Fenomena Pick Me Girl dalam Kehidupan Perempuan
Perempuan saat ini masih berjuang untuk melawan sistem patriarki yang membuat perempuan menjadi gender nomor dua. Gerakan feminisme dan kampanye keadilan gender banyak dilakukan oleh organisasi dan komunitas di berbagai wilayah. Perempuan seperti saya, yang memimpikan sebuah kehidupan yang setara, sangat senang nengetahui perkembangan yang baik ini. Akan tetapi, ternyata ada hal yang tanpa kita sadari menjadi penghambat terciptanya keadilan gender dan sering kita temui selama ini.
“Cewek itu emang lebih baik yang natural-natural aja nggak sih?”
“Apa cuma aku yang nggatau caranya pake eyeliner?”
“Oh kamu suka warna ungu? Janda dong. Kalo aku sih sukanya warna item, soalnya keren gitu, ngga alay.”
“Kalo aku lebih suka temenan sama cowok sih, soalnya kalo temenan sama cewek itu banyak drama kan, jadi males gitu.”
Pernah mendengar atau membaca kalimat di atas? Atau ternyata pernah mengatakannya? Mungkin dulu kita pernah mengatakan ini ke teman perempuan kita. Dan dulu ada rasa bangga ketika menemukan bahwa ternyata kita berbeda dan menganggap bahwa kita lebih baik dari perempuan lain. Fenomena ini sekarang dikenal dengan istilah pick me girl, di mana perempuan melakukan hal tersebut untuk mencari atensi agar semua orang menganggapnya istimewa. Ternyata, fenomena pick me girl adalah bentuk dari internalized misogyny.
***
Internalized atau internalisasi adalah pemasukan suatu nilai tertentu ke dalam pemikiran orang lain. Sedangkan misogyny atau misogini adalah perlakuan membenci, memandang rendah, dan mendiskriminasi perempuan. Internalized misogyny biasanya dilakukan oleh perempuan untuk meninggikan dirinya dengan merendahkan perempuan lain. Bagaimana bisa sesama perempuan tidak saling mendukung tetapi justru menjatuhkan perempuan lain?
Ada alasan mengapa perempuan bisa melakukan internalized misogyny terhadap perempuan lain. Alasan itu tidak lain adalah budaya patriarki yang masih mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Seperti yang kita tahu, patriarki menempatkan posisi laki-laki lebih tinggi dari perempuan. Sehingga masyarakat, baik itu perempuan maupun laki-laki memandang bahwa laki-laki memiliki kekuatan yang lebih besar. Laki-laki itu yang lebih kuat, lebih rasional, dan mengandalkan logika sehingga lebih mampu untuk memimpin. Sedangkan perempuan dianggap lemah, selalu menggunakan perasaan, tidak perlu berpendidikan tinggi, sehingga tidak bisa memimpin dan lebih baik mengurusi urusan rumah tangga.
Dengan adanya banyak stereotip tadi, perempuan secara tidak sadar membuat standar atas perempuan itu sendiri. Perempuan yang baik adalah perempuan yang sesuai dengan pandangan masyarakat. Untuk membuktikan bahwa dirinya memenuhi standar tersebut, perempuan membutuhkan validasi dari orang lain dengan cara merendahkan pilihan yang telah diambil oleh perempuan lain.
***
Tanpa kita sadari, kita mungkin pernah merendahkan perempuan lain untuk mendapatkan penghargaan atas diri sendiri. Orang yang mengaku mendukung feminis pun ternyata bisa melakukan internalized misogyny, karena stereotip untuk perempuan menjadi berubah mengikuti zaman.
Dulu mungkin kalimat merendahkannya masih berupa stereotip klasik bahwa perempuan adalah subjek pasif.
“Perempuan kok kerja, perempuan mah ngurus anak aja”
“Cewek kok pake make up tebel banget, bagusan juga yang natural”
“Perempuan nggausah sekolah tinggi, takut susah jodoh, laki-laki pada minder nanti”
Akan tetapi, mengingat saat ini kita berada dalam keadaan di mana gerakan melawan budaya patriarki makin gencar dilakukan, makin banyak perempuan yang mendukung dan menginginkan kesempatan yang sama dalam berbagai hal. Terjadilah banyak perubahan dalam kehidupan menyoal tentang standar perempuan. Yang dulunya perempuan itu harus feminine dan lemah lembut, karena ada spirit kesetaraan yang tumbuh di dalam diri perempuan, maka saat ini perempuan yang berpenampilan agak maskulin menjadi hal yang normal. Kemudian yang dulunya perempuan itu harus main masak-masakan, sekarang mulai lazim perempuan yang mencoba bermain sepak bola, futsal, basket, atau game perang dan strategi. Yang dulunya perempuan itu lebih baik setelah tamat sekolah langsung menikah, kini banyak perempuan yang memilih untuk membangun karir.
***
Sayangnya, dengan adanya perubahan ini stereotip klasik perempuan tidak hilang, justru bertambah. Ada standar perempuan versi masyarakat yang belum mengenal feminisme, ada pula standar perempuan versi masyarakat yang sudah mengenal feminisme tetapi belum menyeluruh.
“Cewek udah sekolah tinggi kenapa mau jadi ibu rumah tangga aja? Sayang banget”
“Aku sih nggasuka belanja, lebih suka main PUBG atau ML sama temen-temen cowokku”
“Apa cuma aku yang kalo keluar nggapernah peduli sama penampilan?”
“Kalo aku sih sukanya pake sneakers sama hoodie ya, aku nggabisa pake heels sama rok gitu, ribet”
“Aku sih ngga gampang nangis ya, keliatan lemah, menye-menye banget kalo nangis”
Dalam kasus standar perempuan modern, perempuan yang merasa dirinya paling berbeda dari perempuan biasanya, paling bertolak belakang dengan standar klasik perempuan akan merendahkan perempuan yang dirasa masih mengikuti standar tersebut.
Misalnya standar klasik perempuan itu harus berpenampilan yang anggun, menggunakan pakaian dengan warna cerah yang identik dengan perempuan seperti merah muda, kuning, atau biru. Dengan adanya gerakan feminisme, warna cerah bukan lagi milik perempuan dan warna gelap bukan milik laki-laki. Perempuan mulai percaya diri menggunakan pakaian dengan warna-warna gelap, mulai berani memakai hoodie, celana oversized, atau baju oversized yang dulunya hal itu dianggap milik laki-laki. Karena merasa dirinya yang paling melawan stigma klasik, perempuan modern tadi akan menganggap bahwa dirinya lebih baik dari perempuan yang mengenakan rok dan menyukai warna cerah. Pola pikir ini yang akhirnya menjadi penyebab internalized misogyny.
***
Walaupun terlihat sepele, fenomena internalized misogyny ini bisa berdampak terhadap perempuan yang mengalaminya. Survei yang dilakukan oleh Dawn M. Szymanski pada tahun 2009 menunjukkan bahwa internalized misogyny dapat menyebabkan tekanan psikologis (Dehlin, 2018). Perempuan dapat memandang dirinya sendiri dengan penuh keraguan karena tidak sesuai standar masyarakat tadi, dan parahnya perempuan akan menganggap perempuan lain sebagai rival. Dengan adanya kepercayaan tersebut dalam diri perempuan, maka perempuan akan menganggap bahwa stereotip yang disematkan pada mereka adalah benar, dan pada akhirnya keadilan gender menjadi sebuah kemustahilan.
Jelas, perilaku internalized misogyny harus dihindari. Selain karena berdampak negatif bagi perempuan, internalized misogyny tidak sejalan dengan spirit Women Supporting Women. Untuk menghindarinya, perempuan harus menyadari bahwa tindakan merendahkan perempuan lain untuk mendapatkan validasi bahwa dirinya lebih baik artinya melanggengkan budaya patriarki. Perempuan yang melakukan internalized misogyny seakan terhipnotis dan menyetujui bahwa perempuan itu inferior, yang segala tindakan dan penampilannya diatur oleh pandangan masyarakat.
Jika ada perempuan suka memakai heels, rok, dan make up, maka itu pilihannya. Jika ada perempuan suka memakai hoodie, suka warna hitam, dan suka main futsal, itu pun pilihannya. Perempuan yang setelah sarjana memilih untuk menjadi ibu rumah tangga bukan berarti dia tidak feminis karena memilih mengurusi urusan domestik. Perempuan yang memilih untuk berkarir juga bukan berarti dia tidak bisa menjadi ibu yang baik. Tidak ada standar yang berhak menentukan perempuan yang lebih baik itu seperti apa.
Itu lah perempuan berkemajuan, yang bisa menjadi diri sendiri sesuai pilihannya tanpa harus merendahkan pilihan orang lain. Yang mendukung sesama perempuan untuk mendapatkan kesempatan yang sama, yang berperan aktif dalam masyarakat dalam mengatasi masalah-masalah sosial. Jika sesama perempuan saling melawan, kapan kesetaraan akan terjadi?

“Mencerahkan pemikiran, menggerakan nurani, membentuk perempuan Islam yang progresif dan berdaya”
