan caesar.

***

Ternyata qodarullah, ketika anak kedua kami berumur sekitar 1,5 tahun, kami dianugerahi kembali anak ketiga. Kami memeriksa kandungan dengan dokter kandungan yang sama saat menangani kelahiran anak kami dulu. Dokter terlihat kaget dan marah ( mungkin tepatnya khawatir ya), waktu itu beliau berkata: “Ibu tidak KB ? Ibu ini semua kelahirannya caesar kurang dari 2 tahun, kasihan rahimnya bu ? Ini gak bisa, harus caesar kembali ? Nanti langsung steril aja ya ?”

Mendengar perkataan dokter itu saya bingung, bimbang, dan marah. Sampai saya tidak berani lagi konsultasi dengan dokter itu. “Saya mau ke dokter lain saja, nanti dimarahi lagi, saya tidak mau steril,” ucap saya pada suami. Hati kecil saya berkata  “saya tidak mau steril, saya masih ingin memiliki anak”, tapi di satu sisi saya juga bingung dengan kondisi rahim jika kehamilan nanti terjadi.

Baca Juga  Belajar dari Aska

Tiba waktu kehamilan tri semester, akhirnya saya memutuskan kembali ke dokter kandungan yang sama. Dengan pertimbangan, beliau mengetahui riwayat kehamilan sebelumnya. Alhamdulillah dokter tidak memaksa untuk steril, hanya menyarankan untuk KB. Pendek kata, tibalah kelahiran anak ketiga kami, saya memutuskan untuk KB demi menjaga kondisi rahim selama proses penyembuhan.

Impian untuk memiliki anak tidak luntur dari hati saya. Setelah 2,5 tahun berlalu, saya dan suami berkeinginan untuk menjalankan ibadah umrah. Saat itu anak-anak tinggal bersama kakek dan neneknya selama kami pergi menjalankan ibadah umroh.

***

Setibanya di kota Madinah,  saya sangat takjub dengan keindahan kota tersebut.  Detak jantung berdegup, air mata menetes, rasa haru dan bangga yang tiada tara. Mulut terus melafazkan salam dan doa kepada Nabi Muhammad Saw. Bersyukur kepada Allah, yang telah memberikan kesehatan dan rejeki  sehingga menginjakkan kaki di kota indah ini.

Madinah adalah salah satu kota paling suci bagi umat Islam. Tujuan utama ke Madinah adalah ziarah ke makam Nabi Muhammad Saw., yang terletak di dalam Masjid Nabawi. Di sampingnya ada Raudhah atau Raudhatul Jannah, surga di dunia. Tempat ini tak pernah sepi kunjungan peziarah; dikenal juga sebagai tempat yang mustajab untuk berdoa.

Di Raudhah itulah ku panjatkan doa kepada Rabb-ku. Sambil mengangkat kedua tangan ku berdoa “Ya Rabb, jika memang keinginanku ingin memiliki anak lagi, baik bagi agama, dunia dan akhiratku, maka mudahkan dan lancarkanlah. Jika Kau mengijinkan, ku ingin memiliki anak perempuan.”

Setelah dari kota Madinah, kami lanjutkan perjalanan menuju ke kota Mekkah. Kota Mekkah tak kalah membuat ku takjub kembali, rasa haru dan syukur berkecamuk jadi satu. Apalagi saat ku bisa melihat Ka’bah yang merupakan rumah Allah (Baitullah) dan melakukan ibadah tawaf. Nikmat ibadah yang begitu indah, tenang, dan bahagia. Tak ku lewatkan untuk panjatkan doa kembali kepada Rabbku.

Baca Juga  Doa, Proses, dan Progres Menuju Pernikahan
***

Enam bulan berlalu setelah kami kembali melakukan ibadah umrah. Kabar baik tak terduga itu datang. Aku dikabarkan mengandung kembali, aku mengandung anak keempat.  Yang paling membahagiakan adalah ternyata aku mengandung anak perempuan.

Seketika setelah mendapat kabar itu, aku teringat akan doa di saat melakukan ibadah umrah. Seperti hadiah atas doa-doaku dulu. Ternyata hal yang menurut manusia beresiko tinggi, dengan kekuatan doa semua bisa menjadi mungkin bahkan lebih baik.

Alhamdulillah, tiba saat proses kelahiran, semua berjalan lancar dan melahirkan putri yang cantik salehah dan sehat. Bahagia tiada tara dan bersyukur kepada Allah atas semua rejeki dan anugerah terindah yang telah Ia berikan.

Bagikan
Post a Comment