Egaliterianisme Islam

5 menit baca
Teks:
WhatsApp

Manusia diciptakan di bumi ini dengan berbagai suku, ras, gender, budaya, dan sejenisnya, bukan untuk saling merendahkan satu sama lain, tetapi agar kita semua saling mengenal dan saling menolong. Namun, sedikit sekali masyarakat yang paham akan esensi dari penciptaan manusia. Disebabkan karena kebanyakan dari masyarakat masih terjerat pada pandangan superioritas yang mengental pada adat dan tradisi. Hal ini yang menjadi akar permasalahan dalam munculnya kesenjangan sosial dan kekuasaan, seperti kebiasaan masyarakat arab dulu yang menganggap rendah status kaum wanita, kaum miskin, juga kebiasaan membesar-besarkan suku dan kedudukannya. Dari sanalah Islam hadir di tengah masyarakat untuk memberikan nilai-nilai moral, sehingga membentuk aturan manusia untuk hidup secara kooperatif dan resposif.

Islam itu Egaliter

Islam menuntut persamaan posisi antar manusia. Tidak mengenal adanya konsep superioritas berdasarkan ras, suku dan budaya. Tidak ada keunggulan bagi Insan yang martabatnya terkuat dan tertinggi di antara manusia, karena manusia secara fitrahnya diciptakan pada garis yang sama dalam masalah kualitas diri. Islam menghargai eksistensi manusia pada posisi yang sama, tidak ada perbedaan strata sosial antara Si Putih dengan Si Hitam, tidak ada pula asumsi yang mengatakan kalau perempuan itu lebih rendah tingkatannya daripada laki-laki. Setiap orang diciptakan dengan kelebihannya masing-masing, saling melengkapi satu sama lain. Allah tidak menyukai orang yang memperlihatkan kesombongannya, pangkatnya dan keunggulannya. Di hadapan Allah Swt. semuanya sama derajatnya. Dalam pandangan Islam, tolak ukur kemuliaan manusia tidaklah dilihat dari seberapa kayanya atau seberapa hebatnya. Namun, dilihat dari seberapa besar intentitas ketakwaanya. Sebab, kemuliaan manusia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artinya: Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (Al-Hujurat: 13).

Hukum Islam itu memberikan perhatian penuh dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Selalu memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan muamalah, tak hanya mengenai jasmani saja, namun ruhani juga termasuk. Tujuannya agar tereratnya tali persaudaraan dan terciptanya prinsip keadilan tanpa melihat gender, kedudukan, sosial, dll. Akhirnya perasaan saling menghargai dan solidaritas antar sesama muncul di dalam diri manusia.

فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِين

Artinya: Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (Al-Hujurat: 9). 

Hablumminallah dan Hablumminannas

Al-Qur’an merupakan sumber kehidupan. Ia menjadi pedoman bagi kehidupan di dunia, karena hampir seluruh isinya mencakup aspek tentang kehidupan dan akhirat; aqidah, syari’ah, hukum, ilmu pengetahuan, dan akhlak. Dari hal tersebut, ada 2 aspek besar yang diambil dari seluruh aspek tersebut, yakni prinsip Islam tidak hanya terfokus pada hubungan dengan Tuhan saja (Hablumminallah); tetapi  juga mengutamakan hubungan dengan sesama manusia (Hablumminannas). Kedua hal tersebut tak bisa dipisahkan, karena sama-sama lurus dalam rasio yang sama. Sebagaimana mestinya, ketika percaya terhadap Al-Quran, maka harus mengikuti isinya, inilah konsekuensi dari beriman kepada Al-Quran. Namun, terkadang masih banyak manusia yang menilai bahwa hubungan antar manusia tidak diperlukan. Alasannya apalagi kalau bukan menyia-nyiakan waktu untuk beribadah, karena tujuan akhir dari dunia adalah akhirat.

Padahal bisa jadi, ketika menjalin hubungan baik dengan sesama manusia akan menghasilkan nilai ibadah bagi yang menjalankannya. Ibadah menurut islam, tak hanya sebatas aktivitas ritual saja. namun, apapun aktivitasnya juga termasuk ibadah jika didasari dengan keimanan, yakni dengan niat beribadah.

Dalam hadis nabi disebutkan,


إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Artinya: “Sesungguhnya segala perbuatan itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Banyak amalan yang tampak duniawi berubah menjadi amalan ukhrawi, disebabkan karena niat yang bagus. Dengan demikian, tak ada alasan jika berhubungan dengan manusia dapat membuang waktu secara sia-sia. Justru, dari berhubungan baik itulah bisa mendapatkan yang lebih baik. Demikianlah, Islam mengajarkan untuk menjaga prinsip hablumminallah dan hablumminannas, karena hubungan baik kepada Allah saja, tidak cukup. Jadi harus diimbangi dengan hubungan baik sesama manusia.

Salat dan Puasa

Eksistensi Islam memiliki relasi terhadap manusia. Hampir setiap harinya, kepekaan untuk mengeratkan solidaritas terus dipupuk. Hal ini dipertajam dengan adanya ritual yang menjadi manifestasi dari sikap tolong menolong, persaudaraan, keadilan, dan sejenisnya, seperti: salat dan puasa, atau ibadah selainnya. Seluruh ibadah itu saling berkaitan, yakni sama-sama menjadi stimulan agar menimbulkan rasa simpati dan empati pada orang-orang.

Ketika melaksanakan salat dan Haji, seluruh manusia tunduk pada TuhanNya. Semua jabatan, kekuasaan tidak ada harganya. Tidak ada kata istimewa bagi mereka yang menyandang gelar presiden, raja dan sejenisnya. Tidak ada yang menjadi penghalang bagi ritual subjektif ini. Ketika salat, mereka sama-sama menjadi makmum dalam shaf yang sejajar dan masing-masing menanggung bebannya sendiri; dosa dan pahala. Dalam hal ini semua setara, yakni menjadi hamba Allah dan harus mengikuti semua aturan-aturan dalam hidupnya.

Begitu pula dengan adanya ibadah puasa. Dalam pelaksanaannya kita hanya dituntut untuk menahan lapar dan haus selama 12 Jam atau lebih, lalu sehabis itu kita buka dengan makanan yang memadai. Hal ini sama seperti kita menjadi bagian dari saudara kita yang miskin, mereka jarang makan karena ketidakmampuan mereka untuk membeli makanan. Oleh karena itu, puasa tidak hanya menahan lapar dan minum saja. Namun, keniscayaan kita terhadap perenungan substansinya, yakni menjadikan puasa sebagai sarana untuk merasakan kondisi krisis dari saudara kita “sense of crysis” sebagai penumbuh dari sifat keadilan dan kepedulian .

Maka dari situlah puasa, salat, zakat, haji memiliki intentitas yang mampu menggerakan rasa kepekaan diri dan menyadarkan jiwa yang kehilangan arah. Fungsi ibadah-ibadah tersebut memang untuk mendorong penyucian hati manusia yang selama ini hidup berdampingan dengan harta, agar selalu sadar dengan posisinya, bahwa sejatinya manusia di bumi ini tidak mempunyai apa-apa, dan meyakini bahwa harta merupakan barang titipan Allah kepada manusia. Fungsi yang demikian itu akan memunculkan sikap rendah hati dan solidaritas terhadap sesama manusia. Maka, jelas ibadah bisa dikatakan bernilai apabila substansinya mampu direalisasikan.

Bagikan:
Penulis 1 Tulisan

Misbah Ardhi Widodo

Penulis dan kontributor aktif di Rahma.ID, menyajikan inspirasi, pemikiran, dan pandangan yang mencerahkan bagi perempuan dan keluarga muslimah.

Leave a Comment