f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
bunuh diri

Mitos dan Fakta Tentang Bunuh Diri (1)

Peristiwa bunuh diri cenderung mengalami peningkatan pada beberapa dekade terakhir ini. Beberapa program dan kebijakan tentang penanggulangan bunuh diri telah disusun dan tersosialisasikan kepada segenap lapisan masyarakat dengan harapan dapat menurunkan angka tindakan bunuh diri di Indonesia. Namun, sampai saat ini masalah bunuh diri di Gunungkidul belum dapat tertanggulangi. Kasus bunuh diri tertinggi di Indonesia ditemukan di Gunungkidul Yogyakarta.                                      

Sejak tahun 2009 Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul bekerja sama dengan World Health Organization (WHO) telah berhasil menyusun modul yang berjudul; “Pelatihan Deteksi Dini dan Pendampingan Kelompok Risiko Tinggi Bunuh Diri di Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta, Bagi Petugas Puskesmas dan Kader Masyarakat”. Modul ini telah dibagikan kepada petugas dan kader masyarakat, baik di tingkat kecamatan maupun desa di lingkungan Kabupaten Gunungkidul. Selain itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul bekerjasama dengan Departemen Agama Kabupaten Gunungkidul kini telah memiliki pedoman Khutbah Jumat; sebagai bentuk pendidikan kejiwaan, dan diharapkan dapat sebagai materi sosialisasi penanggulangan bunuh diri ke masyarakat.

Faktor utama yang menyebabkan terjadinya tindakan bunuh diri di Gunungkidul dikarenakan kemiskinan, penyakit tak kunjung sembuh, mempercayai mitos dan depresi. Pelaku tindak bunuh diri sebelum melakukan bunuh diri biasanya menarik diri dari pergaulannya sehari-hari dan menjadi pendiam. Masyarakat Gunungkidul bunuh diri dengan cara gantung diri di daerahnya disebabkan karena pelaku bunuh diri kejatuhan (ketiban) atau kemasukan pulung gantung dikenal dengan nama mitos pulung gantung.

Pendapat warga masyarakat Gunungkidul mengenai semaraknya tindakan bunuh diri di daerahnya didukung oleh fakta penelitian menjelaskan bahwa orang Gunungkidul memiliki persepsi atau pemahaman, yaitu siapa saja yang kejatuhan (ketiban) pulung gantung dipercayai menjadi faktor pendorong bagi orang tersebut bunuh diri. Menurut pengetahuan masyarakat, lokasi jatuhnya pulung gantung itu bisa tepat di atas rumah pelaku bunuh diri tersebut; di atas rumah tetangga dekatnya; atau di pohon sekitar rumahnya.

Baca Juga  Mitos dan Fakta Tentang Bunuh Diri : Pulung Gantung di Gunungkidul (2)
****

Dalam peristiwa bunuh diri di Gunungkidul, terdapat adanya hubungan antara orang yang mau mati itu bercerita atau melihat pulung gantung terlebih dahulu. Kemudian mewujudkannya menjadi tindakan bunuh diri sesungguhnya. Proses menuju ke arah kematian tersebut menunjukkan bahwa orang yang melakukan tindakan bunuh diri itu sebetulnya berpikir atau berkomunikasi; sehingga hubungan mitos pulung gantung dengan tindakan bunuh diri mewujudkan hubungan antara harapan (das sein) dan kenyataan (das sollen). 

Penelitian ini juga mengkaji mengenai perlawanan-perlawanan yang dilakukan oleh orang-orang Gunungkidul untuk menangkal atau mengantisipasi supaya mitos pulung gantung tidak menjadi kenyataan sehingga tidak ada lagi yang menyusul melakukan tindakan bunuh diri. Oleh karena itu, hasil temuan penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk mengapresiasi perjuangan orang keluar dari lingkaran bunuh diri. Dengan demikian, pelaksanaan penelitian bunuh diri dalam konteks budaya lokal di Gunungkidul menjadi penting, perlu, dan bersifat unik.

Karya tulis mengenai bunuh diri yang ditulis oleh para jurnalistik, peneliti, dan ilmuwan dapat dibaca pada berbagai sumber, antara lain buku, novel, majalah, journal, surat kabar, dan laporan penelitian. Fakta ini menunjukkan kajian tentang bunuh diri tidak hanya didominasi oleh disiplin ilmu tertentu; tetapi telah dikaji dari berbagai disiplin ilmu, antara lain statistik, sejarah, psikoanalitis, psikologi-sosial, ekologi, sosiologi, dan antropologi. Namun, diagnosisnya seringkali tidak menjawab permasalahan mengenai faktor penyebab utama bunuh diri (E.B. Strauss, 1956: 818-820).

Hal ini mempertegas faktor pendorong atau penyebab seseorang melakukan bunuh diri tidak bersifat tunggal; tetapi bersifat jamak berelasi dengan berbagai aspek kehidupan masyarakat. Hal ini menyebabkan para ilmuwan yang mempunyai disiplin ilmu berbeda-beda itu menjadi tertarik menulis tentang peristiwa bunuh diri.

Baca Juga  Hubungan Sesama Jenis Harus Menjadi Perhatian Publik
***

Seorang sosiolog Perancis bernama Emile Durkheim (1968) pada tahun 1897, menerbitkan sebuah buku yang berjudul Suicide: A Study in Sociology. Dalam buku ini terungkap bahwa faktor terpenting yang menyebabkan perbedaan angka bunuh diri ditemukan dalam perbedaan level fakta sosial. A Study in Sociology yang ditulis oleh Durkheim dan diterbitkan pada tahun 1897; telah banyak memberikan inspirasi kepada berbagai ilmuwan melakukan pengkajian atau penelitian tentang peristiwa bunuh diri.  Apabila menoleh ke belakang, sebelum Durkheim menerbitkan karya tulis berjudul Suicide: A Study in Sociology, sebenarnya L.V. Helms (via Geertz, 2003:  34-40) pada tanggal 20 Desember 1847 pernah mengamati prosesi ritual bunuh diri yang dilakukan oleh para selir raja di Bali, yang disebut tradisi mesatia.

Helms menjelaskan, para selir raja di Bali yang pernah diamatinya bunuh diri (mesatia) ketika sang raja (suaminya) meninggal dunia; dengan cara menceburkan diri ke dalam kobaran api pada waktu jenazah sang raja sedang dibakar dalam upacara pengabenan yang disaksikan oleh publik di areal kuburan. Ritual mesatia ini dilakukan oleh para selir raja sebagai wujud rasa cinta kasih dan setia kepada raja untuk bersama-sama menuju ke alam “dewata”. Akhirnya, sejak Bali ditaklukkan oleh penjajah Belanda; tradisi mesatia tidak boleh digelar lagi karena dipandang menyalahi kodrat sebagai manusia (Crease, dkk., 2006: 38). Dalam hubungan ini, Geertz (1981: 100-101) pernah pula mengadakan studi pada orang Jawa.

Sesuai dengan hasil studinya, Geertz menjelaskan orang Jawa berpandangan bahwa kematian seseorang secara mutlak ditentukan oleh Tuhan. Akan tetapi, mati yang ditempuh dengan cara bunuh diri merupakan suatu kesalahan besar karena mencoba mengambil apa yang selayaknya menjadi takdir Tuhan. Sementara, studi James T. Siegel (1986: 226) melengkapi studi Geertz mengenai pandangan orang Jawa terhadap kematian. Menurut Siegel, orang Jawa berpandangan bahwa kematian seseorang memang sudah ditentukan sebelumnya oleh Tuhan; tetapi siapa pun tidak akan bisa tahu kapan waktu kematiannya tiba.

Baca Juga  Hindari Risiko Stunting, Wahai Calon Ayah dan Ibu
***

Baik, Geertz maupun Siegel dalam studinya lebih menyoroti mengenai pandangan dan sikap orang Jawa terhadap kematian.  Namun demikian, kajian tentang kematian, baik yang dilakukan oleh Geertz (1981: 97-98) maupun Siegel (1986: 257-259) memberikan kontribusi yang sangat besar bagi penelitian ini untuk memahami tentang pandangan orang Jawa terhadap kematian. Geertz dan Siegel menjelaskan bahwa orang Jawa dianjurkan untuk mengikhlaskan kematian anggota keluarganya; dengan berbagai alasan, antara lain: apa yang berasal dari Tuhan pasti kembali kepada-Nya.

Mereka yang meninggal dunia tidak sungguh-sungguh pergi, ia hanya berada di tempat lain. Jika arwahnya melihat anda sedang bersedih, ia juga sedih. Siegel (1986: 261) menambahkan, orang Jawa juga berpandangan kematian membawa kepadanya suatu derajat kehormatan dan menjadi cita-cita dari almarhum yang tidak pernah diraih pada saat lahir dan selama hidupnya. Oleh karena itu, ahli warisnya dapat meminta restu dengan cara trobosan (berjalan melintas) di bawah keranda pada saat pemberangkatan jenazah orang yang telah mati. Bahkan, di batu nisannya diberi gelar Ki atau Nyai, walau bayi sekali pun.  

Bersambung ….

Bagikan
Post a Comment