f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perempuan haid

Bisakah Perempuan Haid Menghidupkan Lailatulqadar?

Dalam ibadah, ada sesuatu yang spesial pada perempuan yang tidak ditemukan pada laki-laki. Perempuan diberikan oleh Allah suatu keringanan dalam bentuk haid untuk menstabilkan emosinya ketika air-air kotor itu dikeluarkan dari dalam tubuhnya. Dari sini muncul suatu keringanan ibadah yang tidak ditemukan pada laki-laki, perempuan bisa haid dan laki-laki jelas tidak bisa. Dalam keadaan seperti ini, maka Allah memberikan tuntunan-tuntunan keringanan dalam beribadah bagi perempuan. Menariknya, pahala tetap Allah berikan walaupun tidak mengerjakan beberapa ibadah-ibadah, seperti salat dan puasa. Termaktub dalam hadis riwayat Imam Al Bukhari nomor 2996, dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Artinya : “Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar (perjalanan jauh), maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan dia ketika mukim dan ketika sehat.” 

Praktek dari hadis ini, misal ada seseorang melakukan perjalanan dari negara A ke negara B baik jalur darat ataupun laut. Orang ini terbiasa Salat Zuhur 4 rakaat lengkap dengan sunahnya dan Salat Asar 4 rakaat, kemudian karena orang ini dalam perjalanan, maka Salat Asar dimajukan di waktu awal Zuhur lengkap dengan Salat Zuhurnya dan dijamak takdim (diawalkan bersama dengan salat yang lebih awal) dan diqasar (diringkas jumlah rekaat salatnya); serta salat sunahnya tidak dikerjakan. Saat orang ini tidak bisa mengerjakan salat sunahnya, maka pahala salat sunahnya tetap diberikan karena sebelumnya sudah terbiasa mengamalkan sunahnya dan kali ini terkendala karena perjalanan.

Ramadan, Perempuan Haid dan Nifas

Menariknya saat bulan Ramadan bagaimana dengan perempuan ketika haid. Tentu pahalanya akan tetap melimpah seperti saat keadaan sucinya tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala tersebut. Karena keluarnya darah-darah kotor ini merupakan udzur syar`i (sakit) yang sesuai dengan konteks hadis di atas. Maka kegiatan-kegiatan ibadah ritual yang biasa dilakukan menjadi terlarang, namun tidak sama sekali mengurangi pahala ketika saat suci.

Baca Juga  Tafsir Al-Insyirah untuk Generasi Z

Namun, bagaimana dengan perempuan dalam kondisi sedang haid, bisa kah perempuan haid menghidupkan Lailatulqadar? Karena memiliki keterbatasan dalam beribadah. Tentu hal ini menjadi kesedihan untuk perempuan ketika harus menjalani Ramadan dengan situasi haid, apalagi di 10 hari terakhir Ramadan; begitu pula untuk yang sedang nifas tidak bisa salat, puasa, dan lain sebagainya. Namun, hal-hal tersebut tidak bisa menghalangi perempuan untuk mendapatkan lailatulqadar. Karena lailatulqadar itu diperuntukkan untuk kita semua dan Allah itu Maha Adil. Ada banyak peluang-peluang yang bisa dilakukan perempuan ketika berhalangan baik haid ataupun nifas.

Rahmat Allah itu sangat luas, jika di hari lain-lain saja rahmat dan kasih sayangNya begitu banyak, apalagi di Bulan Ramadan. Ketika 10 hari pertama dan kedua itu keberkahan Bulan Ramadan begitu luar biasa; terlebih lagi di 10 hari terakhir Ramadan pasti makin meningkat keberkahannya. Maka tidak akan tertutup bagi perempuan yang berhalangan untuk mendapatkan lailatulqadar.

Amalan Perempuan Haid di 10 Hari Terakhir Ramadan

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan perempuan haid dan nifas ketika menanti lailatulqadar. Yang pertama, yaitu membaca Al-Qur’an. Dalam Kitab At-Tamhid (17/397), Ibnu Abdil Barr berkata, “Para pakar fikih dari berbagai kota baik Madinah, Iraq, dan Syam tidak berselisih pendapat bahwa mushaf tidaklah boleh disentuh melainkan oleh orang yang suci dalam artian berwudhu. Inilah pendapat Imam Malik, Syafii, Abu Hanifah, Sufyan ats Tsauri, al Auzai, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahuyah, Abu Tsaur dan Abu Ubaid. Merekalah para pakar fikih dan hadis di masanya.”

Yang kedua, yaitu terus meluruskan niat. Maksudnya yaitu ketika perempuan haid atau nifas tidak melaksanakan shalat, puasa, dan sebagainya. Semua itu tetap diniatkan sebagai bentuk ibadah menjauhi larangan Allah, karena hal-hal demikian merupakan suatu ibadah yang terlarang bagi perempuan haid dan nifas.

Baca Juga  Wa Classroom Adalah Kunci!

Yang ketiga, yaitu memperbanyak doa. Hendaknya banyak bermunajat meminta untuk  tetap mendapatkan kemuliaan-kemuliaan lailatulqadar. Dengan kejujuran kesungguhan doa insyaallah tidak akan mengurangi pahala lailatulqadar bagi perempuan haid dan nifas.

Yang keempat, yaitu memperbanyak dzikir. Walaupun sedang haid atau nifas, namun perempuan juga bebas untuk berdzikir sebanyak-banyaknya. Tidak ada batasan bagi perempuan untuk berdzikir. Dan masih banyak lagi amalan-amalan untuk perempuan haid yang tidak bisa di sebutkan satu per satu; silahkan cari amalan terbaik dan ternyaman untuk dilakukan selama itu tidak menyalahi hukum-hukum syar`i yang ada dan sesuai dengan tuntunan yang benar menurut Al-Qur`an dan Al-Hadis. Kesimpulannya, meskipun perempuan sedang berhalangan, tapi itu tidak menghalangi mereka untuk mendapatkan lailatulqadar. Wallahu a`lam bishshawab.

Bagikan
Post a Comment