Healing dalam Islam
Pernyataan Umum Tentang Healing
Kata healing di dunia media sosial mulai dari tahun 2021 hingga 2022 menjadi ramai khususnya di kalangan remaja sampai remaja dewasa. Healing yang beredar di media sosial menunjukkan aktivitas berlibur dengan jalan-jalan ke tempat wisata seperti taman, pantai, kebun binatang dan lain-lain.
Selain jalan-jalan ke tempat wisata, di media sosial – healing juga bisa dengan menikmati kopi di kafe, makan makanan yang enak dan cantik di restoran, rebahan seharian di rumah, pergi jajan ke pasar malam atau pusat jajanan tradisional, pergi naik motor sendirian menikmati suasana di jalan tanpa tujuan, karaokean dengan sahabat, belanja sepuasnya di mall, menonton film terpopuler di bioskop, menyewa villa di puncak atau di bali, dan masih banyak lagi.
Selain itu, di media TikTok juga viral cara melampiaskan emosi, menghilangkan stres dan mengeluarkan amarah dengan menghancurkan barang. Bahkan hal ini di Jakarta Utara menyediakan tempat yakni Break Room di Jakarta Utara. Masyarakat menganggap bahwa cara ini merupakan salah satu dari healing.
Melihat orang-orang melakukan healing tidak sedikit yang membutuhkan biaya. Mereka yang healing terutama yang menyukai healing ke tempat wisata tentu rela menghabiskan banyak uang untuk membayar tiket, membayar transportasi dan membeli makanan.
Healing Menjadi Tren
Tren healing juga mengakibatkan tempat wisata seperti puncak selalu ramai dengan kemacetan yang cukup parah setiap weekend ataupun weekday. Beberapa tempat wisata juga mempromosikan tempat wisata tersebut dengan penggunaan kata healing agar dapat menarik minat pengunjung. Seperti mempromosikan tempat wisata Curug dengan menunjukkan suasana alam yang indah, air curug yang jernih sesuai dengan konsep healing.
Healing dengan mengajak teman-teman di sekolah atau kampus membuat suasana semakin ramai dan tidak merasa sendirian. Healing bersama teman-teman oleh warga Instagram juga tidak hanya di dalam kota saja bahkan sampai keluar kota, provinsi, dan luar negeri. Walaupun healing bersama, tidak sedikit juga mengeluarkan biaya. Apalagi, jika melihat teman yang membeli barang ini barang itu membuat kita ikut untuk membeli juga tanpa tahu kepentingan barang tersebut untuk diri kita sendiri.
Konsep Healing Dalam Psikoterapi
Kata healing ini berasal dari metode psikiater yaitu Self Healing. Self healing merupakan metode penyembuhan penyakit bukan dengan obat, melainkan dengan mengeluarkan perasaan sedih, marah, kesal, kecewa, lelah, suntuk, jengkel yang terpendam di dalam tubuh. Self healing juga disebut sebagai rangkaian latihan praktis yang dikerjakan secara mandiri sekitar 15-20 menit dan sebaiknya dilakukan 2 kali dalam sehari.
Healing digunakan sebagai psikoterapi dengan tujuan untuk mewujudkan kesehatan mental yang baik bagi individu. Terapi ini sering digunakan untuk mengatasi trauma pada korban bencana alam, menurunkan nyeri pada pasien yang mengalami sakit fisik, manajemen emosi, menurunkan kecemasan dan berbagai hal lainnya. Healing tidak harus selalu dilakukan dengan bantuan terapis, tetapi juga bisa dilakukan secara mandiri yang disebut dengan self-healing.
Self-healing merupakan fase pada proses pemulihan, didorong dan diarahkan oleh individu sendiri dan seringkali hanya dipandu oleh naluri. Selain bisa melakukannya secara mandiri, self-healing juga memiliki konsistensi pengulangan sehingga dapat memeroleh hasil yang lebih maksimal untuk mencapai kesehatan fisik dan mental.[1]
Konsep Healing Dalam Islam
Dalam Islam, kata healing berarti Asy-Syifā’ yang bermakna pengobatan. Kata healing berasal dari Bahasa Inggris yang berarti kesembuhan, penyembuhan, menyembuhkan, penyembuh, genosida, melenyapkan. Sedangkan menurut istilah, menggunakan healing sebagai salah satu metode penyembuhan pasien yang mengalami gangguan baik fisik maupun psikis. Dalam kajian ilmu psikologi misalnya, healing menjadi terapi yang cukup efektif untuk menangani trauma pada anak-anak korban bencana alam tsunami Banten melalui play therapy. Tujuannya supaya anak-anak dapat menerima dan melanjutkan kehidupannya.
Healing juga bisa digunakan dengan cara menciptakan lingkungan yang positif, mendukung dan memberikan rangsangan positif bagi panca indera, terutama bagi pasien Rumah Sakit. Tindakan ini dikenal dengan healing environment. Islamic Self-Healing merupakan pengobatan non farmakologi yang mempunyai dasar pemikiran dari pengobatan Islam yang didalamnya terdapat aspek hikmah atau manfaat dari kegiatan ibadah seperti doa, dzikir dan herbal (pengobatan dengan air zam-zam) dilakukan selama 25-30 menit.
Individu mengarahkan diri untuk memperkuat hati, bersandar dan tawakal kepada Allah, mencari perlindungan, bersikap rendah hati dan menunjukkan kelembutan hati. Terapi ini juga berguna untuk menghilangkan kesedihan dan kemuraman di dalam hati, mendatangkan kegembiraan dan ketentraman di dalam hati, menguatkan hati dan badan, menimbulkan kharisma dan percaya diri, penyembuh dan obat penyakit hati, menimbulkan rasa sabar dan syukur sehingga menimbulkan rasa nyaman dan rileks.[2]
Waktu adalah Pedang
Waktu adalah pedang. Kita tidak tahu kapan kita sakit, kapan kita senang, kapan kita sedih, kapan kita mendapatkan rezeki, dan kapan kita susah. Allah sangat menyukai orang-orang yang menghargai waktu. Waktu bukan hanya detik menit atau jam saja, tapi juga hari minggu bulan dan tahun.
Dari saya kecil, Ibu saya selalu bertanya “Hari ini bantu apa buat Ibu?”. Ibu saya jaga warung di pasar, sedangkan saya dengan adik dan kakak saya mengurus rumah. Awalnya saya kesal karena selalu kena marah kalau tidak membantu membersihkan rumah, mencuci pakaian atau menyetrika. Saya juga merasa terpaksa untuk membantu pekerjaan Ibu di rumah. Apalagi, Ibu saya punya ART. Saya merasa rugi jika saya membantu ART walaupun saya hanya mencuci menjemur dan menyetrika baju saya sendiri.
Setiap harinya saya hanya mengerjakan satu pekerjaan. Saya tidak mau banyak-banyak membantu ART. Karena saya anak rantau, menurut saya setiap pulang ke rumah adalah waktu untuk saya istirahat. Saya sudah capek di tempat saya merantau. Untuk apa saya pulang ke rumah makin tambah capek?.
Setiap malam hari Ibu selalu bertanya dengan pertanyaan yang sama, “Hari ini udah bantu apa?”. Dari sini saya mulai pelan-pelan ikhlas menjalani pekerjaan di rumah. Waktu demi waktu saya berpikir, tidak ada ruginya saya membantu. Tapi, saya masih keras kepala dengan perasaan saya yang ingin istirahat saja sepanjang hari di rumah seperti teman-teman rantau saya di rumah mereka masing-masing.
Memanfaatkan Waktu dengan Membantu
Saya pun iri dengan teman-teman saya yang tidak perlu membantu orang tua mereka. Saya iri melihat status mereka jalan-jalan ke tempat bagus atau setiap malam nongkrong di warung kopi. Walaupun saya tidak tertarik untuk pergi main atau nongkrong bersama teman-teman, tapi saya iri dengan waktu luang mereka yang begitu banyak. Kalau saya seperti mereka, saya hanya ingin diam di kamar menikmati cemilan dan menghabiskan waktu untuk drama korea saja.
Ibu ingin anak-anaknya sehat dengan berkegiatan di rumah tidak diam saja di kamar. Ingin anak-anaknya terbiasa mengerjakan hal-hal ringan karena pasti ada pembelajaran sedikit demi sedikit setiap harinya., mengajarkan anak-anaknya untuk menghargai waktu setiap harinya walau sedang berlIbur. Ibu juga ingin mengajarkan anak-anaknya untuk memanfaatkan waktu untuk mencari pahala sekecil apapun di dunia ini
LIburan selama satu pekan, dua pekan, 3 pekan atau bahkan 2 bulan, bukan berarti kita menjalaninya dengan cara satu hari leha-leha kemudian besoknya produktif. Bukan berarti kita menjalaninya dengan cara satu pekan pertama leha-leha kemudian satu pekan berikutnya kembali produktif. Bagaimana jika hari ini kita tidak produktif, tidak melakukan amal apapun kemudian besoknya kita sudah dipanggil Allah melalui malaikatNya?. Naudzubillah min dzalik.
Setelah saya mencoba untuk mengerti, apa yang ingin Ibu saya sampaikan, saya jadi senang menjalaninya. Betapa keren cara Ibu mengajarkan hal ini kepada anak-anaknya. Bukan untuk kebiasaan yang baik saja, tapi juga untuk tabungan pahala kita di akhirat nanti. Walaupun saya masih merasa kesal kalau Ibu sudah memaksa untuk membantu pekerjaan rumah, hehe.
Ragam Memanfaatkan Waktu
Namun, di sini saya juga tidak ingin menghakimi bahwa mereka yang memilih healing dengan pergi jalan-jalan ke tempat wisata itu hanya menghabiskan waktu dengan sia-sia. Ada banyak cara untuk memanfaatkan waktu. Tidak hanya ketika sedang di rumah, di kantor, atau di sekolah saja. Ketika mendaki gunung, bermain ke laut, berkunjung ke museum, nongkrong di warung kopi pun bisa dimanfaatkan.
Mendaki gunung, bermain ke laut, mengunjungi museum, bisa untuk mempelajari hal baru. Selain itu, bisa juga untuk melihat dan mensyukuri ciptaan Allah yang ada di dunia ini. Di mana kita sebagai makhlukNya dituntut untuk terus belajar karena belajar adalah ibadah. Bagaimana dengan nongkrong di warung kopi? tentu saja bermanfaat untuk mempererat silaturahmi dengan teman-teman.
Dengan niat yang baik, melakukan dengan tidak keluar dari syariat Islam, kita bisa melakukan healing di mana saja, kapan saja, dalam bentuk apa saja. Manfaatkan waktu setiap harinya dengan sebaik mungkin baik untuk istirahat, membantu sesama, berbakti kepada orangtua dan lain-lain. Healing seperlunya, istirahat secukupnya. Kita tidak pernah tahu apakah kita akan selamat dalam kegiatan healing kita atau malah jadi malapetaka.
[1] Dian Rahmasari, Self Healing is Knowing Your Own, Unesa University Press, 2020, hal.4
[2] Annisa Mutohharoh, Self Healing: Terapi atau Rekreasi?, Journal of Sufism and Psychotherapy, Vol. 2 No.1, 2022 (https://e-journal.iainpekalongan.ac.id/index.php/jousip/article/view/5771/2498)
Mahasiswi Semester 5 Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah. Ketua Bidang KeIslaman Laboratorium Perkaderan Asrama Putri IMM Ciputat. Kader Pimpinan Komisariat Fakultas Dakwah dan Komunikasi IMM Ciputat. Instagram: fathnyrzyn TikTok: fathnyrzyn Twitter: fzeyinn Facebook: Fathny Rezany Zeyin.
