f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
media sosial remaja

Keawetan Memori ‘Mantan’ Dibanding Pelajaran

Oleh : Octavincentia Anggita Putri

Memori Mantan

Mungkin kita semua sudah tahu bahwasanya proses kognisi yang terjadi pada diri manusia ini memiliki dampak yang luar biasa terhadap diri kita. Seperti judul di atas. Terdapat beberapa pertanyaan yang seketika muncul. Mengapa memori mantan mudah diingat padahal ia sudah tidak ada lagi dalam kehidupan kita? Mengapa ingatan itu sungguh lekat dalam otak kita walaupun sudah berusaha keras dalam melupakannya? Mengapa juga kita bisa mudah dalam melupakan pelajaran padahal itu penting untuk kehidupan kita dibanding mengingat memori tentang mantan?

Ada banyak hal yang menyebabkan kita mudah mengingat mantan. Seperti pada artikel “psychology today” (Referensi: Journal of Applied Social Psychology), bahwasanya alasan mengapa kita bisa ingat dengan mantan itu karena ada hal dimana kita ingin meromantisasikan ingatan kita dengan apa yang telah kita lalui bersama. Seperti contohnya, sofa di rumahmu dimana kamu sering bercengkrama dengan dia pada waktu kalian masih pacaran dulu.

Potongan-potongan yang ada kaita nya dengan dia, itu masih tersimpan dengan baik dalam pikiranmu. Kita kembali ke masalah sofa tadi. Mungkin, pada sofa itu mengingatkan hal yang baik maupun buruk yang pernah kalian lalui bersama. Seperti menonton film, beradu argumen, dan menghabiskan waktu bersama. Atau bisa juga dengan kamu yang pernah diberikan barang darinya, dan kamu simpan barang tersebut dengan baik.

Hal ini, juga berhubungan dengan pertanyaan selanjutnya mengenai mengapa memori tentang mantan bisa terus ada dalam otak kita. Pada artikel yang sama, dijelaskan bahwasanya semakin kita berusaha untuk melupakan dan menutupi hal tersebut, kita akan menempatkannya ke dalam pusat kesadaran. Ditambah lagi dengan memutar ulang kenangan yang kalian miliki baik yang indah maupun yang buruk. Hal ini bisa menghantui dan memicu kita untuk terus mengingatnya.

Baca Juga  Umar Ibnu al-Khathab dan Pelajaran Darinya (2)

Memori Pelajaran

Mengapa kita bisa dengan mudah melupakan pelajaran yang sering kita dapatkan? Lupa itu adalah hal yang sangat wajar yang terjadi pada seluruh manusia. Faktor mengapa kita bisa lupa pun banyak sekali yang bisa kita kaji. Tak hanya dari kita sendiri, bisa juga terpengaruh dari faktor lingkungan (luar diri kita). Seperti misalnya kurangnya motivasi belajar, adanya tekanan sosial yang disengaja maupun tidak, dan adanya perubahan waktu belajar yang kita alami (Anderson, 1990). 

Berdasarkan law of difuse (Hilgard & Bower, 1975) mengatakan bahwa, lupa dapat terjadi karena suatu informasi tidak pernah dikuasi atau dipahami lagi. Ini sama seperti pada jurnal UGM (Pudjono, Buletin Psikologi, 2008) yang saya baca. Terdapat teori yang berhubungan dengan hal ini, yaitu, teori pemudaran. Disini dijelaskan bahwasanya informasi yang kita dapat akan melemah dan sulit kita gapai kembali dan akan hilang seiring bertambahnya waktu jika informasi tersebut tidak kita gunakan.

Teori pemudaran ini sama seperti apa yang dilakukan oleh Peterson- Brown yang mana mereka melakukan sebuah penelitian sederhana. Mereka meminta subjek untuk mengingat tiga angka acak (atau yang lebih dikenal dengan trigrams) selama tiga detik. Kemudian, peneliti meminta para subjek untuk menghitung angka 300 secara mundur (300, 299, 298,…) yang diberi waktu selama 5 – 18 detik. Lalu selanjutnya, peneliti meminta para subjek untuk menyebutkan kembali trigrams yang tadi sudah diberi tahu.

Hasil menjelaskan bahwasanya, hampir keseluruhan subjek tadi kesulitan dalam mengingat tiga angka di awal tadi. Pada penelitian yang dilakukan Peterson-Brown ini terbukti bahwasanya, adanya rehearsing (pengulangan) itu sangat penting. Sama seperti kita dengan materi pelajaran. Bila kita tidak mengulang materi tersebut, maka besar kemungkinan informasi yang kita dapatkan akan memudar atau hilang. Namun sebaliknya, bila kita terus melakukan latihan dan pengulangan, maka tidak menutup kemungkinan kita tetap ingat dengan materi belajar tersebut. Hal ini juga berlandaskan dengan dasar fisiologis manusia yang menyatakan bahwasanya walaupun ingatan manusia itu bersifat reliable, namun itu bisa saja tidak akurat.

Baca Juga  Kilas Balik Seorang Feminis

Sama seperti yang dikatakan oleh Scahcter (1999. dalam jurnal UGM: Buletin Psikologi), mengenai ketidakakuratan memori pada manusia. Terdapat tujuh faktor, yaitu kesementaraan (transience), salah atribusi (misattribution),  linglung (absentmindedness), bloking (blocking), bias (bias), sugestibilitas (suggestibility), dan persistensi (persistence).

Pada sifat kesementaraan itulah yang menggambarkan bahwasanya bila informasi yang tidak diulang (rehearsing), akan menyebabkan informasi tersebut memudar atau menghilang seiring berjalannya waktu. Lantas, bagaimana agar kita bisa tetap ingat dengan materi pelajaran yang kita punya? Bisa kita lakukan dengan proses rehearsing (pengulangan), dan menambah kapasitas waktu belajar, atau dengan menambah banyaknya materi yang akan dipelajari (menurut Barlow (1985), Reber (1988), dan Anderson (1990)).

Memusatkan Pikiran

Disini, kita bisa mengetahui mengapa orang itu lebih mudah dalam mengingat mantan yang pada dasarnya tidak terlalu penting dibanding materi pelajaran. Menurut saya, orang cenderung memprioritaskan apa yang akan menjadi pusat pikiran mereka, dan apa yang akan terus menjadi kenangan akan terus ia ingat, dan selalu menjadi memori yang tertanam dalam otak.

Manusia memiliki beberapa faktor yang bisa meningkatkan atau menurunkan intensitas mengingat sesuatu dan beberapa kondisi yang bisa mendukung kegiatan mengingat tersebut. Dari semua yang sudah dijelaskan, keduanya pun sebenarnya tidak salah. Bagaimana kita mengingat mantan, bisa kita jadikan itu sebuah pelajaran untuk kita di masa kini agar kesalahan lalu tidak terulang lagi.

Sedangkan, materi pelajaran, memang pada dasarnya kemampuan mengingat pada tiap manusia itu berbeda-beda. Kita tidak bisa paksakan dengan alasan kita harus bisa mengingat semuanya. Ditambah, faktor dalam diri kita dan lingkungan yang memang setiap waktunya tidak akan selalu konstan.

Baca Juga  Maksud Hati agar Terlihat Edgy, Beberapa Istilah Psikologi Ini Kerap Disalaharti

Referensi :

R. Cox Cathy,. Kersten Mike., Routledge, Clay., & M. Brown, Erin. (2015). When past meets present: the relationship between website‐induced nostalgia and well‐being. Journal of Applied Social Psychology, 45(5), 282 – 299.

Pudjono, Marnio. (2008). Teori-teori kelupaan. Buletin Psikologi, 16(2), 89 – 93.

Artkel Psychology Today.

Bagikan
Comments
  • Enjoyed reading the article above, really explains
    everything in detail, the guide is very interesting and effective.
    Thank you and good luck in the upcoming articles.

    King regards,
    Dinesen Valenzuela

    November 4, 2020
Post a Comment